Kamis, 01 Oktober 2015

Perangkat Elektronik Siap Mengancam Kita

SAMPAH ELEKTRONIK MAU DIBAWA KEMANA?
Mari buat daftar perangkat elektronik yang kita gunakan sehari-hari. Ponsel, komputer tablet, komputer, laptop, televisi, alat pemutar musik, kamera, kulkas, kipas angin, mesin cuci, microwave, penyejuk udara, dispenser, setrika, blender. Betapa banyak. Itu pun belum semuanya.
Hidup dengan dikelilingi perangkat elektronik merupakan keniscayaan bagi manusia modern. Jika tidak, tentu saja banyak kegiatan akan terhambat, bahkan kita barangkali tak bisa belajar, bekerja atau bermain. Kita sudah begitu tergantung pada perangkat elektronik ini. Namun, yang menjadi masalah adalah saat ini kita kerap mengonsumsinya tanpa kesadaran penuh. Kita menjadi begitu konsumtif.
Data US Cencus Bureau pada Januari 2014 mengungkapkan, jumlah ponsel yang digunakan masyarakat Indonesia sebanyak 281 juta. Padahal penduduk negeri ini hanya sekitar 251 juta jiwa. Jika anak anak bayi pun sudah memakai ponsel, maka masih ada sisa 30 juta ponsel. Artinya, ada 30 juta orang Indonesia yang memiliki 2 ponsel. Banyak orang yang memiliki lebih dari satu ponsel untuk berkomunikasi maupun mengakses informasi. Ketika ponsel rusak pun, dengan ringan kita menggantikannya dengan yang baru.
Rantai perjalanan perangkat elektronik tak berhenti dari produsen, distributor lalu konsumen. Sebagai pengguna, kita patut bertanya, kemana barang-barang elektronik yang sudah tidak lagi kita pakai berakhir?
Berdasarkan survei yang dilakukan Dinas Kebersihan DKI Jakarta dan organisasi nirlaba Waste4Change, 55 persen penduduk Jakarta tidak tahu kemana sampahnya dibawa. Namun jawaban atas pertanyaan itu sendiri pun sebenarnya tak menggembirakan. Indonesia belum punya pusat pengelolaan sampah elektronik. Sebagian besar sampah ini masih tertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Ada juga yang menumpuk di kamar. Sebagian kecilnya dikelola di tempat pemisahan sampah elektronik, yang ada di Pulau Jawa dan Batam. Komponen yang masih bisa digunakan, antara lain plastik dan tembaga, dipisahkan lantas diekspor ke Singapura untuk didaur ulang.
Sampah elektronik yang tidak terkelola dengan baik menimbulkan masalah. Komponen-komponennya mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Circuit board komputer misalnya, mengandung logam-logam berat seperti timah, krom, besi, timbal, perak dan tembaga. Komponen di dalam televisi dan monitor komputer bekas pun mengandung timah, cadmium dan merkuri. Limbah-limbah ini, jika tidak ditangani dengan benar, menjadi polutan bagi air, tanah dan udara. Ini juga akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan orang-orang yang ada di sekitarnya.
sumber: KOMPAS, 7 Agustus 2015, hlm 37

Renungan Pesta St. Theresia Kanak-kanak Yesus

Renungan Pesta St. Theresia Kanak-kanak Yesus
Bac I  1Kor 12: 31 – 13: 13; Injil                   Mat 18: 1 – 4;

