Rabu, 13 Juli 2022

INI ANCAMAN YANG ADA DALAM KECAP

 

Kebanyakan orang Indonesia tak bisa dipisahkan dari kecap, baik saat memasak maupun saat menikmati hidangan. Kecap menjadi salah satu bahan paling popular di dunia kuliner. Kecap sering digunakan sebagai pelengkap dan penyempurna masakan. Tapi, tahukah Anda, selain menambah cita rasa masakan, kecap dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

Dilansir Boldsky, bahan masakan yang terbuat dari fermentasi kedelai tersebut mengandung bahan kimia yang disebut isoflavon, yang bisa menganggu hormonal manusia. Jadi, itu akan berdampak pada kesehatan laki-laki dan perempuan. Untuk lebih lengkapnya, berikut ini ulasannya:

1.   Kanker Payudara

Isoflavon hadir dalam kecap yang terbukti bertindak sebagai katalis untuk berkembang-biaknya sel-sel kanker di payudara. Tak cuma itu, kecap juga dilaporkan menimbulkan gangguan dalam siklus menstruasi bagi wanita.

2.   Menganggu Hormon Tiroid

Kecap fermentasi kedelai mengandung goitrogens yang sejenis dengan isoflavon. Kimia ini dapat menyebabkan hipotiroidisme yang menganggu reaksi hormon tiroid.

3.   Menurunkan Jumlah Sperma

Mengonsumsi kecap berlebihan akan meningkatkan kadar estrogen. Perlu diketahui, estrogen ini bekerja menghambat tiroid, kelenjar yang bekerja mengeluarkan hormon. Ketika tiroid terhambat, metabolisme tubuh melambat dan terjadilah kenaikan berat badan. Obesitas menurunkan hormon dan mengurangi kesuburan pria.

4.   MSG dalam Kecap

Kecap mengandung banyak MSG. Saat proses pembuatan kecap, asam glutamate terbentuk yang dapat memengaruhi fungsi neurolagis, menganggu mobilisasi seseorang dalam masa produktif.

5.   Menganggu Penyerapan Mineral

Kecap mengandung fitata dalam jumlah tinggi yang menganggu proses pencernaan sekaligus menghalangi penyerapan mineral dalam tubuh manusia.

Demikianlah beberapa uraian singkat mengenai dampak buruk dari kecap. Intinya adalah kecap dapat menggangu kesehatan kita. Namun perlu disadari adalah kesehatan itu ada di tangan Anda. Karena itu, Anda sendirilah yang memutuskan apakah menghentikan, mengurangi atau meneruskan penggunakan kecap ini.

Selasa, 12 Juli 2022

ORANGTUA MODEL UTAMA BAGI ANAK

 

Meski sering tidak disadari, orangtua sesungguhnya merupakan tokoh panutan bagi anak. Celoteh, tindak-tanduk, bahkan mimik muka dapat ditiru anak. Ada pendapat ahli yang mengatakan bahwa anak adalah peniru handal. Untuk perilaku positif tentu orangtua senang. Tapi untuk yang buruk? Tentu tak satu pun orangtua ingin menularkannya pada anak mereka.

Ada cerita soal imitasi ucapan ibu pada anaknya. Ketika seorang ibu memanggil anak sulungnya keluar kamar, tiba-tiba anaknya dengan fasih meneruskan ucapan ibunya saat mengingatkannya untuk segera bersiap sekolah.

“Nanti terlambat, sebentar lagi jam setengah tujuh, ayah sudah mau berangkat, jangan sampai ketinggalan, ayo minum susunya, habiskan rotinya!” tiru sang anak sambil bersungut-sungut menuju meja makan.

“Udah hafal deh Bu! Bosen,” sambung sang anak cuek sambil duduk di ruang makan. Sang ibu tidak menyangka kalau ucapan yang tanpa sadar diucapkan berulang-ulang setiap pagi ditiru persis sampai nada tinggi rendahnya pula.

Orangtua Adalah Model Utama

Dalam bersikap dan bertingkah laku setiap anak memang banyak meniru pada lingkungannya, mulai dari orangtua, nenek-kakek, om-tante, pengasuh, tetangga, sekolah, guru, teman bahkan dari TV dan VCD yang ditonton. Anak mudah sekali meniru apa yang dilihat dan menjadikan lingkungan sebagai model kehidupan. Mulai dari ucapan, misalnya kata-kata yang mudah untuk diikuti, atau tingkah laku yang dilihat dari tontonan film/sinetron.

