Senin, 16 November 2020

TIDUR SEPERTI DITINDIH MAKHLUK HALUS, INI PENJELASANNYA

 

Mungkin kita pernah mengalami tidur kaku atau saat tidur seperti ditindih oleh makhluk halus. Pada saat mengalami ini biasanya kita akan sulit sekali bergerak dan kemudian ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Biasanya disertai dengan munculnya bayangan kegelapan. Dari sinilah kemudian sebagian orang mengatakan ketindihan makhluk halus. Padahal ini biasa diterangkan secara ilmiah. istilah medis hal ini adalah Sleep Paralysis.

Sleep paralysis merupakan keadaan dimana ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Kejadian itu bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali. Atau kalau tidak, ini pengalaman pribadi, kita tidak perlu berusaha bergerak tapi kita berusaha untuk menenangkan pikiran. Singkirkan halusinasi keberadaan makhluk halus itu lalu otak berusaha memerintahkan tubuh untuk bergerak.

Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM). Berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan yaitu tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Ketika kita tidur, 80 menit pertama, kita memasuki kondisi Non Rem, lalu diikuti 10 menit REM. Siklus 90 menit ini berulang sekitar 3 sampai 6 kali semalam. Selama Non REM, tubuh kita menghasilkan beberapa gerakan minor dan mata kita bergerak-gerak kecil. Ketika kita masuk ke kondisi REM, detak jantung bertambah cepat, hembusan nafas menjadi cepat dan pendek dan mata kita bergerak dengan cepat (Rapid eye movement - REM). Pada tahap REM inilah mimpi terjadi. Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM), di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.

Jumat, 13 November 2020

MENGENAL KEWAJIBAN-KEWAJIBAN UMAT ISLAM

Segala sesuatu yang harus dilakukan oleh seseorang dengan tanggung jawab dipahami sebagai kewajiban. Ada dua sumber kewajiban, yaitu dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Kewajiban internal sengaja ditumbuhkan oleh diri sendiri karena ada sesuatu yang hendak diraih, sedangkan kewajiban eksternal dikenakan oleh otoritas yang lebih tinggi. Setiap orang yang telah melaksanakan kewajibannya akan mendapatkan ganjaran. Umumnya orang memahami ganjaran sebagai hak. Karena itulah, hak dipahami sebagai seperangkat hal yang diperoleh seseorang sebagai akibat dari penyelesaian kewajibannya. Hak ini selalu dikaitkan dengan kewajibannya.
Dalam kehidupan beragama, setiap agama mempunyai kewajiban bagi umatnya. Kewajiban dalam agama dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu kewajiban positif dan kewajiban negatif. Kewajiban positif berarti sesuatu yang mengharuskan untuk dilakukan, sedangkan sesuatu yang mengharuskan untuk tidak dilakukan dikenal sebagai kewajiban negatif. Umumnya kewajiban itu bersifat internal, yaitu berasal dari Tuhan. Selain Tuhan, kewajiban juga dikenakan kepada umat oleh otoritas agama. Dalam agama, umat yang telah menjalankan kewajibannya akan diganjar pahala, yang bisa dipahami sebagai “kredit poin” untuk masuk sorga. Semakin banyak pahala, maka semakin besar peluang untuk dapat masuk sorga. Beberapa agama masih menjanjikan “pahala” lain lagi di sorga.
Umumnya orang mengenal bahwa islam mempunyai 5 kewajiban, yang dikenal sebagai rukun islam. Kelima kewajiban itu adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, berpuasa pada bulan ramadhan, menunaikan zakat dan pergi haji. Bisa dikatakan bahwa 5 kewajiban ini merupakan jenis kewajiban positif. Akan tetapi, dalam islam di antara 5 kewajiban tersebut ada yang bersifat mutlak, ada juga yang relatif. Kewajiban menunaikan zakat dan pergi haji merupakan kewajiban yang bersifat relatif, artinya umat tidak mutlak melakukannya. Dua kewajiban itu dikenakan hanya kepada yang mampu saja. Demikian pula kewajiban berpuasa dalam bulan ramadhan.
Selain 5 kewajiban tersebut, masih ada beberapa kewajiban lainnya, yang nilainya tak jauh beda dengan 5 kewajiban tadi. Artinya, umat islam terpanggil untuk melaksanakannya. Kewajiban-kewajiban islam lainnya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

Kamis, 12 November 2020

PENGHAYATAN KAUL KEMISKINAN: DULU DAN SEKARANG


Kaul kemiskinan merupakan satu dari tiga kaul yang diucapkan oleh mereka yang ditahbiskan menjadi imam serta mereka yang mengikatkan dirinya pada suatu Lembaga Hidup Bakti. Umumnya istilah “kaul” lebih sering digunakan untuk biarawan dan biarawati, yang masuk dalam Lembaga Hidup Bakti, sedangkan istilah janji dipakai untuk imam non Lembaga Hidup Bakti atau imam diosesan. Dalam tulisan permenungan ini istilah yang dipakai cuma “kaul” saja. Dengan penyebutan atau penulisan kata “kaul” berarti termaksud juga istilah “janji”.

Di atas sudah dikatakan bahwa kaul kemiskinan ini merupakan salah satu dari tiga kaul. Ketiga kaul itu adalah kemiskinan, kemurnian (selibat) dan ketaatan. Ketiga kaul ini termasuk tiga nasehat Injil, dengan catatan dilakukan demi kerajaan Allah. Tiga nasehat Injil ini didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan dan dianjurkan oleh para Rasul, para Bapa-bapa Gereja. Maka nasehat-nasehat itu merupakan kurnia ilahi, yang oleh Gereja diterima dari Tuhan dan selalu dipelihara dengan bantuan rahmat-Nya demi tercapainya cinta kasih sempurna. (Lumen Gentium no 43, Perfectae Caritatis no 1).

Memang dewasa ini tiga nasehat Injil ini identik dengan kaum religius dan para imam (klerikus). Namun bukan berarti bahwa ketiga nasehat Injil ini hanya khusus untuk mereka. Umat beriman kristiani juga wajib menghayatinya (bdk. LG, no 44). Malah bisa dikatakan bahwa penghayatan nasehat-nasehat Injil sebagai wujud mengikuti Kristus muncul pertama kali dalam diri kaum awam (bdk. PC no 1). Namun, baik awam maupun bukan, Lumen Gentium menasehati agar “setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasehat-nasehat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya ia bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi makin suburnya kesudian Gereja, supaya makin dimuliakanlah Tritunggal yang satu tak terbagi, yang dalam Kristus dan dengan perantaraan Kristus menjadi sumber dan asal segala kesucian.” (no. 47).

Dalam permenungan ini kita hanya fokus melihat kaul kemiskinan. Di sini saya ingin membagikan sedikit permenungan tentang “perjalanan” kaul kemiskinan itu. Dikatakan “perjalanan” karena ada perubahan dalam penghayatan kaul tersebut dulu dan kini. Uraian ini murni sebuah permenungan, bukan ulasan sejarah. Bukanlah maksud saya untuk mencela atau menyalahkan penghayatan kaul kemiskinan dewasa ini. Dan bukan juga tujuan saya untuk mencari pembenaran atas penghayatan kaul kemiskinan ini. Benar salahnya penghayatan kaul ini berpulang pada masing-masing individu.

Kaul Kemiskinan: Dulu dan Kini