Hari ini Gereja Semesta mengajak kita merayakan pesta Santa Theresia dari kanak-kanak Yesus. Tema-tema bacaan liturgi hari ini mencoba menjelaskan sosok orang kudus ini. Dalam Injil Tuhan Yesus menyampaikan sebuah pengajaran bahwa sikap seperti anak kecil merupakan tanda orang terbesar dalam Kerajaan Allah. Sikap seperti anak kecil inilah yang dihidupi oleh Santa Theresia. Dalam kehidupannya Santa Theresia tidak hanya menampilkan sikap seperti anak kecil, yang bergantung pada Allah, melainkan juga sikap rendah hati.
Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Surat Paulus yang pertama kepada Jemaat di Korintus, Paulus menyampaikan refleksinya atas tiga keutamaan Injil, yaitu iman, harap dan kasih. Bagi Paulus kasih merupakan yang terbesar di antara ketiganya. Dan Paulus mengajak jemaat untuk menghayati kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kasih ini juga yang dihidupi Santa Theresia. Dalam kehidupannya, Santa Theresia senantiasa mengungkapkan kasihnya yang murni kepada Tuhan Yesus. Selain terhadap Yesus, Santa Theresia juga menyatakan kasihnya kepada orang lain, teristimewa kepada sesama rekan sebiara serta para misionaris, sekalipun dia sendiri tak pernah bertemu dengan mereka.
Merayakan pesta orang kudus pertama-tama kita diajak untuk mengetahui riwayat kehidupan mereka. Selain itu, kita diajak juga untuk meneladani semangat hidup mereka. Hari ini, kita ditawarkan teladan hidup Santa Theresia. Kita mengetahui bahwa Santa Theresia telah menghayati pesan sabda Tuhan, seperti yang kita dengar hari ini, dalam hidupnya. Oleh karena itu, kita juga hendaknya mengikuti teladannya, khususnya dalam bersikap rendah hati dan hidup dalam semangat kasih.***

by: adrian

Rabu, 30 September 2015

Transfigurasi Yesus: Di Tabor atau Hermon

DIMANA PERISTIWA TRANFIGURASI TERJADI
Orang Kristen tentu sudah tahu peristiwa Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya atau dimuliakan di atas gunung. Peristiwa itu dikenal juga dengan istilah transfigurasi. Gereja katolik memasukkan peristiwa tersebut ke dalam kalender liturginya sebagai hari pesta (jatuh pada 6 Agustus). Sebagai sebuah pesta liturgi, Gereja Timur telah jauh lebih dahulu melakukannya. Gereja Barat baru dimulai pada tahun 1457, sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Pasukan Kristen atas tentara Turki di Belgrado.
Gambaran kejadian peristiwa tersebut hanya dapat dibaca dalam Injil Sinoptik, yaitu Matius 17: 1 – 8; Markus 9: 2 – 8 dan Lukas 9: 28 – 36. Dalam peristiwa itu Tuhan Yesus, yang pakaian-Nya berkilau-kilau, tampil berdiskusi dengan Nabi Musa dan Nabi Elia. Petrus yang merasa bahagia, ingin mendirikan tiga tenda di tempat itu.
Sangat menarik kalau peristiwa ini dikaitkan dengan peristiwa sebelumnya, yaitu pengakuan Petrus (Mat 16: 13 – 20; Mrk 8: 27 – 30 dan Luk 9: 18 – 21). Peristiwa transfigurasi ditempatkan setelah pengakuan Petrus bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Peristiwa transfigurasi seakan mau menegaskan kembali jawaban Petrus tersebut, karena selain menampakkan kemuliaan dan berbicara dengan dua Nabi Besar bangsa Israel, muncul juga penyataan “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”
Akan tetapi menjadi persoalan ketika orang bertanya dimana lokasi persis peristiwa itu terjadi, di gunung Tabor atau Gunung Hermon. Kitab Suci sendiri tidak menyebutkan secara persis tempat kejadian itu. Ketiga Injil Sinoptik hanya menyebutkan bahwa Tuhan Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung (Markus dan Matius memberi tekanan pada yang tinggi). Jadi, hanya berhenti sampai di gunung saja, tanpa menyebut nama gunungnya.
Dalam pengertian biblis, ‘gunung’ sebenarnya merujuk pada apa yang kita pahami sebagai bukit. Ada terdapat beberapa bukit di Israel. Namun yang cukup penting adalah Tabor dan Hermon. Menjadi pertanyaannya, apakah peristiwa Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya itu terjadi di Tabor atau Hermon? Dapat dipastikan bahwa hal ini masih menjadi sebuah misteri.
Namun, sejak abad IV, orang Kristen berpendapat bahwa kejadian itu terjadi di Gunung Tabor. Ada beberapa alasan yang mendukungnya. Pertama, bentuk Gunung Tabor yang rapi memberikan suatu aura alami yang khas, yang menjadikannya suatu tempat yang dengan mudah dianggap sebagai gunung suci. Berbeda dengan banyak gunung lainnya, gunung ini dapat dengan mudah dicapai sehingga memudahkan orang untuk membayangkan peristiwa transfigurasi.