Senin, 02 Agustus 2021

INSPIRASI DARI METROMINI

 


Bagi warga kota Jakarta, tentu sudah tak asing dengan metromini, salah satu transportasi favorit ibukota. Sekalipun keadaan body bagian dalam babak belur, namun warga masih mengandalkannya, termasuk saya. Sudah menjadi kebiasaan saya, kalau bepergian arah Grogol, selalu menggunakan Metromini 91. Saya suka naik metromini ini karena larinya laju.

Umumnya setiap metromini terdiri dari seorang sopir dan seorang kenek. Bisa dikatakan bahwa sopir merupakan kepalanya, sedangkan kenek adalah bawahannya. Karena itu, sering kita dengar sopir memarahi kenek bila ada kekeliruan; sesuatu yang tak mungkin ditemukan jika kenek marah kepada sopir. Namun, terkadang terlihat juga bahwa kenek itu menjadi rekan kerja sopir.

Tugas sopir hanyalah mengendarai metromini. Dia tidak dipusingkan dengan urusan lain. Tugas lain dia serahkan kepada rekannya. Sekalipun posisinya lebih tinggi dari keneknya, dia taat kepada kenek jika rekannya itu memintanya untuk berhenti saat ada penumpang turun atau naik. Karena fokus pada kemudi, maka kebanyakan metromini lari dengan laju di antara kepadatan jalanan raya ibukota. Bahkan ia berani menyelip-nyelip kendaraan lain.

Tugas utama kenek ada empat jenis. Pertama, ia mencari penumpang di jalanan dengan cara berteriak-teriak menyebutkan tujuan metromini itu. Jika ada, segera ia memberitahu sopir (atasannya). Kedua, membantu menaikan dan menurunkan penumpang. Kenek yang lebih dahulu tahu penumpang hendak turun dimana; dan ia segera menyampaikannya kepada sopir (tidak disimpan sendiri). Ketiga, mengatur ongkos. Dia mendapat kepercayaan penuh dari sopir untuk meminta ongkos dari penumpang. Sopir tidak curiga kalau uang itu akan sedikit ditilep oleh rekannya. Terkait ongkos ini, ada satu hal positif dari kenek, yaitu kejujuran. Tarif jauh - dekat metromini adalah 3 ribu. Jika ada penumpang memberi 5 ribu, ia akan kembalikan 2 ribu (hal yang jarang ditemukan pada mikrolet). Keempat, di tengah-tengah kemacetan lalu lintas, kenek berperan membantu sopir untuk mencari celah agar metromininya bisa masuk.

Suatu hari, saya hendak ke Grogol. Seperti biasanya saya naik metromini. Saya setelah beberapa menit saya duduk, tidak ada orang yang datang meminta ongkos seperti biasanya. Saya coba lihat-lihat, ternyata memang metromini itu lagi tidak ada keneknya. Karena itu, semua pekerjaan ditangani sendiri oleh sopir. Dia yang melihat-lihat penumpang di jalan, dia sendiri yang menerima ongkos dan mengatur kembalian, jika penumpang memberi uang besar.

Minggu, 01 Agustus 2021

ORANG KUDUS DENGAN NAMA ROSA / KATARINA / PETRUS

Setiap orang tentulah mempunyai nama. Bagi orang kristen katolik, nama tidak hanya sekedar kumpulan huruf yang membentuk kata, tapi harus memiliki makna. Karena dari makna itulah akan terbentuk identitas dan kepribadian seseorang. Setidaknya makna yang terkandung pada sebuah nama mempunyai 2 jenis atau kategori, yaitu makna dari kata yang terkandung pada nama itu, dan makna yang terkandung dalam nama itu. Untuk jenis yang pertama dapat ditemui pada nama GRACE. Kata itu mempunyai makna rahmat atau berkat. Dengan memberi nama itu, maka orang yang menyandangnya diharapkan dapat menjadi berkat bagi orang lain. Hal inilah yang akan membentuk kepribadiannya di kemudian hari. Untuk jenis kedua dapat ditemui pada nama ADRIANUS. Kata ini merujuk pada nama orang kudus, sehingga orang yang menyandang nama ini diharapkan akan menghidupi teladan hidup orang kudus tersebut. Hal inilah yang akan membentuk kepribadiannya di kemudian hari.