Senin, 11 Juli 2022

RENUNGAN TENTANG MENERIMA SESAMA APA ADANYA

 

Seorang frater mendapat bimbingan dari pembinanya bahwa sebagai murid Yesus, kita harus menerima sesama apa adanya. Kita jangan pilih-pilih atau menilai sesuai selera kita. Nasehat ini selalu diingat baik oleh sang frater. Setiap bangun pagi atau saat beranjak ke peraduan malam, ia selalu berguman, “Harus menerima sesama apa adanya.” Gumanan itu bukan cuma sekali saja tapi berkali-kali didaraskan sampai dirinya terlelap.

Setelah menyelesaikan skripsinya, sang frater pergi TOP di sebuah paroki. Pada suatu hari, ketika sedang mengunjungi umat, sang frater melihat seorang bapak sedang memarahi seorang anak kecil dan memukulnya. Anak itu menangis dan minta ampun, tapi bapak itu terus memarahinya sambil sesekali tangannya mencubiti tubuh anak itu.

Frater mendekat. “Bapak, tak baik memukuli anak bapak. Kan dia sudah minta maaf. Bapak harus menerima anak bapak apa adanya.”

“Oh frater,” ujar bapak itu sambil menoleh. “Kebetulan anak ini bukan anak saya.”

Suatu ketika, saat frater sedang duduk santai di pastoran, seorang ibu muda datang. Wajahnya sembab, karena habis menangis. Kepada sang frater, ibu muda ini bercerita, atau istilah kerennya curhat, tentang masalah keluarganya. Secara khusus masalahnya dengan sang suami. Ia baru 8 bulan menikah. Suami ibu ini sering mabuk dan pulang larut malam. Di rumah dia suka membentak-bentak. Tak jarang juga sang suami memukul dirinya. Padahal 3 bulan pertama hidup mereka bahagia. Apalagi waktu pacaran. Hidup terasa sangat indah. Tapi kini seperti neraka.

Dengan serius sang frater mendengarkan keluhan ibu itu. Sesekali ia mengangguk kepala. Setelah ibu itu selesai berkisah, mulailah frater ini berkata-kata. Nasehat biblis, filosofis, moral, etis, teologis serta psikologis mengalir begitu lancar. Terakhir, sebelum ibu itu pulang, sang frater berujar, “Ibu harus banyak berdoa. Dan jangan lupa, ibu harus menerima suami ibu apa adanya. Bukankah waktu mau menikah, ibu sudah menyatakan hal itu?”

Di lain waktu, seorang mudika datang curhat sama frater. Dengan jujur dia mengatakan kalau saat itu dia lagi musuhan dengan temannya. Dia sangat membenci temannya itu. Alasannya, sudah beberapa kali temannya ini menyakitinya. Di samping itu juga, temannya ini sering berlaku buruk terhadap orang lain sekalipun sudah sering dinasehati.

Frater langsung menasehati, “Kamu harus menerima dia apa adanya.”

“Sudah frater.” Ungkap mudika itu. “Saya sudah menerima dirinya apa adanya. Yang tidak saya terima kini itu bukan dirinya.”

“Maksudnya?” Tanya frater sedikit bingung.

“Yang saya benci dan saya musuhi itu bukan dirinya. Kalau yang dirinya saya terima. Yang baik dan juga yang tidak baik.”

Setelah selesai masa TOP, sang frater kembali ke seminari. Gaya hidup waktu TOP, tetap terbawa di seminari. Meski ia tahu di seminari seorang frater tidak diperbolehkan memiliki HP, sang frater ini tetap membawa HP kenang-kenang umat. Gaya hidup yang longgar di paroki pun terbawa di seminari. Sang frater sering keluar dari seminari tanpa pamit.

Karena sikap dan tingkah lakunya inilah, suatu ketika ia dipanggil pembimbing rohaninya. Sang pembimbing ini memberinya nasehat. Sang frater hanya mengangguk-angguk kepalanya. Setelah pembimbingnya ini selesai berbicara, sang frater balik berkomentar, “Romo. Inilah saya. Romo harus menerima saya apa adanya.”

“Betul sekali, frater!” Sang pembimbing membalas bijak. “Kita harus SALING menerima sesama kita apa adanya. Jadi, frater juga harus menerima saya apa adanya. Kebetulan, saya tidak bisa menerima orang apa adanya.”