Sabtu, 10 Juni 2017

KETIKA IMAN DIJUAL DEMI LEMBARAN RUPIAH

Tulisan ini jauh dari niat untuk menjelek-jelekkan agama tertentu. Ini hanyalah ungkapan keprihatinan pada suatu peristiwa. Dari keprihatinan ini lahirlah sebuah refleksi. Refleksi adalah ibarat bercermin. Siapa saja bisa bercermin pada kaca yang sama, karena yang dilihat adalah diri sendiri.
Berawal dari Cerita
Minggu, 19 Maret 2017, pukul 17.45 WIB. Baru beberapa detik meninggalkan rumah umat menuju mobil, yang diparkir di pinggir jalan depan rumah, saya kembali dipanggil. Kebetulan ada seorang ibu, tetangga depan rumah, datang. Setelah tiba di hadapan mereka, mulailah mereka bercerita. Ada kemarahan, kejengkelan dan juga kecemasan dalam cerita mereka.
Inti dari cerita mereka adalah: tentang satu keluarga yang belum lama ini masuk islam. Isterinya orang Maumere dan suaminya dari Kupang. Dua-duanya awalnya katolik. Mereka menikah sekitar bulan Oktober lalu, diberkati oleh pastor paroki. Namun kini mereka sekeluarga (dua anak) sudah masuk islam. Karena menjadi mualaf, mereka selalu mendapat uang (entah dari mana dan dari siapa). Kepada salah satu ibu, yang bercerita itu, dikatakan oleh isteri mualaf itu, bahwa enak jadi islam karena dapat duit gratis.
Mendengar cerita tersebut, saya langsung teringat akan rumor tentang dana mualaf dari Pemda Kabupaten Bangka Tengah. Dana mualaf adalah dana yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir yang memutuskan menjadi islam. Konon katanya, setelah selesai masa kampanye pilkada lalu, di akhir Januari, Bupati Bangka Tengah, yang adalah juga kandidat Gubernur Babel waktu itu, akhirnya mengesahkan dana mualaf itu. Artinya, dana mualaf itu memang ada. Cerita dua ibu di atas seakan membenarkan keberadaan dana mualaf itu.

Rabu, 07 Juni 2017

SEKS DI USIA MUDA BERESIKO PADA KANKER SERVIKS

Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak nomor 2 yang diderita kaum perempuan di Indonesia, setelah kanker payudara. Penyabab utama kanker serviks adalah infeksi HPV (Human Papilloma Virus). Umumnya penyakit kanker serviks ini sedikit sulit dideteksi, karena tidak ada gejala pada pra-kanker serviks.
Pada umumnya perempuan yang terkena kanker serviks menunjukkan sejumlah tanda seperti berdarah saat berhubungan seks dan keputihan yang tidak sembuh-sembuh. Jika dua tanda ini sudah ada, atau setidaknya bila penyakit keputihan sudah mengeluarkan bau tak sedap, adalah sangat baik segera dilakukan screening.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Cancer menyatakan perempuan yang melakukan hubungan seks di usia muda beresiko dua kali lebih besar terserang penyakit kanker serviks. Hubungan seksual pada usia di bawah 17 tahun merangsang tumbuhnya sel kanker pada alat kandungan perempuan, karena pada rentang usia 12 hingga 17 tahun, perubahan sel dalam mulut rahim sedang aktif sekali. Saat sel sedang membelah secra aktif (metaplasi) idealnya tidak terjadi kontaks atau rangsangan apa pun dari luar, termasuk injus (masuknya) benda asing dalam tubuh perempuan. Adanya benda asing, termasuk penis dan sel sperma, akan mengakibatkan perkembangan sel ke arah abnormal. Apalagi kalau sampai terjadi luka yang mengakibatkan kanker mulut rahim (serviks). Kanker serviks menyerang alat kandungan perempuan, berawal dari mulut rahim dan beresiko menyebar ke vagina hingga keluar di permukaan.
Dr. Silvia Francheschi, orang yang memimpin studi tersebut, mengatakan perempuan yang melakukan hubungan seks di awal usia 20 tahun beresiko terserang kanker serviks dibanding dengan mereka yang melakukannya di usia 25 tahun.
Di Inggris, perempuan berusia 25 tahun hingga 40 tahun melakukan sedikitnya 3 kali pengecekan untuk mengetahui ada tidaknya kanker atau virus lain yang hinggap di tubuhnya. Sementara perempuan berusia 50 hingga 64 tahun melakukan pengecekan sebanyak 5 kali dalam satu tahun.
Di sisi lain, Dr.Lesley Walker mengatakan bahwa hasil penelitian Dr. Francheschi itu seharusnya menyadarkan banyak pihak akan pentingnya vaksinasi. Vaksinasi untuk mencegah HPV itu seharusnya diberikan sejak usia dini. “Bahkan jauh sebelum para perempuan melakukan hubungan seks, terutama bagi perempuan yang tinggal di daerah rawan,” ungkap Lesley. Ini tentu saja untuk mencegah munculnya kanker serviks.

