Senin, 03 Februari 2014

Orang Kudus 3 Februari: St. Ansgarius


SANTO ANSGARIUS, USKUP
Ansgarius lahir pada tahun 801 di daerah Amiens, Perancis. Ia dikenal sebagai seorang uskup dan pewarta Injil di daerah Skandinavia. Sebagian besar masa hidupnya ia manfaatkan untuk mewartakan Injil Kristus kepada kaum kafir Norsemen yang bengis dan liar.

Semasa mudanya, Ansgerius menghayati suatu cara hidup yang baik seturut kebiasaan-kebiasaan Kristen yang berlaku pada masa itu. Kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang rahib Benediktin. Untuk itu, ia masuk biara Benediktin di Corbie dan menjadi asuhan Paschasius Radbertus. Segera setelah itulah, ia mengucapkan kaulnya, ia bersama beberapa orang rekannya diutus ke Wesphalia untuk mendirikan sebuah biara baru di antara orang-orang Saxon di Jerman Utara. Biara baru ini dinamakan biara Corvey atau Corbie Baru. Dari sinilah, Ansgarius diutus untuk mewartakan Injil ke berbagai wilayah yang masih kafir.

Ia pernah tinggal di istana Kaisar Loius, putera Karel Agung. Di sini ia berhasil mengajak Raja Harold dari Denmark untuk memeluk agama Kristen. Ajakan ini disambut dengan baik oleh Raja Harold. Setelah kembali ke negerinya, Harold mengundang Ansgarius untuk memulai karya misinya di antara kaum Danes yang masih kafir. Di Denmark, Ansgarius mewartakan Injil dan berhasil mendirikan sebuah sekolah.

Dari Denmark, ia berlayar ke Swedia dan tiba di Birka, ibukota Swedia yang lama. Ia diterima dengan baik oleh Raja Bjorn dan para dewan kota. Herigar, salah satu anggota dewan mendirikan sebuah gereja di wilayahnya. Itulah gereja pertama di Swedia.

Sekembalinya ke Jerman, Ansgarius ditabhiskan menjadi uskup kota Hamburg dan diangkat menjadi utusan Paus Gregorius IV untuk menjalankan misi Gereja di wilayah Jerman bagian Utara. Sebagai seorang Uskup, Ansgarius menghadapi banyak masalah, terutama dari kaum Norsemen yang kembali kepada praktek-praktek kekafiran: menyembah dewa Odin dan Thor. Meskipun demikian, Ansgarius tetap teguh dalam karyanya mewartakan Injil. Ia mendirikan beberapa Gereja di Swedia dan menempatkan seorang imam di sana untuk mengembalakan orang-orang yang telah menjadi Kristen.

Ansgarius adalah salah satu perintis pewartaan Injil di antara suku Skandinavia, Swedia dan Denmark. Ia membuka jalan bagi para misionaris di kemudian hari, seperti Santo Sigfridus, yang membawa orang-orang itu ke dalam kekristenan pada abad ke 11. Ansgarius meninggal sebagai seorang uskup pada tahan 865 di Bremen, Jerman.

Renungan Hari Senin Biasa IV - Thn II


Renungan Hari Senin Biasa IV, Thn A/II
Bac I   : 2Sam 15: 13–14, 30, 16: 5–13a; Injil        : Mrk 5: 1 – 20

Hari ini sabda Tuhan mengisahkan tentang pertentangan Raja Daud dengan Absalom, yang adalah putranya sendiri. Dikatakan bahwa hati rakyat Israel lebih condong kepada Absalom. Mereka sudah melupakan Daud, sekalipun Daud masih memiliki pengaruh dan kekuasaan. Yang menarik di sini adalah sikap Daud. Walau mempunyai pengaruh dan kuasa, Daud tidak reaktif dan berusaha melawan Absalom. Dia justru mengalah dengan mengajak loyalisnya untuk keluar dari Yerusalem. Daud menghindari pertentangan dan pertikaian.

Gambaran yang sama terjadi juga dalam Injil. Ada pertentangan antara Yesus dengan penduduk Gerasa. Mereka tahu dan sadar bahwa Yesus telah melakukan mujizat. Mereka juga sadar bahwa mujizat itu demi kebaikan. Namun mereka lebih memilih urusan ekonomi. Yang dilihat hanyalah ternak yang musnah. Karena itu mereka mengusir Yesus. Mereka menolak kehadiran Yesus, meski tahu dan sadar bahwa kehadiran-Nya bisa mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. Dan Yesus, sama seperti Daud, memilih mengalah.

