Jumat, 10 Februari 2023

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AN NISA AYAT 74

 


Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Dan barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya. (QS 4: 74)

Publik sudah tahu kalau Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Ia dijadikan salah satu sumber iman dan peri kehidupan umat islam. Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat islam; dan pedoman itu berasal dari Allah. Umat islam yakin Allah langsung berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad kemudian meminta pengikutnya untuk menuliskannya. Karena itu, mereka percaya yang tertulis di dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah, sehingga Al-Qur’an dikenal juga sebagai wahyu Allah. Karena Allah itu maha benar, maka benar pula apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an. Selain itu, Al-Qur’an dinilai suci karena Allah adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qur’an berarti juga penghinaan terhadap Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi bentuk hukuman bagi mereka yang menghina-Nya (QS al-Maidah: 33).

Al-Qur’an dikenal juga sebagai kitab atau keterangan yang jelas. Kata “jelas” di sini dimaknai bahwa apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an harus dimaknai secara lugas. Dengan kata lain, ketika Allah berbicara, Allah tidak menggunakan kata-kata kias. Karena itu, kata “membunuh” harus dipahami dengan tindakan menghilangkan nyawa seseorang, tidak ada makna lain. Demikian pula dengan kata “perang” atau “jihad”. Memang tidak semua perkataan Allah itu selalu bermakna lugas. Ada beberapa yang memiliki makna kias, terlebih kata-kata yang berkonotasi seksual. Misalnya, kata “bercampur” dimaknai dengan bersetubuh. Sekalipun memakai makna kias, tetap saja perkataan Allah itu mudah dipahami, karena Allah sendiri sudah berfirman bahwa diri-Nya telah memudahkan Al-Qur’an supaya mudah dipahami.

Berangkat dari premis-premis di atas, dapatlah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad. Memang dalam kutipan di atas ada satu kata yang berada di dalam tanda kurung, dan itu harus diakui sebagai tambahan kemudian yang berasal dari tangan-tangan manusia. Sebenarnya tanpa ditambah pun kalimat di atas sudah jelas.

Kutipan kalimat Allah di atas terdiri dari 2 kalimat. Kalimat pertama berisi permintaan Allah kepada para pengikut Muhammad, yakni umat islam, untuk menjual kehidupan dunia untuk kehidupan akhirat melalui berperang di jalan Allah. Secara implisit mau dikatakan bahwa kehidupan akhirat lebih penting daripada kehidupan dunia. Umat islam diajak untuk mendahulukan kehidupan akhirat dengan “mengorbankan” kehidupan dunia. Dapatlah dikatakan kehidupan dunia itu bersifat fana, sedangkan kehidupan akhirat bersifat baka. Kehidupan dunia dalam kutipan ayat di atas dapat dimaknai sebagai kekayaan, kemewahan, prestasi dan prestise, kenikmatan dan kesuksesan, dll. Sedangkan kehidupan akhirat dalam kutipan kalimat Allah di atas bisa dimaknai sebagai surga. Jadi, umat islam diminta untuk “mengorbankan” kehidupan dunia demi masuk surga. Cara untuk masuk surga ini adalah dengan berperang di jalan Allah.

Jumat, 03 Februari 2023

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-MAIDAH AYAT 51

 


Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS 5: 51)

Selain sebagai kitab suci, umat islam melihat juga Al-Qur’an sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup. Hal inilah yang membuat Al-Qur’an dilihat sebagai pusat spiritualitas hidup umat islam. Di sana mereka tidak hanya mengenal Allah yang diimani dan disembah, tetapi juga mendapatkan pedoman dan tuntunan hidup yang akan menghantar mereka ke surga. Al-Qur’an biasa dijadikan rujukan umat islam untuk bersikap dan bertindak dalam hidup keseharian. Berhubung Al-Qur’an itu berasal dari Allah, maka tuntunan dan pedoman yang diberikan Allah ini wajib ditaati.

Berangkat dari premis ini, maka dapatlah dikatakan kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan Allah yang berisi nasehat untuk dijadikan pedoman bagi umat islam bersikap dan bertindak. Umat islam percaya bahwa hanya Muhammad saja yang menerima wahyu Allah. Karena itu, kutipan kalimat Allah di atas diterima Muhammad dari Allah. Melihat kalimat pertama wahyu Allah ini haruslah dikatakan bahwa wahyu Allah ini lebih ditujukan kepada para pengikut Muhammad. Frasa “umat yang beriman” selalu dimaknai sebagai umat islam, karena yang beriman itu hanya islam. Allah telah membuat islam sebagai patokan seseorang itu beriman (bandingkan ayat 41). Yang bukan islam dilabeli sebagai kafir. Allah menyampaikan itu melalui Muhammad. Artinya, Muhammad diminta Allah untuk menyampaikan pesan-Nya itu.

Rumusan wahyu Allah ini sedikit aneh. Jika memang tujuan utama wahyu Allah ini adalah umat islam sebagai pengikut Muhammad, seharusnya Allah mengawali perkataannya dengan, “Katakanlah ….” Rumusan seperti ini jamak dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Menjadi pertanyaan, kenapa di sini Allah tidak menyertakan frasa “Katakanlah …”? Apakah Allah lupa?

Kalimat berikutnya berisi nasehat yang harus diterapkan dalam kehidupan kaum muslim. Allah SWT memerintahkan umat islam untuk tidak menjadikan orang Yahudi dan Kristen sebagai teman setia. Memang di dalam wahyu Allah ini disebutkan alasannya, yaitu karena orang Yahudi dan Kristen saling melindungi untuk mencelakakan umat islam. Salah satu bentuk celaka yang dikhawatirkan Allah adalah pemurtadan. Alasan ini kurang lebih senada dengan wahyu Allah dalam QS Ali Imran: 149, yaitu bahwa orang kafir akan memurtadkan kaum muslim.

Sabtu, 28 Januari 2023

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA IV/A

 Bac I  Zef 2: 3; 3: 12 – 13;         Bac II 1Kor 1: 26 – 31;

Injil    Mat 5: 1 – 12a;

Ada banyak tema dan pesan yang hendak disampaikan Tuhan lewat sabda-Nya dalam tiga bacaan liturgi hari ini. Salah satu tema yang menarik untuk direnungkan adalah kerendahan hati. Hal ini sangat tegas disuarakan oleh Zefanya, dalam bacaan pertama, dan juga Paulus, dalam bacaan kedua. Dalam bacaan pertama, Zafanya meminta kita untuk membangun sikap rendah hati agar terhindar dari murka Allah. Dapat dikatakan bahwa sikap rendah hati merupakan pangkal dari keadilan. Dan orang yang rendah hati akan taat pada hukum Allah.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus meminta kita untuk mempunyai sikap rendah hati. Paulus melarang supaya kita tidak sombong di hadapan Tuhan. Ada banyak teks kitab suci yang menyatakan kalau Allah benci pada orang sombong. Allah justru menggunakan orang yang rendah hati untuk “menghancurkan” orang-orang sombong. Orang yang rendah hati tentulah akan selalu setia pada kehendak Allah.

Injil hari ini menampilkan kotbah Yesus di bukit, secara khusus sabda bahagia. Salah satu kebahagiaan yang disinggung oleh Yesus adalah orang yang suci hatinya. Frasa “suci hati” atau juga “bersih hati” dapat dipadankan dengan rendah hati, karena tinggi hati selalu dikaitkan dengan hati yang kotor. Orang yang rendah hati akan selalu dekat dengan Tuhan, dan karena itu ia akan melihat Tuhan.

Dewasa ini marak ditemui kejahatan. Ada kasus pembunuhan. Ada korupsi dan juga penipuan. Ada kasus perselingkuhan. Dan masih banyak jenis kejahatan lainnya. Semua itu dapat dikatakan terjadi karena manusia sombong. Kesombongan membuat manusia meninggalkan dan lupa pada Tuhan. Mereka tidak lagi takut akan Tuhan. Mereka merasa dirinya mampu mengatasi hidup ini tanpa campur tangan Tuhan.

Karena itulah, sabda Tuhan hari ini menjadi sangat relevan. Tuhan meminta kita untuk membuang kesombongan diri, dan mulai membangun sikap rendah hati. Dengan sikap rendah hati, maka hati dan pikiran kita akan selalu terarah kepada Tuhan, dan ini akan menentukan perbuatan kita. Jika hati dan pikiran kita sudah selalu terarah kepada Tuhan, maka tidak akan ada ruang bagi perbuatan-perbuatan jahat dalam hidup.

Mari kita membangun sikap rendah hati!