Senin, 05 Februari 2018

GEREJA KATOLIK AKUI PERCERAIAN?

Sekali peristiwa terjadi bahwa seorang pria katolik yang ditinggal pergi istrinya, menikah lagi dalam gereja dan diberkati pastor. Istrinya pergi karena tidak tahan perlakuan kasar sang suami. Hal ini mengejutkan banyak umat, sehingga muncul pertanyaan apakah Gereja Katolik sudah mengakui perceraian? Terdengar bisik-bisikan liar di antara umat, kalau dia bisa, saya juga bisa nikah lagi donk. Apakah memang demikian?
Salah satu sifat atau ciri pernikahan katolik adalah tak terceraikan. Gereja Katolik menolak adanya perceraian, karena apa yang sudah disatukan Allah, janganlah diceraikan manusia. Hingga kini sifat itu tak terhapuskan. Yang terjadi pada peristiwa di atas adalah bahwa Tribunal Gereja telah memutuskan bahwa perkawinan pertama pria katolik itu tidak sah.
Ada banyak faktor yang menyebabkan suatu perkawinan itu tidak sah. Sayangnya, umat hanya melihat bahwa perkawinan sah itu jika diberkati pastor di gereja. Yang membuat perkawinan tidak sah adalah sesuatu yang ada sebelum pemberkatan oleh pastor, bukan sesuatu sesudah pemberkatan. Jadi, perselingkuhan, KDRT, masalah ekonomi rumah tangga tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan perkawinan yang sudah diberkati tidak sah.
Sesuatu yang ada sebelum pemberkatan sering tidak diketahui oleh umat. Misalnya, seorang wanita diancam jika tidak mau menikah maka ayah ibunya akan dibunuh. Ancaman ini sama sekali tidk diketahui, baik oleh umat maupun pastor, sehingga terjadilah proses pemberkatan. Nah, sekalipun sudah diberkati, pernikahan ini tidak sah. Karena itu, jika suatu saat mereka berpisah, dan diproses di Tribunal Gereja, mereka bisa diberkati lagi di gereja.
by: adrian 

Rabu, 31 Januari 2018

RAPI DI LUAR, KACAU DI DALAM

Suatu hari Sang Guru bercerita, "Seorang bapak mempunyai dua orang putra. Penampilan kedua putranya ini berbeda satu sama lainnya. Putra pertama selalu tampil keren, rapi dan bersih. Kalau keluar dari kamar, bagian bawah bajunya selalu diisi dalam celana. Isi dalam, istilahnya. Tak ketinggalan aroma minyak wangi selalu mengiringi kemana pun dia pergi.
Penampilannya ini bertolak belakang dengan adiknya. Setiap kali keluar dari kamar tak pernah berpenampilan rapi dan bersih. Rambut acak-acakan seperti tak tersentuh sisir. Pakaian itu-itu saja, lusuh dan terlihat kusam. Penampilan ini bukan hanya saat di rumah, tetapi juga ketika ke luar rumah. Jika abangnya selalu diiringi dengan aroma minya wangi, dia diiringi dengan aroma bau badan.
Suatu hari, ketika mereka dua tidak ada di rumah, bapaknya masuk ke kamar mereka masing-masing. Dia buka kamar anaknya yang pertama. Ketika pintu terbuka lebar, sang ayah kaget bukan kepalang menyaksikan situasi kamar anaknya yang pertama itu. Kamar itu bak kapal pecah; sangat berantakan. Kertas, buku, pakaian kotor, puntung rokok dan abu rokok serta perkakas lainnya berserakan di lantai, di atas kasur dan meja kerjanya. Warna dinding, yang semulanya putih, kini terlihat seperti abu-abu.
Ranjang tak tertata rapi. Selimut tidak dilipat dan seprei tak dirapikan. Perlahan dia mendekati lemari pakaian. Segera dia buka pintu lemari. Tiba-tiba saja jatuh setumpuk pakaian. Dia tak tahu apakah itu pakaian kotor atau bersih. Ternyata kondisi dalam lemari tak jauh beda dengan kamar: sangat berantakan. Buru-buru dia masukkan lagi pakaian itu ke dalam lemari.
Sang ayah segera meninggalkan kamar putranya itu, dan berjalan menuju kamar anaknya yang kedua. Sejenak di depan pintu dia berpikir, “Yang penampilan rapi saja sudah begini, bagaimana yang penampilan kacau. Pasti lebih parah.” Tanpa menunggu lama, takut putranya keburu pulang, dia membuka pintu kamar itu.
Ketika pintu terbuka lebar, sang ayah kaget bukan kepalang menyaksikan situasi kamar anaknya yang kedua itu. Kondisi kamar itu bukan sekedar bersih, tetapi juga tertata rapi. Tidak ada sampah berserakkan di lantai. Buku-buku tertata di rak buku dan sebagian di atas meja. Warna dinding masih seperti warna semula; di dinding tertempel gambar hiasan membuat pemandangan kamar jadi indah. Tempat tidurnya pun terlihat rapi.
Cukup lama sang ayah berdiri termangu kagum melihat situasi kamar anaknya yang kedua itu. Kemudian di berjalan menuju lemari pakaian. Perlahan dia buka pintu lemari itu. Sontak aroma wangi menyebar dari dalam ruang lemari. Pakaian tertata rapi berdasarkan jenisnya meski sebagian besar tidak tersentuh setrika. Sang ayah sungguh terkagum-kagum dibuatnya.
Tanpa menunggu lama, segera sang ayah keluar dari kamar. Dia tak habis pikir melihat fenomena anaknya."
Pertanyaan muncul: dari dua anak tersebut, siapakah yang lebih berkenan di hati ayahnya.
Koba, 29 Agustus 2017
by: adrian