Akan tetapi, vaksinasi akan berdampak pada persoalan moralitas. Vaksinasi seakan melegalkan anak-anak muda untuk tetap melakukan hubungan seks pra-nikah. Seharusnya, hasil penelitian ini menumbuhkan kesadaran di kalangan kaum muda, khususnya perempuan, untuk tidak melakukan hubungan seks di usia muda serta tidak menikah di usia muda.
baca juga tulisan lain:

Senin, 05 Juni 2017

PAUS FRANSISKUS: GOSIP, MUSUH YANG MERUSAK KOMUNITAS KITA

Dosa yang seringkali dilakukan oleh umat dan kelompok kristen lainnya adalah mengeluarkan kata-kata kotor, saling menjelekkan dan menyerang satu sama lain dari belakang, yang tidak hanya memecah-belah komunitas tapi juga membuat orang yang mencari Tuhan menjauhkan diri, demikian ungkap Paus Fransiskus. “Ini benar-benar membuat saya sedih. Seolah-olah kita melemparkan batu kepada satu sama lain. Dan setan sangat senang melihatnya. Ini pesta bagi setan,” kata Paus yang serba pertama ini dalam kotbah misa sore di salah satu paroki di pinggiran kota Roma, 21 Mei 2017.
Paus Fransiskus mengingatkan umat betapa pentingnya mereka menjaga bahasa mereka. Sebagai orang yang dibaptis, setiap orang kristiani diberi karunia oleh Roh Kudus. “Sungguh menyedihkan melihat orang-orang yang menyebut dirinya kristen tapi mereka dipenuhi oleh kepahitan atau amarah,” tutur Paus Fransiskus.
Setan tahu bagaimana melemahkan upaya manusia untuk melayani Tuhan dan menjaga kehadiran Roh Kudus dalam diri mereka. “Setan akan melakukan apa saja agar kata-kata yang kita ucapkan tidak baik dan tidak menghormati,” tegas Paus Fransiskus.
“Komunitas kristiani yang tidak menjaga Roh Kudus dengan kebaikan dan rasa saling menghormati seperti ular panjang yang memiliki lidah panjang yang digambarkan dalam patung sebagai makhluk yang dihancurkan kepalanya di bawah kaki Maria,” lanjut Paus Fransiskus.
Paus yang mengungkapkan korupsi di Gereja juga mengatakan bahwa seorang imam pernah memberitahu dia tentang beberapa umat yang digambarkan memiliki lidah sangat panjang untuk bergosip ria, bahkan saking panjangnya, untuk menerima komuni pun mereka menjulurkan lidahnya dari pintu masuk hingga altar.
“Ini musuh yang merusak komunitas kita, gosip,” kata Paus Fransiskus, dan menambahkan bahwa gosip bahkan menjadi dosa paling biasa dalam komunitas-komunitas kristiani.
sumber: UCAN Indonesia