Selasa, 10 Maret 2015

(Inspirasi Hidup) Tentang Rangkap Jabatan

RANGKAP JABATAN: ANTARA KETIDAKPERCAYAAN DAN SERAKAH
Rangkap jabatan merupakan masalah yang kerap muncul. Dalam dunia politik, masalah ini sering dilontarkan. Ada begitu banyak kritik yang dialamatkan kepada beberapa pejabat yang memiliki jabatan rangkap, entah itu dua, tiga atau lebih. Karena itu, mengawali pemerintahannya, Presiden Jokowi membuat pembaharuan. Jokowi ingin menghilangkan rangkap jabatan bagi bawahannya. Karena itu, kepada mereka yang menerima jabatan menteri diminta untuk mundur dari jabatan politik.

Jokowi beralasan melarang bawahannya memiliki jabatan rangkap. Salah satunya adalah konflik kepentingan. Miftah Thoha, dalam KOMPAS, 30 Juli 2013, halaman 6, menulis, “Rangkap jabatan dilihat dari perspektif apapun – baik etika, manajemen, sosial, politik maupun ekonomi – kurang pantas. Selain kurang pantas, rangkap jabatan itu merupakan saluran untuk berbuat menyimpang atau korupsi.”

Rangkap jabatan bukan hanya milik warga sipil-sekular saja, melainkan juga sudah merambah ke dalam Gereja. Baik umat awam maupun imam ada yang mempunyai jabatan rangkap dalam Gereja. Berikut ini hanya sekedar contoh.

Wahyu bertugas di paroki antah berantah. Selain bertugas sebagai pastor paroki, Wahyu juga bertugas di anu dan di ani. Lokasi tugas anu dan ani masih satu kota, sehingga tidak terlalu masalah. Tapi parokinya berada di luar kota, kurang lebih 3 jam perjalanan. Karena itu, Wahyu harus membagi waktu untuk mengurus pekerjaannya: beberapa hari ia di paroki sisanya di tempat lain. Hasilnya, ada banyak pekerjaan terbengkelai.

Contoh di atas mungkin sudah tak asing lagi bagi kita karena dapat dengan mudah ditemui kapan dan dimana saja, dengan tokoh dan lokasi yang berbeda. Topiknya adalah rangkap jabatan. Dengan rangkap jabatan berarti seseorang memegang jabatan yang banyak, baik itu yang sejalan maupun yang saling berkonflik. Contoh di atas adalah rangkap jabatan yang sejalan, sedangkan yang saling berkonflik adalah seseorang menjabat sebagai bendahara paroki sekaligus anggota Dewan Pengelola Harta Benda Gereja. Jabatan ini sarat konflik kepentingan, karena ibarat peserta lomba sekaligus juri lomba.

Satu pertanyaan mendasar, kenapa ada orang rangkap jabatan? Ada banyak faktor yang menyebabkan orang menduduki jabatan rangkap. Dua faktor penting yang patut disebut di sini adalah SERAKAH dan TIDAK PERCAYA.

Renungan Hari Selasa Prapaskah III - B

Renungan Hari Selasa Prapaskah III, Thn B/I
Bac I    Dan 3: 25, 34 – 43; Injil                   Mat 18: 21 – 35;

Sabda Tuhan hari ini mau berbicara soal kemurahan dengan berangkat dari kemurahan Tuhan. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Nabi Daniel, diungkapkan lewat doa Azarya kemurahan Tuhan kepada umat manusia. Kemurahan ini lebih ditekankan pada anugerah-anugerah yang diterima umat dari Tuhan. Di sini tampak bahwa Tuhan senantiasa peduli akan kehidupan umat manusia, dan tidak akan membiarkan mereka binasa, sekalipun waktu itu tidak ada pemimpin, nabi, pemuka dan penguasa. Namun umat tetap dalam pemeliharaan Tuhan.

