Rabu, 16 Juni 2021

BETAPA PENTINGNYA KEDISIPLINAN DIRI


 

John C. Maxwell berkata, “Betapapun berbakatnya seorang pemimpin, ia tidak akan mencapai potensi maksimalnya jika ia tidak disiplin.”

Mazwell mau mengatakan kepada kita bahwa jalan menuju puncak tidaklah mudah. Ada begitu banyak tantangan, baik yang berasal dari luar diri kita maupun dari dalam diri kita sendiri. Tidak banyak orang yang berhasil mencapai posisi terbaik dalam sebuah pekerjaan. Bahkan yang dianggap terbaik malah jauh lebih sedikit.

Salah satu syarat untuk dapat mencapai puncak prestasi adalah kedisiplinan diri. Bisa dikatakan bahwa tak seorang pun bisa meraih prestasi dan mempertahankannya tanpa disiplin. Disiplin menempatkan seorang ke tingkat tertinggi dan membuat prestasinya bertahan lama.

Untuk mengembangkan gaya hidup disiplin, salah satu caranya adalah hilangkan kecenderungan membuat alasan. Jika kita selalu punya banyak alasan mengapa kita tidak bisa disiplin, sadarilah bahwa itu hanyalah suatu pembenaran diri. Jadi, persoalan disiplin itu ada pada kemauan, bukan pada kemampuan.

Jika sekarang kita kurang disiplin, mungkin selama ini kita terbiasa menikmati makanan pencuci mulutnya sebelum memakan nasinya, menikmati imbalan sebelum pekerjaan selesai. Nah, mentalitas seperti inilah yang harus dihilangkan, karena ia menghambat kita mencapai prestasi.

Fokuslah pada hasil akhir dan setialah pada prosesnya. Setiap kali berkonsentrasi pada kesulitan pekerjaan dan bukan pada hasilnya, kita akan cenderung putus asa. Jika berkutat pada hal ini terlalu lama, kita akan menumbuhkan sifat mengasihani diri sendiri, bukan kebiasaan disiplin. Pikirkan keuntungan dari melakukan pekerjaan itu, dan kerjakan saja.

Jika kita tahu bahwa kita berbakat dan kita telah berusaha keras, namun hanya memperoleh sedikit hasil nyata, kita mungkin kurang disiplin. Perhatian jadwal kita minggu lalu, adakah yang meleset dari target-target? Jika kita menunda-nunda dan berniat melakukannya nanti, mungkin kita perlu membenahi disiplin kita. Kedisiplinan berkaitan erat dengan kesetiaan. Orang yang setia adalah juga orang yang dapat disiplin.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Senin, 14 Juni 2021

ANAK BELUM LAYAK MAIN FACEBOOK


 

Dewasa ini, melihat anak kecil memegang HP bukanlah suatu hal yang aneh. Bukan cuma anak SD saja, melainkan juga anak TK pun sudah terbiasa memengang dan mengutak-atik HP. Malah ada anak yang mempunyai HP jauh lebih canggih dari orangtuanya. Memang awalnya orangtua memberikan HP kepada anaknya agar mudah berkomunikasi dan memudahkan orangtua “mengontrol” anaknya.

Namun sayang orangtua tidak memperhatikan efek lanjut dengan adanya HP itu. Dengan HP itulah anak bisa melakukan apa saja yang dia sukai tanpa kontrol dari orangtua. Salah satunya adalah mengakses facebook.

Apakah facebook itu buruk? Bagaimana dampaknya bagi anak-anak? Berikut ini akan disajikan tulisan yang mengulas soal facebook dan anak-anak. Tujuan tulisan ini agar para orangtua dapat menyadari akan dampak buruk dari facebook itu dan dapat mengambil sikap demi tumbuh kembangnya anak-anaknya.

Anak Harus Berhenti Main Facebook

Demam jejaring sosial Facebook saat ini memang bukan hanya melanda orang dewasa. Tak jarang kita jumpai, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) pun sudah sangat paham menggunakan situs pertemanan di dunia maya tersebut. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan.

Psikolog anak Dra Rose Mini, MSi menilai bahwa  facebook sebenarnya bukanlah untuk konsumsi anak-anak. Pasalnya, ada ketentuan-ketentuan tertentu yang tidak memperbolehkan seorang anak mengakses situs yang sangat populer itu. Facebook itu buat orang berusia 17 tahun ke atas, tegas wanita yang akrab dipanggil Bunda Romi.

Minggu, 13 Juni 2021

RESENSI BUKU TIGA PILAR ISLAM

 


Judul Buku                  : TIGA PILAR ISLAM: Pengantar kepada  Pengenalan Agama Islam

Penulis              : Sunairda

Penerbit             : Blog Budak Bangka

Tahun Terbit      : Januari 2021 (edisi Revisi)

Jumlah Halaman          : 76 halaman

Sinopsis Buku

Latar belakang penulisan buku ini adalah adanya 2 ekstrem pandangan terhadap islam. Sayangnya, kedua ekstrem itu lebih didasari pada perasaan bukan pada pemahaman akal budi. Dan kedua ekstrem itu tidak termasuk bagian dari ajaran islam.

Buku ini mengulas 3 pilar islam, yakni Allah, Al-Qur’an dan Muhammad. Dengan sangat menarik ketiga pilar tersebut digambarkan dengan sangat pas pada cover buku ini. Dalam buku ini dibahas secara garis besar atau secara umum tentang ketiga pilar tersebut, mengingat sifat dari buku ini hanyalah sebatas “pengantar”.

Uraian pembahasan buku ini enak dibaca, karena terkesan penulis menghindari penggunaan istilah-istilah yang dapat membuat bingung pembaca. Bahasa yang dipakai pun terbilang sederhana, dan penggunaan bahasa Indonesia sesuai EYD. Dapatlah dikatakan buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang hendak mengenal islam, bukan saja untuk non muslim tetapi juga untuk umat islam sendiri.