Jumat, 19 Mei 2017

UMAT ISLAM HARUS LIHAT MASALAH PENODAAN AGAMA SECARA TOTAL

Penodaan agama menjadi berita panas di Indonesia jelang Pilkada serentak 2017. Aktornya adalah Basuki Tjahaya Purnama, atau yang biasa disapa Ahok. Kejadian ini terjadi pada 27 September 2016 di Kepulauan Seribu. Pada waktu itu, Ahok mengunjungi warga Kepulauan Seribu untuk menjelaskan program kerja sama Pemerintah Provinsi DKI dan Sekolah Tinggi Perikanan. Dalam pidato penjelasannya itu, keseliplah pernyataan yang dinilai oleh MUI sebagai bentuk penodaan agama.
Bunyi pernyataannya seperti ini, “Jadi, jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak pilih saya. Dibohongin pakai surat al Maidah ayat 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu.” Atas pernyataannya ini, MUI memfatwa Ahok melakukan penodaan agama dan ulama.
Untuk lebih jelasnya, kita akan kutip surat al Maidah yang dimaksud. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS al Maidah: 51)
Teks Al Quran ini secara tegas melarang umat islam memilih orang non muslim sebagai pemimpin. Orang-orang yang beriman dalam teks tersebut merujuk pada umat islam, karena umat lain dilabeli sebagai kafir. Teks ini sering digunakan oleh tokoh-tokoh islam, baik tokoh politik maupun agama, untuk melawan calon pemimpin non muslim. Ahok sendiri sudah mengalaminya ketika pertama kali terjun dalam pilkada di Belitung Timur tahun 2003.
Kenapa pernyataan Ahok dinilai melecehkan agama islam dan ulama? Ketua MUI, Maruf Amin menjelaskan, penghinaan itu karena Ahok menyebut kandungan dari surah al Maidah itu sebuah kebohongan. Karena yang menyebarkan surah tersebut adalah ulama, maka dapat juga dikatakan bahwa ulama juga melakukan pembohongan. Dengan kata lain, pernyataan Ahok ditafsirkan bahwa surah al Maidah telah berbohong, atau surah tersebut adalah kebohongan.

Senin, 15 Mei 2017

PAUS FRANSISKUS: FANATISME YANG BOLEH DIMILIKI ADALAH BERBAGI

Pada akhir bulan April 2017, Paus Fransiskus mengadakan kunjungan ke Mesir. Banyak orang menilai kunjungan ini terbilang nekad, mengingat beberapa minggu sebelumnya, beberapa gereja kristen di Mesir diserang bom bunuh diri oleh para teroris islam. Namun, seakan mengabaikan keselamatan dirinya, Paus Fransiskus tetap mengunjungi negeri itu.
Pada hari terakhir lawatannya Paus Fransiskus menyatakan bahwa satu-satunya fanatisme yang dikehendaki Tuhan adalah mencintai dan membantu orang lain secara fanatik. “Iman sejati membuat kita bermurah hati, menjadi lebih memaafkan, lebih jujur dan lebih manusia. Iman sesungguhnya menggerakkan hati kita untuk mencintai tanpa menghitung balasan,” kata Paus Fransiskus.
Bapa Paus merayakan misa di lapangan terbuka pada 29 April di Stadion Pertahanan Udara Kairo. Ia memimpin misa bersama Pemimpin Katolik Koptik Patriakh Ibrahim Isaac Sedrak dari Alexandria dan para pemimpin ritus katolik lainnya di Mesir.
“Seberapa seringkah kita melumpuhkan diri kita sendiri dengan menolak pemikiran kita sendiri tentang Tuhan, yang diciptakan dalam gambar dan rupa manusia,” ujar Paus. “Seberapa sering kita kehilangan harapan dengan menolak untuk percaya bahwa kemahakuasaan Tuhan bukan suatu kekuasaan dan kekuatan, melainkan cinta, pengampunan dan kehidupan.”

Jumat, 12 Mei 2017

SURAT TERBUKA BUAT AHOK

Dear pak Ahok,
Terlebih dahulu saya menghaturkan belasungkawa atas matinya nurani dan keadilan. Ketidakadilan dan matinya nurani menghantar Anda ke balik jeruji. Semua ini karena dua alasan, yaitu agama dan politik. Memang susah kalau menghadapi agama politik dan politik agama. Ini seperti anak domba menghadapi kawanan serigala lapar. Untuk itu, saya merasa sedih dan turut prihatin atas nasib yang Anda hadapi.
Banyak orang sedih. Bukan hanya di Jakarta saja, melainkan di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Banyak orang menangis melihat Anda masuk ke dalam penjara. Dengan berderai air mata, mereka menyanyikan lagu kebangsaan. Banyak orang tak menyangka: manusia sebaik Anda dijebloskan ke dalam penjara. Anda seakan disamakan dengan para penjahat, baik itu koruptor maupun teroris yang membunuh sesama anak bangsa dengan mengatas-namakan agama islam.
Akan tetapi, tak sedikit juga yang tertawa. Tak sedikit orang merasa senang, seakan syahwat kebenciannya sudah tersalurkan. Tentulah Anda tahu siapa-siapa mereka itu. Mereka adalah tokoh agama dan politik. Jadi, semakin jelas kalau agama politik dan politik agama yang menghantar Anda ke balik jeruji penjara. Agama dan politik telah bersenggama hingga mencapai puncak orgasmenya. Karena itu, mereka puas lantas tertawa bahagia.
Dear pak Ahok,
Anda selalu mengatakan bahwa negara ini berdasarkan konstitusi. Hukum harus menjadi panglima. Dan Anda menyatakan diri Anda selalu taat pada konstitusi. Hal ini sudah Anda tunjukkan. Ketaatan pada konstitusi jugalah yang menghantar Anda masuk dalam penjara. Namun, Anda masuk bukan sebagai orang yang salah. Anda ke penjara bukan sebagai orang yang kalah, melainkan orang yang menang. Dengan lapang dada Anda mengajak para pendukung Anda untuk berbesar hati menerima keputusan hakim.
Melihat sikap Anda, saya teringat akan nubuat nabi Yesaya, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” (Yesaya 53: 7). Nubuat Yesaya memang ditujukan untuk Yesus, yang Anda imani sebagai Tuhan. Namun nubuat itu seakan relevan saat ini untuk Anda. Bukankah para pengikut Yesus harus juga menderita untuk mencapai kemuliaannya? Anda tidak sendirian.
Sungguh saya sangat salut akan kebesaran jiwa Anda. Sikap Anda ini seharusnya membuat malu para pemuka agama dan tokoh politik yang menghantar Anda ke balik penjara. Tapi, apakah mereka merasa malu? Maklum, banyak sesama kita sudah tidak punya rasa malu. Mereka merasa senang dan bangga karena menang dalam membela agama dan politiknya, tak peduli benar atau salah. Karena itu, sudah bisa dipastikan mereka itu tidak akan merasa malu.
Dear pak Ahok,