Jumat, 04 Agustus 2023

MEMBACA QS 6: 101 DENGAN NALAR AKAL SEHAT


 QS 6: 101 berbunyi sbb: "Dia (Allah) pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." Kutipan ini keluar dari mulut allah swt, dan didengar oleh muhammad.

Rabu, 02 Agustus 2023

SPIRIT TERORISME DALAM TOA ADZAN

 

TOA bagi umat islam adalah simbol agama. Toa sudah diidentikkan dengan bagian penting dari shalat, sementara shalat sendiri merupakan salah satu kewajiban dari 5 rukun islam. Akan tetapi, bagi umat non muslim TOA adalah terror. Ada kasus kerusuhan. Ada orang dipenjara dengan dakwaan penghinaan agama islam. Semuanya berawal dari TOA. Ada apa dengan TOA? Tentulah semua orang sudah tahu jawabannya. Suara TOA sangat membisingkan. Umat non-muslim merasa terganggu dengan suara-suara yang keluar dari TOA itu.

Saya melihat keberadaan TOA ini tak jauh bedanya dengan teroris. Malah, dalam satu titik, keduanya bisa disamakan. Sebagaimana teroris menganggu ketenangan, demikian pula TOA. Ia sungguh menggangu orang yang membutuhkan ketenangan. Suara yang keluar dari TOA sungguh sangat membisingkan. Karena itu, pada bulan Juni 2015 lalu Jusuf Kalla, yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden, pernah melarang masjid memutar kaset mengaji karena menyebabkan “polusi suara”. Jelas, yang dimaksud polusi itu adalah kebisingan yang dilahirkan dari TOA. Hingga kini pun masalah TOA itu masih ada.

Saya pribadi sering mengalami gangguan dari TOA ini. Di banyak tempat sering ketenangan istirahat pagi saya terganggu dengan suara TOA. Biasanya pada pukul 04.00 sudah mulai terdengar suara lagu irama Arab atau pembacaan ayat-ayat al-qur’an. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka pernah mendatangi masjid itu, dan ternyata sepi. Jadi, pengurus masjid datang, menghidupkan tape recorder lalu “hilang” entah kemana. Pertanyaan, apakah mereka sadar kalau sekitar masjid itu tidak semuanya umat islam, yang tidak membutuhkan suara TOA itu? Ataukah ini mental mayoritas sehingga bisa berbuat seenaknya saja?

Pernah juga saya mendengar kelompok ibu-ibu sedang pengajian. Semua ada di dalam masjid. Akan tetapi terasa aneh, kenapa segala pembicaraan mereka harus disiarkan ke luar masjid melalui TOA? Malah ada anak-anak bermain dan rebutan mic dan ngobrol, yang semuanya itu tersiar ke luar masjid. Ini pernah saya alami, dan ini menggangu ketenangan istirahat siang saya.

Ini belum lagi soal kotbah Jumat yang tersiarkan juga lewat TOA. Bukan hanya sekedar menimbulkan kebisingan, tetapi juga terkadang isi kotbahnya membuat telinga umat agama lain menjadi merah. Mungkin karena mental minoritas atau tahu sifat galak mayoritas membuat semua itu dipendam saja. Atau karena mengikuti ajaran agamanya, mendoakan orang yang membenci atau memusuhinya.

Senin, 31 Juli 2023

ADAM DAN HAWA DALAM AGAMA YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM

Agama sering diartikan sebagai kumpulan aturan atau ajaran. Umumnya orang mengenal tiga agama (Yahudi, Kristen dan Islam) sebagai agama samawi.  Kata ‘samawi’ berasal dari bahasa Arab, dari kata As-Samawat yang berarti ‘langit’. Karena itu, agama samawi dapat dipahami sebagai agama langit, karena para penganutnya percaya bahwa agamanya dibangun berdasarkan wahyu Allah. Langit dianggap sebagai tempat tinggal Allah.

Ketiga agama samawi ini disatukan oleh satu tokoh yang sama, yaitu Abraham (islam: Ibrahim). Karena itu, agama samawi dikenal juga dengan istilah agama Abrahamik atau agama Ibrahimiyyah. Abraham diyakini sebagai orang pertama yang membawa tradisi monoteis. Karena itu juga, ketiga agama ini dikenal sebagai agama monoteistik. Namun, tidak semua agama monoteistik adalag agama Abrahamik.

