Senin, 06 November 2023

JIKA MEMANG NU TIDAK TUNGGAL, MAKA ….

 

Ketika muncul aksi penolakan pembangunan gereja di salah satu daerah di Jawa Timur, yang dilakukan oleh pengurus ranting NU, sontak warga Inronesia Raya kaget. Langsung saja aksi tersebut menjadi viral di jagat net. Hal ini menjadi viral karena selama ini orang mengenal NU sebagai islam garda terdepan bagi toleransi dan moderat. Bahkan ada satu label yang kerap diberikan kepada NU, yaitu penjaga gereja. Label ini diberikan karena salah satu anak NU, yakni banser, kerap menjaga gereja kala hari raya keagamaan Kristen (natal dan paskah). Kenapa kali ini NU bersikap kebalikan. Ada apa dengan NU.

Tidaklah heran akti penolakan ini lantas menjadi pembicaraan banyak orang. Salah satunya adalah Ade Armando. Dalam channel videonya, yang diberi judul “NU Itu Anti atau Pro Gereja?” pertama-tama Ade meletakkan persoalan penolakan itu dalam konteks yang netral. Dari sini kemudian Ade melontarkan satu pertanyaan mendasar: apakah NU sebenarnya menghormati keberagaman atau tidak? Setelah melontarkan pertanyaan Ade pun langsung menjawab, dimana intinya adalah sebagai berikut: tidak ada jawaban tunggal, karena NU memang tidak tunggal.

Sebenarnya jawaban Ade terdiri dari 2 kalimat. Pertama, tidak ada jawaban tunggal atas pertanyaan di atas. Artinya, tidak ada jawaban hanya “ya” saja atau juga “tidak” saja. Dari jawaban kalimat pertama ini, Ade lantas mengaitkan dengan NU sebagai jawaban kalimat kedua: NU memang tidak tunggal. Ini berarti menghormati atau juga tidak menghormati keberagaman itu ada dalam tubuh NU.

Kalimat kedua dari jawaban Ade ini sangat menarik. Ini benar-benar membuka mata banyak pihak. Dalam jawaban tersebut terlihat jelas Ade mengakui bahwa dalam organisasi NU ada yang menghormati keberagaman ada pula yang tidak menghormati keberagaman. Ade lantas memberi contoh tokoh-tokoh NU yang menghormati keberagaman, misalnya seperti Said Aqil Siraj, Gus Mus, Menteri Agama sekarang, dan masih banyak tokoh lainnya. Sedangkan tokoh NU yang tidak menghormati keberagaman disebutkan seperti Ustad Abdul Somad, Kyai Ma’ruf Amin (wakil presiden sekarang). Ma’ruf Amin masuk dalam kelompok ini karena peran dia dalam kejatuhan Ahok tahun 2017. Sekalipun dalam beberapa kesempatan Ma’ruf Amin tampil sebagai tokoh yang toleran, akan tetapi tetap harus dikatakan sikap dasarnya adalah intoleran. Masih banyak tokoh NU lain yang masuk dalam kelompok intoleran ini.

Jumat, 03 November 2023

MEMBACA SURAH AT-TAKWIR AYAT 15-22 DENGAN AKAL SEHAT


Al-qur'an adalah wahyu Allah. Apa yang tertulis di dalamnya diyakini sebagai perkataan allah sendiri, yang disampaikan kepada muhammad. Jadi, konteks al-qur'an adalah allah berbicara dan muhammad mendengar. 

Dalam QS 81: 15-22 Allah berfirman kepada muhammad, "Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam, demi malam apabila telah larut, sesungguhnya itu benar-benar firman utusan yang mulia yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi yang memiliki ʻArasy, yang di sana ditaati lagi dipercaya. Temanmu itu bukanlah orang gila."

Sengaja kami tampilkan kutipan aslinya. Artinya, yang tertulis dalam kutipan di atas, itulah yang diucapkan allah swt. Cobalah membacanya dengan akal sehat.

Selasa, 31 Oktober 2023

BELAJAR SETIA DALAM KESAHAJAAN

 

Malam mulai pekat. Sehabis mengajar di sejumlah perguruan tinggi di kota Makasar, Enoch Kumendong (58) segera pulang. Sesampainya di teras rumah, sang istri, Jacqueline Panggalo (53) menyambutnya dengan senyuman ramah. Begitu pula dengan anak-anaknya yang sedang menonton televisi langsung menyapanya. Kepenatan Enoch pun seperti pudar, songsongan istri dan anak-anak memberikan makna mendalam baginya.

Hampir 40 tahun Enoch mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Profesi itu memang tak pernah memberikan gelimang harta. Namun ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri di batinnya. Dari dunia tersebut Enoch dan Jacqueline bisa memberikan teladan kesederhanaan kepada anak-anak. “Bagi saya kebendaan itu tak selalu penting, saya bahagia dengan keadaan yang serba sederhana,” ujar Enoch.

Sesama Guru

Awalnya Enoch bercita-cita menjadi imam praja Keuskupan Agung Makasar. Setelah menamatkan seminari menengahnya di Petrus Claver, ia melanjutkan ke seminari tinggi di Yogyakarta. Namun jalan hidupnya berkata lain. “Pembimbing rohani mengatakan saya tak cocok menjadi imam,” kenangnya.

Sekeluarnya dari seminari, Uskup Agung Makasar, Mgr. Schneiders CICM, menugaskannya menjadi guru di Tana Toraja. Enoch langsung dipercaya menjadi kepala sekolah di sebuah SPG dan SMU. Saat itu ia terpikat dengan salah seorang muridnya, Jacqueline, yang kemudian ia nikahi pada tahun 1969. Sang istri kemudian menjadi guru di SD St. Yosef Makasar, sementara Enoch terus berkarya.

Selang beberapa tahun Enoch melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Makasar. Baru sampai tingkat sarjana muda, universitas itu tutup. Enoch melanjutkan ke Universitas Hasanudin. Setelah lulus, Enoch menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi. Dengan bertambahnya jumlah anak (5 orang), Enoch harus kian giat mengajar. Ia mengajar juga di Seminari Petrus Claver dan SMU Rajawali. Setiap hari Enoch harus mempersiapkan beberapa mata pelajaran yang berbeda.

Enoch dan Jacqueline menganggap bahwa profesi guru merupakan panggilan. Karena itu, meski penghasilan pas-pasan, mereka tetap mencintai pekerjaan. “Kami harus bisa hemat,” tukas Enoch. Pernah suatu waktu Enoch ingin beralih profesi dan pindah ke Jakarta. Tapi keinginan itu urung, karena ia merasa tak punya bakat berbisnis.