Gambaran orang Israel dalam bacaan pertama dan orang Gerasa dalam Injil sering terjadi dalam kehidupan manusia dewasa ini. Banyak orang lebih mementingkan kepentingan pribadinya. Tak sedikit orang lebih mengutamakan kenikmatan dan kepuasan sesaat. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mampu melihat apa yang baik bagi kehidupan manusia secara umum. Tuhan menghendaki agar kita berani menolak kepentingan pribadi dan kenikmataan sesaat demi kebaikan bersama.

by: adrian

Minggu, 02 Februari 2014

(Sharing Hidup) Goa Maria Sendangsono


ZIARAH KE GOA MARIA SENDANGSONO
Tanggal 6 Januari, sesuai rencana, saya akan berangkat menuju Goa Maria Sendangsono. Karena saya tidak tahu lokasinya, saya minta Yovan untuk menemani. Kami meninggalkan rumah kontrakan sekitar jam 11.00 dengan menggunakan motor Yovan. Dari informasi yang saya dengar, katanya lokasi Goa Maria Sendangsono tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 30 menit.

Kami jalan melalui jalur Ring Road. Menurut Yovan, lewat jalur ini sedikit memudahkan perjalanan. Jalur umum akan menyebabkan kemacetan. Bagi saya, jalan mana saja tak masalah, karena saya fokus menikmati perjalanan.

Ternyata jarak menuju lokasi ziarah lumayan jauh. Sekitar satu jam perjalanan kami. Cukup melelahkan. Kami memarkir motor di tempat yang telah disediakan. Dengan berjalan kaki, saya menapaki jalan salib menuju lokasi ziarah. Mulai dari tempat parkir hingga “pintu Gerbang” Goa Maria Sendangsono, banyak kios menjajaki benda-benda rohani. Ada juga yang menawarkan lilin. Yovan membeli sebungkus lilin. 

Ketika sampai di “pintu Gerbang” Goa Maria Sendangsono, saya dibuat kagum dengan situasi dan keadaan tempat ziarah ini: sungguh alami dan sejuk. Banyak pohon memberi keteduhan. Rasa lelah dari perjalanan segera sirna saat menyaksikan keindahan panorama ziarah.

Kami masih berdiri di seberang lokasi ziarah. Yovan memberi sedikit penjelasan tentang lokasi tersebut. Di antaranya soal air (sendang) dan soal gazebo yang biasa digunakan para peziarah yang hendak bermalam di sekitar lokasi ziarah. 


Tak lama kemudian kami turun menuju goa. Di sana sudah ada beberapa orang yang sedang berdoa. Kulihat Yovan segera menuju ke salah satu tempat duduk. Ia berdoa. Sementara saya masih asyik menikmati dan mengabadikan keindahan panorama lokasi Goa Maria ini. Setelah berfoto-foto sebentar, giliran saya akhirnya berdoa. 

Setelah berdoa, saya mencoba mencari orang yang bekerja di tempat ziarah itu. Saya mau mencari informasi tentang rumah Rm. Budi, MSF, pastor pembantu paroki Sungailiat. Saya berjalan menuju “rumah” informasi. Kebetulan ada seorang cewek yang sedang bertugas. Kepadanya saya bertanya dimana rumah orang tua Rm. Budi. Awalnya dia menjelaskan lokasinya. Namun karena melihat wajah saya yang menggambarkan kebingungan, dia akhirnya menawarkan diri untuk mengantar.


Dari penjelasan cewek itu, saya mendapatkan gambaran lokasi rumah Rm Budi itu sedikit agak menanjak. Mengingat kondisi Yovan, maka saya memutuskan untuk tidak mengajaknya. Ketika kami berangkat, kulihat Yovan masih di lokasi sendang.

Dugaan saya benar. Jalan menuju rumah Rm. Budi memang menanjak. Terasa sesak nafas. Dalam pikiran saya, untung Yovan tidak diajak. Setelah cukup melelahkan, kami tiba di rumah. Ayah Rm. Budi menyambut kami. Kemudian menyusul ibunya. Mereka mempersilahkan kai masuk ke dalam. Tak lama kemudian, keluarlah “sisa-sisa” kue natal. Kami ngobrol sambil menikmati hidangan.

Setelah cukup lama kami berbicara, saya akhirnya memohon diri. Yovan sudah menanti. Sudah dua kali dia sms. Maklum, hal ini dikaitkan dengan urusan perut. Kami belum makan
siang, sementara waktu sudah menunjukkan jam 13.45. Setibanya saya di bawah, saya menemui Yovan sedang berbaring di salah satu gazebo. Mungkin rasa lapar membuatnya sedikit mengantuk.

Kami segera menuju tempat parkir. Awalnya saya menyarankan Yovan untuk makan di salah satu warung makan yang ada di dekat situ, namun dia menolak. Dia ingin menu spesial, mengingat ini merupakan hari terakhir saya di Yogya. Dari tempat parkiran, kami meluncur kembali. Di tengah jalan kami mampir untuk membeli rambutan. Akhirnya kami makan siang sekitar jam 15.00. dalam perjalanan itu, kami diterjang hujan. Kami tiba di rumah sekitar jam 17.00.
Jakarta, 23 Januari 2014
by: adrian