Jumat, 28 Februari 2025
Ada Apa Dibalik Upaya Pembenaran Kenabian Muhammad
Kamis, 27 Februari 2025
RENUNGAN HARI KAMIS BIASA VII, THN I
Renungan
Hari Kamis Biasa VII – Thn I
Bac I Sir 5: 1 – 8; Injil Mrk 9: 41 – 50
Sering dalam kehidupan kita
mendengar pernyataan orang bahwa karena Tuhan itu maharahim, maka tak perlu
takut berdosa. Keyakinan itu membuat manusia suka sekali jatuh ke dalam dosa. Bukan
tidak mungkin kita pun berpikiran demikian. Hal ini sebenarnya sudah diungkap
oleh penulis Kitab Putra Sirakh. Bukan berarti penulis membenarkan perbuatan
dosa atau mengamini tindakan dosa. “Jangan menyangka pengampunan terjamin,
sehingga engkau menimbun dosa demi dosa.” (ay 5). Memang pada Tuhan ada belas
kasih dan pengampunan, namun penulis mau mengajak kita untuk sesegera mungkin
bertobat dari dosa dan kesalahan.
Permintaan penulis Kitab Putra
Sirakh kembali dipertegas oleh Tuhan Yesus dalam Injil hari ini. Bahkan tuntutan
Yesus lebih radikal. Tuhan Yesus mau supaya manusia tidak berbuat dosa,
sekalipun Allah itu maharahim dan penuh belas kasihan. Karena itulah, apabila
ada salah satu anggota tubuh menyesatkan tubuh, maka lebih baik anggota itu
dibuang. Jangan sampai hanya nila setitik, rusak susu sebelanga. Jika susu
sebelanga rusak, maka ia tidak bisa dinikmati lagi, kecuali dibuang.
Dalam bacaan-bacaan liturgi
hari ini, pesan sabda Tuhan kiranya jelas. Tuhan menghendaki supaya dalam
kehidupan kita senantiasa menghindari dosa. Dengan perkataan lain, Tuhan mau
agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Memang untuk menghindari dari dosa
bukanlah perkara mudah. Dosa itu menggoda, dan godaan itu selalu menarik dan
enak, sesuatu yang disukai manusia. Namun bukan lantas berarti, seperti yang
dikatakan penulis Putra Sirakh, kita terus menimbun dosa. Kita justru diajak
untuk bertobat. Pintu pengampunan Tuhan selalu terbuka, sehingga kapan saja kita
bisa datang kepada-Nya.
by: adrian
Rabu, 26 Februari 2025
RENUNGAN HARI RABU BIASA VII, THN I
Renungan
Hari Rabu Biasa VII – Thn I
Bac I Sir 4: 11 – 19; Injil Mrk 9: 38 – 40
Dapat dikatakan tema Sabda
Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini adalah kebijaksanaan. Ini dengan
sangat jelas dan tegas disuarakan oleh penulis Kitab Putra Sirakh dalam bacaan
pertama. Di sini kita diajak untuk senantiasa memeluk kebijaksanaan. “Memeluk”
di sini berarti kita, seperti kata penulis Kitab Putra Sirakh, mencintai (ay
12), melayani (ay 14), percaya (ay 16), sehingga hidup kita pun dituntun (ay
17). Secara sederhana, lewat Kitab Putra Sirakh ini, Tuhan menghendaki supaya
pikiran, perkataan, hidup dan perbuatan kita selalu diserapi oleh
kebijaksanaan.
Dalam Injil hari ini Tuhan
Yesus mengajak para murid-Nya untuk berlaku bijaksana. Ini berawal dari laporan
Yohanes tentang seseorang melakukan pengusiran setan demi nama Yesus, tapi
dicegah para murid hanya karena orang itu tidak termasuk kelompok para murid
Yesus. Di sini ada kesombongan dalam diri para murid Yesus. Seolah-olah
kewenangan dan kemampuan itu hanya dimiliki oleh mereka saja. Tuhan Yesus
membuka wawasan mereka. “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”
(ay40). Di sini para murid diminta untuk bersikap bijaksana. Dengan sikap itu
mereka dimampukan untuk melihat kebaikan dan kharisma dalam diri orang lain.
Pesan sabda Tuhan dalam
bacaan-bacaan liturgi hari ini kiranya jelas. Tuhan menghendaki supaya dalam
kehidupan kita senantiasa berlaku bijaksana. Salah satu musuh kebijaksanaan
adalah kesombongan, karena kesombongan akan membutakan mata kita untuk dapat
melihat kebaikan dan kharisma yang ada di luar diri kita. Kesombongan hanya
menuntun kita untuk melihat diri kita sendiri. Dengan menyingkirkan sifat
sombong, maka kebijaksanaan akan dapat tumbuh bersemi dalam hati kita, sehingga
pikiran, perkataan, hidup dan perbuatan kita pun akan diwarni oleh
kebijaksanaan.
by: adrian