Sekalipun bersatu pada sosok Abraham, namun banyak pemeluk agama Yahudi, Kristen dan Islam menolak pengelompokan seperti ini (agama samawi). Mereka melihat bahwa sekalipun “satu”, tapi pada dasarnya dan intinya ketiga agama ini mengandung gagasan-gagasan berbeda seperti Abraham sendiri, kitab suci bahkan konsep ketuhanan serta nama Tuhan. Misalnya, soal kitab suci, kitab suci Yahudi diterima oleh Kristen, sementara kitab suci Islam lain tersendiri; malah Islam menilai kitab suci Yahudi dan Kristen sekarang palsu. Konsep ketuhanan Yahudi dan Islam memiliki kemiripan, sementara Kristen lain sendiri.

Perbedaan lain adalah soal Adam dan Hawa. Karena kitab suci Yahudi menjadi bagian dari kitab suci Kristen (disebut Perjanjian Lama), maka kisah tentang Adam dan Hawa untuk kedua agama ini adalah sama. Sementara itu, kitab suci agama Islam lain sendiri, yang membuat kisah Adam dan Hawa juga berbeda dari kedua agama samawi lainnya. Kenapa bisa berbeda? Kisah manakah yang benar?

Banyak tokoh Islam sudah menyatakan bahwa kitab suci agama Yahudi dan Kristen sudah dipalsukan (bdk. QS Ali Imran: 78). Jadi, kisah merekalah yang paling benar. Sementara Yahudi dan Kristen tidak pernah menyatakan kisah mereka paling benar dan yang lain palsu. Tulisan ini tidak bermaksud mencari kebenaran kisah tersebut. Tulisan ini hanya memaparkan perbedaan itu, dan membiarkan pembaca sendiri menilai.

Adam dan Hawa dalam Yahudi dan Kristiani

Kisah Adam dan Hawa dalam dua agama ini dapat dibaca di Kitab Kejadian. Kisah ini terkait dengan kisah penciptaan. Nama Adam dan Hawa sendiri tidak muncul dalam kisah itu. Kitab Kejadian hanya menggunakan istilah “manusia itu” untuk menyebut Adam, sedangkan Hawa disebut dengan istilah “perempuan itu”. Nama Adam dan Hawa baru muncul setelah peristiwa kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa. Awalnya nama Hawa (Kej 3: 20), baru kemudian nama Adam (Kej 4: 25). Dalam tulisan ini, kami langsung menggunakan nama Adam dan Hawa dalam kisah penciptaan.

Setelah menciptakan segala-galanya Allah kemudian menciptakan Adam dan Hawa. Awalnya Allah menciptakan Adam. Allah membuat Adam dari debu tanah, lalu menghembuskan nafas hidup ke dalam tubuhnya (Kej 2: 7). Setelah menciptakan Adam, Allah kemudian membuatkan sebuah taman di Eden, yang kemudian dikenal dengan nama Taman Eden (ada juga yang menyebutnya Firdaus). Jika kita membaca soal taman ini dalam Kitab Kejadian 2: 8 – 17, dapatlah disimpulkan bahwa taman ini berada di bumi. Tapi lokasi persisnya tidak ada yang tahu.

Allah merasa kasihan melihat Adam sendirian menikmati kebahagiaan di Taman Eden. Karena itu, Allah menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan dengan Adam. Hawa diciptakan Allah dari satu tulang rusuk Adam (Kej 2: 18 – 21). Maka hiduplah Adam dan Hawa di dalam Taman Eden. Sekali lagi Taman Eden itu berada di BUMI.

Di dalam taman itu ada satu pohon yang buahnya tidak boleh dimakan. Ini didasarkan pada perintah Allah. “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya.” (Kej 2: 16 – 17). Akan tetapi, justru buah itulah yang dipetik dan kemudian dimakan. Adalah peran iblis, dalam wujud ular, yang membuat Hawa melanggar perintah Allah. Hawa memetik buah pohon itu dan memakankan, lalu memberikannya juga kepada Adam (Kej 3: 1 – 6). Dan sekali lagi, peristiwa ini terjadi di BUMI. Karena peristiwa itu, Allah mengusir Adam dan Hawa dari Taman Eden (Kej 3: 23 – 24).

Adam dan Hawa dalam Islam

Sama seperti dua agama samawi terdahulu, kisah Adam dan Hawa dalam Islam di sini diambil dari Al Quran. Kami menggunakan Al-Quran dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI edisi revisi tahun 2006 serta beberapa Al Quran online sebagai rujukan. Al Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surah, di antaranya Al-Baqarah: 30 – 38 dan Al-Araf: 11 – 25.

Berbeda dengan versi Kitab Kejadian, kisah Adam (dan Hawa) dalam Islam bukan dalam bentuk narasi yang enak dibaca. Dari dua surah yang disebut di atas, orang awam akan kesulitan untuk menentukan alur ceritanya dari mana. Akan tetapi, kita akan ambil beberapa poin.