Tradisi kristen katolik dalam memberi nama mengacu pada Kan. 855, yaitu agar nama yang diberikan kepada anak harus memiliki citarasa kristiani. Ada 3 kategori citarasa kristiani untuk nama anak. [1] Nama yang diambil dari Alkitab, baik itu nama tokoh maupun nama tempat. Untuk tokoh selalu diambil tokoh yang tidak menimbulkan skandal. Beberapa contoh nama kategori ini: Abraham, Yeremia, Elia, Betania, Galatia, Ruth, Esther, Tesalonika, dll. [2] Nama yang diambil dari nama orang kudus. Untuk memilih namanya, ada beberapa tawaran seperti berdasarkan tanggal kelahiran yang bersamaan dengan tanggal peringatan orang kudus atau berdasarkan intensi orangtua. Bisa juga didasari pada devosi orangtua atau tradisi keluarga. Beberapa contoh nama kategori ini: Maria, Yosef, Matius, Lukas, Paulus, dll [3] Nama yang diambil dari beberapa istilah atau kata yang tak asing dalam dunia kristen. Beberapa contoh nama kategori ini: Grace, Gloria, Sanctus, Angel, Immanuel, Natal, Paskah, Adven, dll.

Terkait dengan kategori kedua, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para orangtua. Harus diketahui ada banyak nama orang kudus yang memiliki kesamaan. Misalnya, untuk Santa Katarina setidaknya ada 8 orang kudus yang memiliki nama demikian. Untuk itu, ketika memberi nama Katarina untuk anaknya, orangtua wajib tahu Katarina mana yang dimaksud, karena hal ini untuk menjadi “identitas keperibadian” anak kelak.

Untuk maksud ini, blog budak bangka menurunkan nama orang kudus yang memiliki kesamaan nama. Untuk bulan ini, kami menampilkan Santa Rosa, Santa Katarina dan Santo Petrus. Silahkan klik pada nama orang kudus tersebut untuk mengetahui riwayat hidupnya.

Jumat, 30 Juli 2021

ADA JEJAK GNOSTISISME DALAM AL-QUR’AN

 


Al-Qur’an diyakini oleh umat islam sebagai wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada nabi Muhammad. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an sekarang merupakan kata-kata Allah sendiri. Karena itulah, umat islam menilai Al-Qur’an itu suci sehingga harus dihormati. Pelecehan terhadap Al-Qur’an dinilai sebagai pelecehan terhadap Allah. Umat islam sudah diperintahkan untuk membunuh orang yang melakukan hal tersebut.

Benarkah apa yang tertulis dalam Al-Qur’an itu sungguh perkataan Allah, tanpa campur tangan atau pengaruh luar? Tentulah umat islam tidak akan mau menerima klaim adanya pengaruh luar dalam kitab sucinya. Karena itulah, dalam islam tidak ada studi terhadap Al-Qur’an. Kitab tersebut diterima begitu saja.

Padahal, bila dilakukan tinjauan dan perbandingan ilmu-ilmu lain, maka dapat terlihat adanya pengaruh asing dalam Al-Qur’an. Ketika mengkritisi Al-Qur’an, Ibn Warraq menemukan ada banyak sumber yang menjadi rujukan Al-Qur’an. Dengan demikian, ia tidak murni dari Allah. Warraq menyebut sumber Al-Qur’an 10% dari Kitab Talmud Babilonia, 5% dari potongan Injil yang diselewengkan, 25% dari Hindu, 10% dari kepercayaan animisme Arab dan 40% khayalan Muhammad. Temuan Warraq ini dituangkannya dalam buku yang berjudul “Membedah Asal Usul Al-Qur’an”.

Kami sendiri menemukan adanya jejak ajaran Nestorianisme dalam Al-Qur’an. Kebetulan, kaum nasrani yang ada di Mekkah dan Madinah pada masa Muhammad adalah kaum nasrani yang beraliran Nestorian. Mereka sudah dinyatakan sesat oleh Konsili Efesus pada 431 Masehi. Lebih lanjut mengenai jejak nestorianisme ini, siahkan baca di “Menemukan Jejak Nestorianisme dalamIslam”.

Akan tetapi, ternyata bukan hanya ajaran nestorianisme saja yang ada dalam Al-Qur’an, melainkan juga ajaran Gnostisisme turut memberi pengaruh. Kebetulan ajaran nestorianisme tak bisa juga dipisahkan dari ajaran gnostisisme. Pada abad pertama, aliran ini menjadi ancaman bagi keyakinan iman kaum kristiani. Pengaruh aliran gnostisisme dalam Al-Qur’an tampak dalam pandangannya terhadap Yesus atau Isa Almasih.