Senin, 25 Desember 2017

HALANGAN NIKAH GEREJAWI (3)

Halangan nikah dibuat Gereja bukan sekedar untuk membatasi hak umatnya, tetapi untuk membantu mereka mewujudkan nilai hakiki pernikahan katolik. Beberapa halangan nikah gerejawi sudah dibahas sebelumnya. Kini akan disajikan halangan yang lainnya.
Halangan kelayakan publik. Halangan ini dimaksudkan untuk menghindari skandal publik, melindungi moralitas publik dan kesejahteraan umum, khususnya martabat dan kesucian hidup keluarga. Halangan ini mirip dengan halangan hubungan semenda. Contoh halangan ini adalah: (1) pria kumpul kebo tidak bisa menikah dengan anak dari wanita pasangan kebo-nya, dimana anak itu merupakan hasil dari pernikahan sebelumnya, demikian pula dengan pihak wanitanya; (2) anak dari salah satu pasangan kumpul kebo yang didapat dari pernikahan sebelumnya tidak bisa menikah dengan ‘orangtua’ kebo-nya. Halangan ini bisa berhenti melalui dispensasi dari Ordinaris Wilayah.
Halangan pertalian hukum. Halangan ini dikaitkan dengan soal adopsi karena masalah kelayakan publik. Bagi Gereja katolik anak adopsi harus diperlakukan sama seperti anak kandung. Beberapa hal terkait dengan halangan ini adalah sbb:
1.     Suami dan istri tidak bisa menikah dengan anak adopsinya
2.     Anak adopsi tidai bisa menikah dengan ayah atau ibu dari orang yang mengadopsinya
3.     Bapak dan ibu tidak bisa menikah dengan anak dari anak adopsinya
4.     Bapak dan ibu tidak bisa menikah dengan pasangan dari anak adopsinya
5.     Anak adopsi tidak bisa menikah dengan anak kandung dari mereka yang mengadopsinya
6.     Anak-anak adopsi dari orangtua adopsi yang sama tidak bisa saling menikah
Halangan ini bisa diputus dengan dispensasi dari Ordinaris Wilayah.
by: adrian

Jumat, 22 Desember 2017

MEMAHAMI KARAKTER PARA JIHADIS

Setelah serangan 9/11 di Amerika, seorang ibu Amerika bercerita bahwa putranya yang berusia 23 tahun telah memeluk islam. Dia menikahi seorang muslimah yang belum pernah ia temui sebelumnya dalam sebuah pernikahan. Sekarang mereka telah memiliki seorang bayi. Putra ibu itu ingin pergi ke Afganistan untuk bertempur bersama para Taliban untuk membunuhi tentara Amerika dan mati sebagai martir. Ibu itu juga mengatakan beberapa tahun sebelumnya putranya berkata padanya bahwa setelah islam menguasai Amerika, dia tidak akan ragu lagi untuk memancung kepala ibunya jika perintah untuk membunuh kafir dikumandangkan.
***
Samaira Nazir adalah wanita warga negara Inggris keturunan Pakistan berusia 25 tahun yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Dia ditusuk sampai mati. Tenggorokannya disayat oleh saudara laki-lakinya yang berusia 30 tahun dan saudara sepupunya yang berusia 17 tahun di rumah orangtua Samaira sendiri. Samaira dituduh mempermalukan keluarga karena telah jatuh cinta dengan seorang pemuda Afgan yang dianggap berasal dari tingkat sosial yang lebih rendah.
***
Muhammad Ali al-Ayed, 23 tahun, adalah putra jutawan Saudi yang tinggal di Amerika Serikat. Di saat petang di bulan Agustus 2003, dia memanggil kawannya seorang Yahudi Maroko untuk bertemu. Keduanya minum di sebuah bar sebelum pergi ke apartemen Al-Ayed sekitar tengah malam. Al-Ayed mengambil pisau dan menusuk kawan Yahudinya sampai bagian tubuh kawannya hampir terpisah. Rekan kamar Al-Ayed berkata pada polisi bahwa kedua orang itu “tidak berdebat sebelum akhirnya Al-Ayed membunuh.” Pengacara Ayed mengatakan bahwa pembunuhan itu karena “perbedaan agama”.
***
Mohammad Taheri-azar berusia 25 tahun dan adalah keturunan Iran lulusan University of North Carolina. Suatu hari di bulan Maret 2006, dia menyewa sebuah mobil jeep dan mengendarakannya pelan-pelan ke dalam kampus. Lalu tiba-tiba dia menginjak gas menabrak sekelompok mahasiswa dengan tujuan membunuh sebanyak mungkin orang.
***

Rabu, 20 Desember 2017

INSPIRASI IMAN ORANG KRISTEN KANDHAMAL

Pada 5 Oktober 2017 lalu, sekelompok perempuan mengunjungi daerah Odisha yang terpencil dan miskin, dimana penduduk desa diserang oleh nasionalis Hindu yang mengamuk pada akhir Agustus 2008. Serangan tersebut menyebabkan 100 orang tewas dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Ini merupakan serangan terburuk terhadap orang Kristen dalam sejarah India. Pemimpin wanita katolik terinspirasi oleh iman yang ditunjukkan para korban serangan anti-kristen di Kandhamal, wilayah di negara bagian Odisha di India bagian timur.
Para perempuan tersebut berada di antara 50 pemimpin dari seluruh dunia yang berkumpul di Bhubaneswar, ibukota Odisha, untuk menghadiri sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komisi Wanita Wali Gereja India. Konferensi yang diadakan dari 30 Sept – 4 Okt membahas peran perempuan dalam keluarga.
“Saya diperkuat kembali dalam iman setelah mengunjungi wilayah itu,” kata Rosemary Sahayam dari Madhya Pradesh di India tengah. “Bagaimana keluarga terus hidup dalam iman dan kepercayaan diri bahkan setelah keluarga mereka dibunuh karena iman mereka; benar-benar memberi inspirasi.”
Kekerasan anti-kristen melanda lebih dari 600 desa. Mereka yang tewas termasuk orang cacat dan orangtua, anak-anak dan perempuan. Beberapa perkosaan dilaporkan terjadi, termasuk seorang biarawati katolik. Lebih dari 350 gereja dan 6.500 rumah dijarah dan dibakar selama serangan yang menyebabkan 56.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Serangan anti-kristen didorong oleh tembakan pada 23 Agustus 2008, seorang pemimpin spiritual Hindu, Swami Laxmananda Saraswati dan empat rekannya. Para ekstremis Hindu menyalahkan orang Kristen atas pembunuhan tersebut meskipun Maois mengaku bertanggung jawab atas kematian tersebut.
“Iman yang dengannya mereka bertahan, serangan itu hidup dan aktif,” ujar Uskup Jacob Mar Barnabas dari Keuskupan Gurgaon, ketua konferensi tersebut. “Kami memiliki pengalaman yang sangat kaya tentang bagaimana memproklamirkan iman dengan hanya bersikap setia kepada Tuhan.”
Rose Tete dari Bengal Barat mengatakan bahwa dia tergerak untuk menangis saat janda Kanakarekha Nayak menceriatakan bagaimana dia menjalani hidupnya setelah suaminya Parikit dihajar sampai mati di desa Tiangla. Tete mengungkapkan bahwa  janda tersebut mengatakan kepadanya, “Setiap nafas yang saya ambil hari ini adalah nafas iman kepada Yesus, yang suami saya menjadi saksi lewat hidupnya.”