Selasa, 27 September 2016

CITA-CITA WARNI: Sebuah Cerpen

Setiap manusia pasti mempunyai cita-cita. Sadar tak sadar, tak jarang kehidupan dibangun dari sebuah cita-cita. Kehidupan sekarang ini ada bukan terjadi begitu saja, melainkan melalui proses. Dan proses itu berawal dari cita-cita. Cita-cita menjadi motor pendorong manusia untuk membangun kehidupan sesuai dengan keinginannya.
Karena itu, tak heran kalau Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia, pernah berujar kepada kaum muda Indonesia untuk “menggantungkan cita-citamu setinggi langit!”. Bagi Bung Karno, cita-cita yang tinggi akan membuat manusia berusaha keras meraihnya. Di sini bukan soal tinggi-nya cita-cita, melainkan proses-nya yang hendak ditekankan. Karena tanpa cita-cita, manusia seakan bergerak tanpa arah yang jelas dan pasti.
Cerpen “Cita-cita Warni” membahas soal cita-cita. Sejak kecil cita-cita memang harus sudah dipupuk, meski tetap harus disadari bahwa suatu saat cita-cita itu bakal berubah. “Kadang cita-cita pada masa kecil pun tidak terlaksana. Berubah setelah dewasa. Aku dulu sebenarnya bercita-cita jadi tentara, tapi kini…, cuma puas jadi pekerja pabrik.” Demikian sepenggal dialog dalam cerpen ini.
Akan tetapi, yang menarik dari cerpen ini bukan soal pembicaraan cita-citanya, melainkan persoalan kehidupan manusia. Dengan kata lain, lewat pembahasan cita-cita, cerpen ini mengungkap sisi-sisi gelap dan terang kehidupan manusia. Lebih lanjut tentang cerpen ini, silahkan baca di sini: Budak Bangka: (C E R P E N) Cita-cita Warni

Senin, 26 September 2016

Orang Kudus 26 September: St. Delfina Glandieves

BEATA DELFINA GLANDIEVES, PENGAKU IMAN
Delfina Glandieves lahir pada sekitar tahun 1284 di Provence, Perancis. Ia adalah puteri dari keluarga bangsawan Puimichel. Sejak masih kecil Delfina kehilangan kedua orangtuanya. Ia diasuh oleh bibinya, abdis biara St. Catherine di Sorbo. Ketika berusia 14 tahun Delfina menikah dengan Santo Elzear. Keduanya mempraktekkan hidup dengan mempertahankan keperawanan mereka.
Delfina  dan Elzear bergabung dengan Ordo Ketiga St. Fransiskus. Ketika Elzear bertugas di istana Kerajaan Naples, Delfina ikut bersamanya dan bersahabat dengan Ratu Sanchia. Setelah kematian Elzear Delfina terus tinggal di istana Naples mendampingi Ratu Sanchia.
Pada saat Raja Robert, suami Ratu Sanchia, meninggal dunia, Ratu memilih menjadi biarawati Klaris, dan Delfina ikut menemaninya sampai kematian Ratu Sanchia. Delfina menjual semua hartanya dan membagikannya kepada orang miskin. Setelah itu ia pergi mengasingkan diri dari Naples ke Cabrieres, kemudian ke Apt, dimana suaminya dimakamkan.
Delfina Glandieves meninggal dunia pada 26 November 1360 di Apt, Perancis. Jenasahnya dimakamkan di samping suaminya. Pada sekitar tahun 1694 ia dibeatifikasi oleh Paus Innosensius XII.
Baca juga orang kudus hari ini:

Sabtu, 24 September 2016

CARA SBY PERTAHANKAN DINASTI YUDHOYONO DI DEMOKRAT

Pilkada DKI 2017 mempunyai daya magnetnya sendiri. Hampir semua mata penjuru Indonesia tertuju ke Jakarta. Karena itu, wajar bila seorang teman berkomentar bahwa pemilihan menuju DKI-1 tak jauh beda dengan pilpres lalu. Hal ini dimaklumi mengingat DKI Jakarta merupakan barometer politik Indonesia.
Pusat episentrum perpolitikan pilkada DKI adalah sosok petahana, yaitu Basuki Tjahaya Purnama, atau yang biasa disapa Ahok. Sejak mengajukan diri kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017 – 2022, mulai dari calon independen hingga calon partai, ada banyak partai dan perseorangan berusaha untuk menjegal niat Ahok. Partai-partai, minus 3 partai pengusung awal Ahok (Nasdem, Hanura dan Golkar) membentuk koalisi kekeluargaan dengan prinsip: asal bukan Ahok. Tak kalah menarik juga kemunculan beberapa tokoh, mulai dari Yusril hingga Rizal Ramli, yang juga berprinsip sama seperti partai.
Akhirnya semua kita mengetahui akhir dari drama percalonan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Koalisi Kekeluargaan pecah (sama seperti koalisi permanen pada masa pilpres 2014 lalu), yang berawal dari masuknya PDIP ke kubu petahana. Perpecahan ini memunculkan dua poros, yaitu poros Yudhoyono atau biasa disebut poros Cikeas, dan poros Prabowo. Sementara itu, beberapa tokoh yang cukup santer namanya, seperti Yusril, Rizal Ramli, Anis Baswedan, Hasnaeni Moein, dll, bak hilang ditelan bumi. Metro TV, dalam acara “Selamat Pagi Indonesia” Jumat (23/09) menyebut mereka sebagai “Layu Sebelum Berkembang”.
Sangat menarik untuk mencermati pilihan poros Cikeas, yang terdiri dari Partai Demokrat, PAN, PKB dan PPP. Setelah melalui rapat panjang, Kamis (22/09) malam poros ini mendeklarasikan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI untuk melawan pasangan calon Ahok dan Djarot, yang Kamis kemarin sudah mendaftar di KPU. Sekedar diketahui Agus Harimurti adalah anak kandung SBY, yang saat ini masih aktif di ketentaraan dengan pangkal mayor infanteri.
Banyak reaksi dan tanggapan dari pengamat, baik senior maupun yunior. Ada pengamat menilai langkah poros Cikeas mengusung Agus Harimurti sebagai langkah antara bingung dan terpaksa. Ada juga yang mempertanyakan apakah ini merupakan langkah berani atau bunuh diri. Umumnya mereka terkejut atau kaget atas terpilihnya Agus Harimurti. Karena itu, Kosmas Lawa Bagho membuat tulisan di kompasiana dengan judul “Poros Cikeas Membuat Kejutan yang Mengejutkan”. Semua memberi penilaian negatif terhadap terpilihnya Agus Harmurti sebagai calon gubernur.