Senin, 01 November 2021

ORANG KUDUS DENGAN NAMA THOMAS / VINSENSIUS / YOHANES

Setiap orang tentulah mempunyai nama. Bagi orang kristen katolik, nama tidak hanya sekedar kumpulan huruf yang membentuk kata, tapi harus memiliki makna. Karena dari makna itulah akan terbentuk identitas dan kepribadian seseorang. Setidaknya makna yang terkandung pada sebuah nama mempunyai 2 jenis atau kategori, yaitu makna dari kata yang terkandung pada nama itu, dan makna yang terkandung dalam nama itu. Untuk jenis yang pertama dapat ditemui misalnya pada nama GRACE. Kata itu mempunyai makna rahmat atau berkat. Dengan memberi nama itu, maka orang yang menyandangnya diharapkan dapat menjadi berkat bagi orang lain. Hal inilah yang akan membentuk kepribadiannya di kemudian hari. Untuk jenis kedua dapat ditemui pada nama ADRIANUS. Kata ini merujuk pada nama orang kudus, sehingga orang yang menyandang nama ini diharapkan akan menghidupi teladan hidup orang kudus tersebut. Hal inilah yang akan membentuk kepribadiannya di kemudian hari.

Tradisi kristen katolik dalam memberi nama mengacu pada Kan. 855, yaitu agar nama yang diberikan kepada anak harus memiliki citarasa kristiani. Ada 3 kategori citarasa kristiani untuk nama anak. [1] Nama yang diambil dari Alkitab, baik itu nama tokoh maupun nama tempat. Untuk tokoh selalu diambil tokoh yang tidak menimbulkan skandal. Beberapa contoh nama kategori ini: Abraham, Yeremia, Elia, Betania, Galatia, Ruth, Esther, Tesalonika, dll. [2] Nama yang diambil dari nama orang kudus. Untuk memilih namanya, ada beberapa tawaran seperti berdasarkan tanggal kelahiran yang bersamaan dengan tanggal peringatan orang kudus atau berdasarkan intensi orangtua. Bisa juga didasari pada devosi orangtua atau tradisi keluarga. Beberapa contoh nama kategori ini: Maria, Yosef, Matius, Lukas, Paulus, dll [3] Nama yang diambil dari beberapa istilah atau kata yang tak asing dalam dunia kristen. Beberapa contoh nama kategori ini: Grace, Gloria, Sanctus, Angel, Immanuel, Natal, Paskah, Adven, dll.

Terkait dengan kategori kedua, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para orangtua. Harus diketahui ada banyak nama orang kudus yang memiliki kesamaan. Misalnya, untuk Santo Yohanes setidaknya ada 55 orang kudus yang memiliki nama demikian. Untuk itu, ketika memberi nama Yohanes untuk anaknya, orangtua wajib tahu Yohanes mana yang dimaksud, karena hal ini untuk menjadi “identitas keperibadian” anak kelak.

Untuk maksud ini, blog budak bangka menurunkan nama orang kudus yang memiliki kesamaan nama. Untuk bulan ini, kami menampilkan Santo Thomas, Santo Vinsensius dan Santo Yohanes. Silahkan klik pada nama orang kudus tersebut untuk mengetahui riwayat hidupnya.

Jumat, 29 Oktober 2021

MEMPERTANYAKAN KONSEP TAUHID ISLAM

 

Islam dikenal sebagai agama tauhid. Secara sederhana, agama tauhid dimaknai sebagai agama yang percaya hanya satu Allah. Dengan perkataan lain, Allah orang islam itu hanya ada SATU. Dan kalau dikatakan satu, berarti tidak ada yang lain, bukan dua atau tiga atau pun empat. SATU. Titik. Dasar kepercayaan umat islam akan ketauhidan agamanya terdapat pada wahyu Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an. Jadi, islam sebagai agama tauhid karena memang sudah dikatakan demikian dalam Al-Qur’an.

Tak jarang dengan konsep dan pemahaman seperti ini, umat islam menyombongkan diri bahwa hanya agama islam yang Allahnya SATU. Bisa dikatakan juga bahwa mereka selalu mengatakan hanya islam agama monoteisme. Agama lain tidak. Bagi umat islam, agama lain mempunyai Allah yang lebih dari satu.

Menjadi sedikit persoalan adalah dasar keyakinan islam ini bukanlah didasarkan pada penelaahan akal budi. Mereka menerima begitu saja karena memang sudah dinyatakan demikian. Tak ada upaya untuk mengkaji, mengkritisi dan menelaah dengan menggunakan akal sehat dan ilmu-ilmu lainnya. Padahal jika ditelaah ayat-ayat Al-Qur’an, yang merupakan wahyu Allah, dengan tinjauan linguistik dan akal sehat, maka akan ditemukan fakta yang sangat mengejutkan. Video berikut ini mencoba membuka wawasan kita. Selamat menonton.

 


Jika tak bisa dibuka, silahkan klik di sini.

Kamis, 28 Oktober 2021

MEMAHAMI DAN MENGHAYATI KEMISKINAN KRISTIANI

 

Sabda Bahagia Yesus di bukit pertama-tama ditujukan kepada orang miskin. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5: 3). Pada masa Yesus dan sebelumnya, orang miskin masuk ke dalam kelompok orang yang terpinggirkan, baik secara sosial maupun secara religius. Secara keagamaan, orang miskin dilihat sebagai orang yang tidak mendapatkan berkat dari Allah, yang biasanya disebabkan karena dosa. Jadi, ada kaitan antara dosa dan kemiskinan. Dan dosa selalu dikaitkan dengan neraka (syeol).

Akan tetapi, dalam ucapan bahagia-Nya, Yesus justru mengatakan bahwa mereka yang miskin itu bahagia sebab memiliki Kerajaan Sorga. Suatu pernyataan yang kontradiktif. Lewat pernyataan-Nya itu, Yesus mau mematahkan pendapat lama sekaligus menanamkan hal baru bahwa orang miskin juga berhak atas Kerajaan Sorga.

Untuk membuktikan hal ini, selama hidup-Nya, Yesus hidup miskin dan hidup bersama orang miskin. Yesus menerapkan hidup miskin kepada para rasul-Nya ketika Ia mengutus mereka (Mat 10: 5 – 15). “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat 10: 8). Di sini Yesus menghendaki agar para rasul melaksanakan tugas perutusan tersebut dengan tanpa pamrih, bukan mencari uang atau imbalan. Lebih lanjut Yesus mengajak mereka untuk “menyingkirkan” harta benda (ay. 9 – 10).

Sekalipun beberapa kali Yesus bergaul dengan orang kaya, misalnya seperti Matius pemungut cukai (Mat 9: 9 – 13), pemuda yang kaya (Mat 19: 16 – 26), Zakheus (Luk 19: 1 – 10) dan Nikodemus (Yoh 3: 1 – 21), Yesus tidak serta merta menjadi kaya dan melupakan orang miskin. Malahan dalam perjumpaan-Nya dengan orang-orang kaya itu Yesus mengajak mereka untuk “melepaskan” kelebihan harta kekayaan mereka dan tidak menganggap sesuatu sebagai milik mereka sendiri. “Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga…” (Mat 19: 21). Yesus tidak memanfaatkan orang kaya itu untuk kepentingan Diri-Nya sendiri, tetapi tetap pada jalan hidup-Nya, yaitu miskin.