Dalam Injil hari ini, kemurahan Tuhan terletak pada pengampunan. Hari ini Injil menceritakan pengajaran Tuhan Yesus tentang pengampunan. Di sini terlihat betapa raja begitu murah hati sehingga menghapus utang orang yang berutang kepadanya. Inilah gambaran kemurahan hati Allah yang mau menghapus dosa umat-Nya. Akan tetapi, kemurahan ini tidak hanya menyentuh Tuhan saja. Tuhan Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk berlaku murah hati juga kepada sesama.

Saat ini kita masih berada dalam masa prapaskah. Dalam masa ini kita diajak untuk mengakui dosa-dosa dalam sakramen tobat. Sakramen tobat merupakan wujud kemurahan Allah yang mengampuni dosa kita. Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita bahwa Allah itu maha murah. Kemurahan hati Allah terlihat pada kesediaan Dia mengampuni dosa kita, asal kita mau menyesali dan mengakuinya. Melalui sabda-Nya, Tuhan juga mengajak kita untuk berlaku murah hati kepada sesama. Karena itu, pada masa ini, selain tobat kita juga diajak untuk beramal kasih. Ini sebagai wujud kemurahan hati kita kepada sesama.

by: adrian

Senin, 09 Maret 2015

Bagaimana Mengelola Karya Pastoral

Setiap manusia tentu memiliki masalah. Tak terkecuali juga dalam dunia pastoral. Akan tetapi, sebagaimana masalah lainnya, masalah dalam dunia pastoral bukan untuk dihindari atau dibiarkan begitu saja sebab waktu yang akan menyelesaikannya. Masalah dapat memacu kita untuk berpikir keras mencari jalan keluar. Untuk mencari jalan keluar atas masalah, kita jangan selalu puas dengan satu cara saja. Prinsip “Ada banyak jalan menuju Roma” dapat diterapkan di sini. Dengan prinsip ini maka kita akan dipancing untuk terus berkreasi dan berinovasi. Tanpa inovasi terus menerus, pastoral kita akan stagnan dan mati.

Oleh karena itu, pemimpin pastoral sebuah paroki harus memperhatikan prinsip ini agar hidup menggereja umatnya tetap hidup. Pastor paroki sebagai pemimpin, ibarat sebuah perusahaan, menjadi tulang punggung maju dan berkembangnya paroki, karena dari dirinya lahir kebijaksanaan untuk karya pastoral. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan pastor paroki.

Sikap Rendah Hati dan Mendengar
Penelitian membuktikan bahwa pemimpin yang efektif dan inovatif justru pemimpin yang mengumpulkan orang-orang yang kritis dan siap memberi umpan balik dan masukan terhadap praktek-praktek perusahaan, lembaga atau negara. Seorang pemimpin tidak perlu mengeluarkan “power”nya untuk menggerakkan inovasi. Sebaliknya, sikap rendah hati penting dimiliki untuk menumbuhkan spirit inovasi. Secara logis kita bisa membayangkan bahwa di bawah tekanan, ide-ide cemerlang tidak bakal muncul. Suasana kritik mengkritik yang positif, serta tantang menantang ide perlu digiatkan. Kita bahkan perlu mengembangkannya spirit “jawaban belum tentu ada di pihak kita” sehingga muncul semangat mencari tahu dan mendengarkan orang lain.

Oleh karena itu, seorang pastor paroki harus membangun sikap rendah hati untuk mau mendengarkan suara-suara lain, baik dari rekan kerjanya maupun dari DPP serta umat. Jangan karena sebagai Kepala Paroki, kita langsung memegang kuasa sehingga tidak perlu meminta dan mendengarkan pendapat atau gagasan orang lain. Jangan pula takut dengan kritik sejauh kritik itu berguna bagi perkembangan karya pastoral. Pastor paroki hendaknya memiliki sikap “keputusan saya belum tentu yang terbaik” sehingga ada semangat untuk mencari tahu yang lebih baik dengan mendengarkan rekan kerja, DPP atau umat.