Minggu, 10 Januari 2016

Orang Kudus 10 Januari: St. Gregorius Nyssa

SANTO GREGORIUS NYSSA, USKUP & PUJANGGA GEREJA
Gregorius lahir pada sekitar tahun 335 di Caesarea, Cappadocia. Ia adalah putera dari Basilius Tua dan Emmelia. Gregorius adalah juga cucu dari Santa Makrina tua, dan saudara dari Santa Makrina muda, Santo Basilius Agung dan Petrus Sebastea.
Gregorius memperoleh pendidikan dari Santo Basilius Agung. Kemudian hari ia pergi belajar di Athena, Yunani, dan terpengaruh oleh karya-karya Origenes dan Plato. Ia mempelajari dan ahli dalam bidang retorika. Gregorius menikah dengan Theodosia sebelum memutuskan untuk mengikuti jejak saudara-saudaranya yang mengabdikan hidup mereka bagi Allah.
Gregorius ditahbiskan sebagai imam dan kemudian dipilih sebagai Uskup Nyssa. Sebagai uskup, ia pernah difitnah sampai ia terpaksa meninggalkan takhta keuskupannya karena diturunkan melalui sebuah sinode pada tahun 376, tetapi dua tahun kemudian ia kembali dengan disambut oleh seluruh umatnya. Gregorius adalah seorang pembela dogma Tritunggal Mahakudus, dan melakukan banyak perlawanan baik terhadap ajaran-ajaran sesat yang banyak berkembang pada masa itu, terutama arianisme.
Gregorius banyak menghadiri sinode-sinode dan juga Konsili Konstantinopel pada tahun 381. Setelah konsili ia pergi ke daerah Transjordan sampai Yerusalem, dan dalam perjalanannya ia terus membela dogma Tritunggal. Gregorius Nyssa meninggal dunia tidak lama setelah menghadiri sinode Konstantinopel pada tahun 394.
Baca juga orang kudus hari ini:

Orang Kudus 10 Januari: St. Gulielmus Bituricensis

SANTO GULIELMUS BITURICENSIS, USKUP & PENGAKU IMAN
Gulielmus Bituricensis lahir pada 19 Oktober 1155 di Nevers, Perancis. Ia adalah putera dari Baldwin, yang adalah bangsawan di Nevers. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan dari pamannya, Petrus si Petapa, Diakon Agung Soissons. Pekerjaan yang penuh kekudusan selalu menarik perhatiannya.
Gulielmus meneruskan pendidikannya sampai ia menjadi imam dan kemudian kanon di Soissons dan Paris. Gulielmus kemudian memutuskan untuk hidup membiara, pertama-tama dengan menjadi biarawan di Ordo Grandmont, tetapi kemudian ia memutuskan untuk bergabung dengan Ordo Cistersian di Pontigny. Tidak lama kemudian Gulielmus terpilih sebagai Prior di Biara Pontigny, dan kemudian menjadi abbas di Biara Fountaine-Jean, lalu di Chaalis pada tahun 1187.
Setelah kematian Henri de Sully, Uskup Agung Bourges (Latin: Bituricensis), Gulielmus terpilih menggantikannya pada 23 November 1200. Ia terpaksa menerima jabatan ini karena ketaatannya kepada Paus dan pemimpinnya di Citeaux, sebagai uskup, Gulielmus melakukan mati raga dua kali lipat dari apa yang selalu ia lakukan.
Gulielmus selalu menggunakan pakaian kasar di balik jubahnya, dan tidak pernah menambah pakaian yang ia kenakan di musim dingin, atau menguranginya di musim panas. Ia juga tidak menyantap daging, walaupun selalu ada daging di meja makannya. Ia selalu membaginya dengan orang asing. Selain itu semua, Gulielmus aktif merawat orang miskin, sakit dan para tahanan. Gulielmus juga menobatkan banyak orang yang terpengaruh ajaran sesat Albigensianisme.
Gulielmus Bituricensis meninggal dunia pada 10 Januari 1209 di Bourges, Perancis. Pada 17 Mei 1217 ia dikanonisasi oleh Paus Honorius III
Baca juga orang kudus hari ini:

Sabtu, 09 Januari 2016

Bagaimana Sikap Umat Islam terhadap Umat non Islam?

SIKAP ORANG ISLAM TERHADAP KAFIR
Pada tanggal 24 September 2015, pukul 16: 12, Gunawan Budi Utomo memposting tulisan, yang ada di situs Islam Toleran, di grup facebook AHOK 4 DKI 1. Judul tulisan itu, “Fantastis! Gubernur yang Suka Diteriaki Kafir oleh FPI Ini Berkurban 30 Ekor Sapi”. Tulisan ini mau mengatakan tentang Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, atau yang biasa disapa Ahok, yang menyumbang 30 ekor sapi pada hari raya Idul Adha.
Dari postingan ini muncul berbagai tanggapan yang bernada pro dan kontra. Dari sini orang dapat menarik satu kesimpulan bagaimana orang islam menyikapi orang non muslim, yang notabene adalah kafir. Dari sekian banyak postingan, kami akan mengambil postingan dari Lina AR Nasution, yang begitu banyak mengemukakan pendasaran biblis sikap umat islam terhadap orang non islam.
Pada pukul 18: 23, masih tanggal yang sama dengan postingan Gunawan Budi Utomo, Lina memberikan dasar-dasar Al-Quran, yang dapat menjadi dasar sikap orang islam terhadap orang kafir. Intinya adalah muslim haram memilih pemimpin kafir
1.    Al-Quran melarang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin
QS Ali ‘Imraan: 28, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (Pemimpin/Pelindung), dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”
QS An-Nisaa’: 144, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (Pemimpin/Pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”
QS Al-Maaidah: 57, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman
2.    Al-Quran melarang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin walau kerabat keluarga sendiri.