Rabu, 05 Oktober 2022

CATATAN HUJAN BULAN SEPTEMBER

 

Saya mulai tugas di Dabo dari tanggal 27 Agustus. Tiba di Singkep langsung di guyur hujan dengan intensitas lebat dan durasi waktu yang lama. Dua hari berikutnya hujan tidak turun, dan baru turun lagi dua hari terakhir bulan Agustus. Di sini intensitas hujannya mulai dari sedang hingga lebat.

Memasuki bulan September frekuensi hujan lebih sering; tak jauh berbeda dengan bulan Agustus. Mulai tanggal 4 hingga 10 September hari-hari diisi dengan guyuran hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Umumnya durasi waktunya lumayan lama. Minggu berikutnya hari-hari diselingi dengan cerahan matahari, meski sangat singkat. Biar bagaimana pun hujan jarang datang. Dapatlah dikatakan dari tanggal 11 hingga 17 ada 3 hari hujan turun lebat dengan durasi waktu lama. Dan di minggu berikutnya hujan pun masih tetap turun antara 3 – 4 hari. Tanggal 27 saya berangkat menuju Ujung Beting.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan curah hujan di bulan September ini sedikit lebih tinggi dari bulan Agustus. Jika digrafikkan maka akan terlihat grafik meningkat. Apakah ini menjadi sinyal bahwa bulan Oktober akan memasuki musim hujan. Memperhatikan catatan hujan tahun 2021, terjadi penurunan curah hujan bulan Oktober dibandingkan dengan bulan September. Akankah ini terulang lagi? Apa yang akan terjadi, pemantauan curah hujan akan dilakukan dari Ujung Beting.

Selasa, 04 Oktober 2022

KESAKSIAN ATAS MUKJIZAT DOA ROSARIO

 

Saudara-saudariku terkasih, aku ingin berbagi dengan Anda rahmat yang telah aku terima dari Allah. Aku ingin setiap orang tahu betapa besar kuasa dan kerahiman Allahku.

Aku masuk Katolik lima belas tahun yang lalu. Saat itu usiaku 23 tahun. Aku tidak dibaptis, dan aku memutuskan untuk mengikuti katekumenat, masa persiapan pembaptisan. Sejak saat aku memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya hidupku kepada Allah, aku mulai jatuh sakit. Setan mulai penasaran dengan keputusanku. Tahun itu, aku kehilangan ayahku, pekerjaanku, dan akhirnya kehilangan semuanya. Aku depresi dan putus asa. Aku berpikir bahwa dengan Allah, hidupku akan menjadi bunga tanpa duri. Aku ingin berhenti menjadi orang beriman dan kembali ke hidup yang aku jalani sebelumnya, tetapi Allah berbelas kasih kepadaku. Allah tidak membiarkan aku terpisah dari-Nya, dan Dia menguatkan iman dan ketekunanku.

Kemudian, para Suster Pauline mulai memperkenalkan buku-buku Raboni Editora di kotaku, dan aku mulai membeli bermacam-macam buku. Buku-buku itu telah banyak memberi pencerahan atas kehidupan rohaniku. Membaca buku-buku itu memberi aku banyak kekuatan dan hal itu membuat setan sangat marah. Ia mencoba mengambil dariku apa yang paling berharga bagiku, yaitu hidupku.

Menjelang hari-hari pembaptisanku, aku mulai jatuh sakit dan sangat lemah. Para dokter meminta aku melakukan sejumlah pemeriksaan, dan hasilnya positif; aku mengidap HIV. Dalam waktu sekejap itu, segala sesuatu kehilangan arti bagiku. Aku berpikir untuk segera melakukan banyak hal, tetapi satu-satunya hal yang aku lakukan adalah lari ke gereja dan menangis. Sesudah itu aku berbicara kepada seorang imam dan ia berbicara kepadaku selama berjam-jam, membujuk aku untuk tidak putus asa, tidak mengundurkan diri dari pembaptisan, dan tidak menjauhkan diri dari Allah. Ia mendesak aku untuk bertekun dan percaya kepada penyelenggaraan ilahi.

