Rabu, 24 Februari 2016

Bolehkah Umat Menerima Abu Bukan pada Hari Rabu Abu?

RABU ABUNYA HARI MINGGU
Untuk menyambut Hari Raya Paskah, umat katolik diajak untuk mempersiapkan diri dalam satu masa yang dikenal dengan masa prapaskah. Pada masa ini umat diajak untuk melakukan pantang dan puasa, tobat dan amal kasih. Masa prapaskah diawali pada hari Rabu Abu. Pada hari ini umat akan berpuasa dan menerima abu.
Namun dalam situasi tertentu, ada umat tidak bisa menerima abu pada hari Rabu Abu. Sebagai contoh, tahun 2016 ini, ketika Pulau Bangka dilanda banjir sehingga banyak akses jalan raya rusak, beberapa imam tak bisa menjangkau umat di beberapa stasi untuk merayakan misa Rabu Abu. Ada umat bertanya, “Bisakah kami menerima abu pada hari lain selain hari Rabu Abu?”
Sebenarnya peristiwa ini (umat tidak bisa menerima abu pada hari Rabu Abu) bukan hanya terjadi pada saat bencana banjir saja. Umat di beberapa stasi di Paroki Tanjung Balai Karimun dan Ujung Beting, karena keterbatasan tenaga imam, sementara medan pastoralnya luas, tidak dapat menerima abu pada hari Rabu Abu. Tidak ada misa Rabu Abu pada hari Rabu. Mereka baru menerima abu pada hari-hari berikutnya ketika pastor mengunjungi mereka.
Lantas apakah bisa dikatakan umat dapat menerima abu pada hari lain, misalnya hari Minggu. Jadi, hari Rabu Abunya hari Minggu. Ini sama seperti sebuah pengumuman: besok pagi misa sore. Terkesan lucu. Namun masalah ini bukan semacam stand up comedy.

Selasa, 23 Februari 2016

Asah Otak: Wajah Tersembunyi

ADA BERAPA WAJAH DALAM SATU GAMBAR
Berikut ini akan disajikan beberapa gambar dengan tema wajah. Di dalam gambar ini ada tersembunyi wajah manusia. Dapatkan kamu menemukan gambar-gambar wajah pada setiap gambar ini?
Sekilas gambar di atas ini adalah pohon kering dengan ranting-rantingnya. Akan tetapi, jika diperhatikan baik-baik, terdapat 10 wajah. Dapatkah kamu temukan 10 wajah itu?
Sekilas gambar di atas ini adalah dua pengendara kuda di hutan berbatu. Akan tetapi, jika dilihat baik-baik, ada setidaknya 11 gambar wajah di sana. Dapatkan kamu menemukannya?

Senin, 22 Februari 2016

Apa Motivasi Lawan-lawan Ahok di Pilgub 2017?

MENCERMATI LAWAN-LAWAN AHOK DI PILKADA DKI
Pemilihan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta masih setahun lagi (diadakan pada Februari 2017). Akan tetapi aroma persaingan mulai terasa. Berawal dari Basuki Tjahaya Purnama, yang biasa disapa Ahok, menyatakan siap memimpin Jakarta untuk periode kedua, saat ini bermunculan nama-nama yang menyatakan siap melawan Ahok. Ditilik dari nama-namanya, para lawan Ahok ini memiliki latar belakang yang beragam, mulai artis hingga politisi.
Di antara nama-nama yang sudah menyatakan siap “tempur” melawan Ahok ada Ahmad Dhani, yang diusung oleh PKB dan segelintir ulama NU. Ada pengusaha muda Sandiaga Uno, yang diusung oleh Partai Gerindra. Selain dua nama ini, masih ada nama Yusril Ihza Mahendra, Eko Patrio yang berpasangan dengan Desi Ratnasari diusung oleh PAN, dan Adhyaksa Dault, yang diusung oleh para ulama islam, dan masih banyak nama lagi.
Memang mereka mau mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Berbagai cara sudah ditunjuki. Adalah hak setiap orang mencalonkan diri menjadi gubernur, kecuali dilarang hukum. Akan tetapi, warga Jakarta perlu mencermati niat dan motivasi para penantang Ahok ini untuk menjadi pemimpin. Benarkah mereka sungguh-sungguh ingin menjadi Gubernur DKI Jakarta? Menjadi gubernur berarti siap melayani warga Jakarta dengan permasalahannya, bukan hanya sekedar berkuasa. Nah, apakah mereka siap?
Secara pribadi saya meragukan motivasi mereka. Mulai dari Ahmad Dhani, Yusril Adhyaksa Dault hingga yang lainnya tidaklah memiliki motivasi murni untuk menjadi Gubernur Ibukota Negara Indonesia. Terlihat jelas bahwa motivasi dasar mereka adalah untuk mengalahkan Ahok. Mengapa mereka begitu bernafsu mengalahkan Ahok? Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan di sini.