Selasa, 05 Oktober 2021

KETIKA KEGIATAN ROHANI DIJADIKAN PROYEK

 

Sekelompok anak muda berkumpul bersama di sebuah ruangan di pastoran. Mereka sedang membicarakan rencana kegiatan untuk kaum muda, yang dikenal dengan istilah Orang Muda Katolik (OMK). Pembicaraan terlihat sangat serius, mulai dari bentuk acara hingga dana. Soal dana mereka akan mengajukan proposal ke Departeman Agama Provinsi. Kebetulan salah satu pegawai Depag masih punya relasi baik dengan salah seorang pengurus OMK.

Tiba-tiba pastor masuk ke ruangan itu. Pastor itu adalah moderator OMK di paroki itu. Akan tetapi, serta merta mereka diam membisu. Dan dengan segera pembicaraan beralih ke topik yang lain. Pastor itu ikut nimbrung sebentar. Tak lama kemudian dia keluar. Sekelompok anak muda ini kembali kepada topik pembicaraannya.

***

Kisah di atas bukanlah kisah realita, melainkan kisah rekayasa. Namun bukan tidak mustahil kisah tersebut nyata dalam kehidupan menggereja kita. Kisah itu bisa ada di mana saja. Mungkin juga kita ada dalam kelompok anak muda tadi.

Senin, 04 Oktober 2021

SEJARAH MULA DOA ROSARIO

 

Kata “Rosario” pertama kali ditemukan dalam sebuah literature tahun 1327. Kata yang digunakan adalah “Rosarium”, yang berarti rangkaian bunga mawar. Bunga mawar, yang dikenal dengan nama bunga ros (Ing. = Rose) atau “Ratu Bunga”, merupakan simbol kehidupan religius dalam peradaban manusia. Hal ini mungkin dikaitkan dengan keindahan/kecantikan dan aroma wangi bunga mawar itu. Oleh orang Kristen kata “Rosarium” dikenakan kepada Bunda Maria.

Sebagai doa, Rosario bukanlah doa liturgi atau doa resmi Gereja meski doa ini sangat populer di kalangan umat katolik. Di doa rosario umat akan merenungkan karya penebusan Kristus di dalam 15 peristiwa Sejarah Keselamatan, sambil mendaraskan 1 x Bapa Kami, 10 x Salam Maria dan 1 x Kemuliaan, yang diawali oleh pendarasan Syahadat Para Rasul, 1 x Bapa kami, 3 x Salam Maria dan 1 x Kemuliaan.

Apakah doa Rosario yang ada sekarang ini sudah begitu dari dulu? Dapatlah dikatakan bahwa doa Rosario yang ada saat ini merupakan hasil perkembangan jaman. Pada mulanya praktek doa Rosario diambil dari kebiasaan mendaraskan 150 Mazmur (Doa Ofisi) setiap hari di kalangan para rahib di dalam kehidupan monastik zaman dulu. Para rahib awam yang tak bisa membaca menggantikan pendarasan Mazmur itu dengan 150 buah doa ‘Pater Noster’ (Bapa Kami). Sejak Gereja perdana doa Bapa Kami dianggap sebagai doa Gereja yang paling penting. Untuk memudahkan mereka mengetahui berapa jumlah doa Bapa Kami yang didaraskan, digunakanlah seutas tali bersimpul atau bermanik-manik. Oleh karena tali itu dipakai untuk menghitung doa ‘Pater Noster’ maka tali itu lazimnya disebut juga ‘Pater Noster’.

Pada abad XI, devosi kepada Bunda Maria mulai popular. Pada waktu itu muncul kebiasaan memberi salam kepada Bunda Maria bila seseorang melewati patung Maria. Doa atau salam yang dilantunkan adalah, “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu”. Salam ini merupakan gabungan sapaan Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria (Luk 1: 28) dan seruan Elisabeth kepada Bunda Maria (Luk 1: 42).

Minggu, 03 Oktober 2021

ORANG KUDUS 3 OKTOBER: ST. EMILIE DE VILLENEUVE

 


SANTA EMILIE DE VILLENEUVE

Yohana Emilie de Villeneuve lahir di Toulouse, Perancis, pada 9 Maret 1811. Sejak usia dini, dia bersama saudara perempuannya, Octavie, tinggal di kastil Hauterive dekat Castres, sambil menjaga ibu mereka yang sakit. Pada tahun 1815 ibunya meninggal saat dia berusia 14 tahun.

Setelah kematian ibunya, Emilie dan saudarinya itu tinggal di rumah neneknya di Toulouse. Neneknya-lah yang menjadi pendukung pendidikan mereka. Setelah 3 tahun tinggal bersama sang nenek, yaitu pada tahun 1818, Octavie meninggal dunia. Hal ini sungguh memukul hati Emilie dan membuatnya banyak berefleksi. Akhirnya, setelah berusia 19 tahun, Emilie memutuskan untuk kembali ke Hauterive dan hidup bersama dengan ayahnya. Dia berusaha mengatur kehidupan keluarganya, serta membantu meringankan tugas ayahnya sebagai Wali Kota Castres (1826 – 1830).

Pada 8 Desember 1836, dengan persetujuan uskup sekitar, Emilie bersama dua temannya, mendirikan sebuah kongregasi yang disebut Kongregasi Santa Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Kongregasi ini juga disebut “Suster-suster Biru dari Castres” karena pakaian mereka yang berwarna biru. Kongregasi yang mereka dirikan ini berkembang dengan cepat dan dikenal banyak orang. Di rumah yang serba terbatas di Castres, bersama teman-temannya, ia melayani orang miskin, pekerja muda, orang sakit, pelacur dan mereka yang tinggal di penjara. Dengan begitu cepat kongregasi ini berkembang dan bertambah jumlahnya. Pengaruhnya kian meluas sampai ke Afrika (Senegal, Gambia dan Gabon) setelah 12 tahun didirikan. Konstitusinya disetujui pada tahun 1842 dan karena perubahan zaman, konstitusi direvisi pada tahun 2004.