Sesudah pembaptisanku, aku berencana untuk mulai menjalani pengobatan karena semakin hari aku semakin kurus dan lemah, tetapi kemudian aku membatalkan rencana itu. Aku tahu bahwa tidak ada pengobatan yang sungguh-sungguh dapat menyembuhkan penyakitku. Meskipun pengobatan itu dapat mengurangi atau menghilangkan gejala-gejalanya, namun aku akan menjadi ”hamba” obat, bergantung pada obat selama sisa hidupku. Aku memutuskan untuk menaruh seluruh harapanku pada Yesus, menjadikan Dia tempat pengungsianku karena aku yakin di mana kemampuan manusia berakhir, di situ kekuasaan Allah mulai bekerja. Aku ingat bahwa Allah tidak menginginkan kematian pendosa, melainkan pertobatannya.

Senin, 03 Oktober 2022

HATI-HATI DENGAN SAMPAH ELEKTRONIK

 

Mari buat daftar perangkat elektronik yang kita gunakan sehari-hari. Ponsel, komputer tablet, komputer, laptop, televisi, alat pemutar musik, kamera, kulkas, kipas angin, mesin cuci, microwave, penyejuk udara, dispenser, setrika, blender. Betapa banyak. Itu pun belum semuanya.

Hidup dengan dikelilingi perangkat elektronik merupakan keniscayaan bagi manusia modern. Jika tidak, tentu saja banyak kegiatan akan terhambat, bahkan kita barangkali tak bisa belajar, bekerja atau bermain. Kita sudah begitu tergantung pada perangkat elektronik ini. Namun, yang menjadi masalah adalah saat ini kita kerap mengonsumsinya tanpa kesadaran penuh. Kita menjadi begitu konsumtif.

Data US Cencus Bureau pada Januari 2014 mengungkapkan, jumlah ponsel yang digunakan masyarakat Indonesia sebanyak 281 juta. Padahal penduduk negeri ini hanya sekitar 251 juta jiwa. Jika anak anak bayi pun sudah memakai ponsel, maka masih ada sisa 30 juta ponsel. Artinya, ada 30 juta orang Indonesia yang memiliki 2 ponsel. Banyak orang yang memiliki lebih dari satu ponsel untuk berkomunikasi maupun mengakses informasi. Ketika ponsel rusak pun, dengan ringan kita menggantikannya dengan yang baru.

Rantai perjalanan perangkat elektronik tak berhenti dari produsen, distributor lalu konsumen. Sebagai pengguna, kita patut bertanya, kemana barang-barang elektronik yang sudah tidak lagi kita pakai berakhir?

Berdasarkan survei yang dilakukan Dinas Kebersihan DKI Jakarta dan organisasi nirlaba Waste4Change, 55 persen penduduk Jakarta tidak tahu kemana sampahnya dibawa. Namun jawaban atas pertanyaan itu sendiri pun sebenarnya tak menggembirakan. Indonesia belum punya pusat pengelolaan sampah elektronik. Sebagian besar sampah ini masih tertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Ada juga yang menumpuk di kamar. Sebagian kecilnya dikelola di tempat pemisahan sampah elektronik, yang ada di Pulau Jawa dan Batam. Komponen yang masih bisa digunakan, antara lain plastik dan tembaga, dipisahkan lantas diekspor ke Singapura untuk didaur ulang.

Sampah elektronik yang tidak terkelola dengan baik menimbulkan masalah. Komponen-komponennya mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Circuit board komputer misalnya, mengandung logam-logam berat seperti timah, krom, besi, timbal, perak dan tembaga. Komponen di dalam televisi dan monitor komputer bekas pun mengandung timah, cadmium dan merkuri. Limbah-limbah ini, jika tidak ditangani dengan benar, menjadi polutan bagi air, tanah dan udara. Ini juga akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan orang-orang yang ada di sekitarnya.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu