Kamis, 05 Oktober 2023

SIAPA DULUAN ADA: WANITA ATAU PRIA

 

Dalam kisah penciptaan, kita mengetahui bahwa Allah lebih dahulu menciptakan laki-laki daripada perempuan. Manusia pertama itu dinamakan Adam. Awalnya dia hidup sendirian di Taman Eden (ada yang mengatakan Firdaus). Tak lama kemudian Allah merasa tak baik manusia itu sendirian, sehingga Allah memutuskan untuk membuat yang lain, yang sepadan dengan manusia itu. Maka Allah akhirnya membuat perempuan, yang diambil dari salah satu bagian dari tubuh pria. Perempuan itu kemudian dikenal dengan nama Hawa. (bdk. Kej 2: 4 – 25).

Jadi, dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa laki-laki ada lebih dahulu daripada perempuan. Tuhan menciptakan pria lebih dahulu, baru kemudian Dia menciptakan perempuan. Dan perempuan diciptakan dari bagian tubuh pria. Gambaran penciptaan manusia ini dikemudian hari menimbulkan persoalan, khususnya masalah kesetaraan gender.

Tak sedikit aktivis perempuan memprotes kisah yang ada dalam Kitab Suci ini. Karena wanita berasal dari pria, mereka mengatakan bahwa kisah tersebut merendahkan martabat kaum perempuan. Mereka menilai bahwa Kitab Suci terlalu kelaki-lakian, sehingga ketika menceritakan kisah penciptaan dikatakan bahwa perempuan berasal dari laki-laki. Ini dirasakan sebagai bentuk ketidakadilan gender. Mereka selalu mempertanyakan kenapa Allah tidak menciptakan perempuan lebih dahulu atau menciptakan perempuan dan laki-laki sekaligus sebagaimana dalam Kej 1: 26 – 28.

Apakah benar Kitab Suci salah dalam menguraikan kisah penciptaan itu? Apakah Kitab Suci sungguh-sungguh tidak adil dalam hal gender?

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam Kitab Suci. Penilaian segelintir kaum feminis ini saja yang berlebihan. Karena jika ditinjau dari sudut biologis, apa yang diceritakan dalam Kitab Suci itu mengandung kebenaran. Perempuan memang berasal dari laki-laki.

Dari ilmu biologi kita ketahui bahwa pria memiliki kromosom XY, sedangkan perempuan XX. Kromosom X membawa sifat-sifat kewanitaan, sementara kromosom Y membawa sifat-sifat kelelakian. Seorang pria pasti memiliki kromosom XY, sedangkan perempuan mempunyai kromosom XX. Ini berarti, pada pria ada sifat-sifat kelelakian dan kewanitaan, sedangkan pada perempuan murni hanya sifat kewanitaan.

Karena itu, dari sisi biologis masuk akal bila dikatakan bahwa wanita berasal dari pria. Tak mungkin pria berasal dari wanita karena dalam diri wanita tidak ada sifat kelaki-lakian. Sebaliknya, karena laki-laki memiliki dua sifat sekaligus, maka wajar bila salah satu sifatnya itu diturunkan ke ciptaan berikutnya, yaitu perempuan. Jika tinjauan biblis atas kisah penciptaan dikatakan bahwa Allah mengambil dari rusuk Adam untuk menciptakan Hawa, maka tinjauan biologis-religi Allah mengambil unsur X dari Adam dan menciptakan Hawa.

Jika aktivis memprotes kisah penciptaan dalam Kitab Suci, sudah seharusnya juga mereka memprotes tinjauan biologis unsur pria dan wanita. Para aktivis ini, demi kesetaraan gender, harus menolak kromosom XX yang ada padanya, dan menuntut kromosom Y sehingga padanya juga ada kromosom XY. Tentulah hal ini tak masuk akal manusia. Kromosom XX untuk perempuan, dan kromosom XY untuk laki-laki sudah ditetapkan Tuhan demikian.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Selasa, 03 Oktober 2023

LAODATO SI DAN KESALEHAN EKOLOGIS

 

Hubungan erat antara iman dan kepedulian terhadap lingkungan hidup ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si (LS). Paus berkata, “Menghayati panggilan untuk melindungi karya Allah adalah bagian penting dari kehidupan yang saleh.” (LS 217). Maka, manusia akan berjiwa kerdil dan bahkan tampak tak waras ketika perhatian dan perawatan terhadap lingkungan dikecualikan dari hidupnya sebagai makhluk beriman. Sebab, lingkungan hidup merupakan “rumah bersama bagi segenap ciptaan” (LS 1).

Manusia, Makhluk Ekologis

Manusia, secara hakiki, adalah makhluk ekologis. Hidupnya ditopang dan didukung oleh lingkungan hidup, air, udara, tumbuh-tumbuhan dan oleh beragam binatang yang hidup di dalamnya. Bahkan manusia sendiri dibentuk dari debu tanah (Ke 2: 7). Tuhan pun menempatkan manusia itu dalam relasi mutual dengan sesama ciptaan lainnya dalam taman kehidupan.

Kitab kejadian melukiskan harmoni dan kebaikan relasi itu dengan kalimat “Tuhan melihat segala sesuatu yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik!” (Kej 1: 31). Ada dua aspek yang dapat dikatakan mengenai apresiasi positif Tuhan ini. pertama, manusia dan aneka ciptaan itu berstatus sama, yakni makhluk yang diciptakan Tuhan sendiri. Diakui bahwa Tuhan adalah Pencipta. Dan Dia mencipta karena cinta. Maka, kita dan semua yang lain adalah ciptaan-Nya (LS 76, 77). Kita satu sama lain dan lingkungan hidup adalah hadiah dari Tuhan.

Namun demikian, kesamaan status sebagai “ciptaan” itu tidak perlu membawa kita pada sikap biosentris yang berpandangan bahwa manusia itu tak lebih istimewa daripada makhluk-makhluk hidup lainnya (LS 118). Tidak! Manusia tetaplah pribadi dan subyek yang unik, baik dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dalam panggilannya yang khusus untuk melindungi ciptaan. Sebab “…., semua makhluk bergerak maju bersama-sama kita dan melalui kita menuju titik akhir yang sama, yakni Allah sendiri” (LS 83).

Kedua, Tuhan dialami kehadiran-Nya dalam dan melalui ciptaan. Kendati rapuh dan tidak abadi, ciptaan itu mengandung nilai sakramental. Segenap ciptaan dapat mengantar kita pada perjumpaan dengan Tuhan sendiri. Segenap ciptaan itu baik adanya, karena Tuhan sendiri “intim hadir dalam setiap makhluk tanpa menghilangan otonomi mereka” (LS 80).

Maka, cinta kita kepada Tuhan Pencipta hanya dapat bertumbuh, berkembang, dan berdaya membebaskan kalau kita juga berlaku rendah hati dan penuh tanggung jawab terhadap sesama ciptaan. Inilah sebabnya, ditampik relativisme praktis yang memperlakukan ciptaan melulu sebagai obyek dan sarana pemenuhan kebutuhan manusia semata (LS 122 – 123).

Manusia perlu menunjukkan simpati dan sikap syukur, berlaku hemat dan sahaja, berekonsiliasi dan memperlakukan ciptaan lain sebagai kerabat komunitas kehidupan. Buang pola hidup konsumeristik yang ditopang oleh kekejaman dan “logika pakai dan buang” (LS 123). Sudah pada tingkat ini, amatlah mendesak suatu ekologi yang integral, yakni visi dan sikap yang melibatkan perhatian yang menyeluruh terhadap aspek-aspek manusiawi, sosial, kesejahteraan umum, dan keadilan antargenerasi (LS bab IV).

Setia pada iman kristiani, kita dapat mengatakan bahwa lingkungan hidup adalah “rumah” yang diberikan Tuhan untuk semua: manusia dan segenap makhluk. Kita tinggal bersama di dalamnya sebagai satu keluarga. Maka, semua adalah kerabat, saudara-saudari yang berasal dari satu Allah, Pencipta. Untuk bisa merasa at home di “rumah” itu, dibutuhkan sikap saling perhatian dan bukan dominasi atas sesama ciptaan lainnya.

Jumat, 29 September 2023

INILAH SALAH SATU KEBIASAAN ISLAMI


Satu kegiatan yang selalu diulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan itu tidak mengenal batasan jenis kelamin, agama, suku, usia atau juga daerah. Kebiasaan itu bisa saja positif, bisa juga negatif.