Kamis, 01 Oktober 2020

INILAH KEBOHONGAN IBU DEMI KEBAIKAN KITA


Aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- Inilah KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata: “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata: ”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata: ”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata: “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Rabu, 30 September 2020

SEBELUM CERAI, BACALAH KISAH INI


Pada hari pernikahan, Joko membopong istrinya, Sri. Mobil pengantin berhenti di depan flat mereka yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabat Joko menyuruhnya membopong Sri begitu keluar dari mobil. Maka Joko membopong Sri memasuki rumah mereka. Mereka kelihatan malu-malu. Joko merasa dirinya adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Mereka mempunyai seorang anak. Joko terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih di antara mereka pun semakin surut. Sri adalah pegawai sipil. Setiap pagi mereka berangkat kerja bersama-sama dan sampai di rumah juga pada waktu yang kurang lebih bersamaan.

Anak mereka sedang belajar di luar negeri. Perkawinan mereka kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dewi hadir dalam kehidupan Joko. Waktu itu adalah hari yang cerah. Joko berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulnya. Hatinya sekali lagi terbenam dalam aliran cinta. Ini adalah apartmen yang dibelikan untuknya. Dewi berkata, “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkan Joko pada istrinya. Ketika mereka baru menikah, istrinya pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Joko menjadi ragu-ragu. Joko tahu kalau dirinya telah  mengkhianati Sri. Tapi dia tidak sanggup menghentikannya. Joko melepaskan tangan Dewi dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.? Aku ada sedikit urusan di kantor” Kelihatan Dewi jadi tidak senang karena Joko telah berjanji menemaninya.

Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiran Joko walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, Joko merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada Sri. Walau bagaimanapun dijelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu mereka akan menonton TV sama-sama. Atau Joko akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dewi. Ini adalah hiburan.

Suatu hari Joko berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan?” Sri menatap selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Joko tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa dirinya serius.

Selasa, 29 September 2020

“INI KOTA TUHAN”


Pada musim gugur 1925, Carl Gustav Jung mengadakan perjalanan ke Afrika Tropis, tepatnya Uganda. Dalam perjalanan di Afrika dengan kereta api, Jung singgah sebentar di terminal sementara, stasiun Sigistifour. Jung duduk merenung sambil mengisap pipa. Tak lama kemudian seorang Ingris tua menghampirinya dan duduk sambil mengisap pipa.
“Apakah ini pertama kali Anda ke Afrika?” tanya orangtua itu. “Saya sudah 40 tahun di sini.”
Carl Gustav Jung mengiyakan, namun ia juga menegaskan bahwa yang dimaksudnya adalah Afrika bagian ini. Sebelumnya ia pernah ke Afrika Utara.
“Kalau begitu, bolehkah saya sedikit memberi saran?” orangtua itu melanjutkan. “Begini Tuan, kota ini bukanlah kota manusia. Ini kota Tuhan. Jadi, jika ada sesuatu hal yang terjadi, Anda cukup duduk tenang dan tak usah khawatir.”
Setelah mengatakan hal itu, orangtua itu pergi tanpa bila apa-apa lagi. Ia menghilang di tengah kerumunan orang banyak.
DEMIKIANLAH sepenggal catatan pengalaman Carl Gustav Jung. Satu hal yang menarik dari kisah tersebut adalah “pertentangan” antara kota manusia dan kota Tuhan. Dikatakan bahwa kota, dimana Jung tiba saat itu, atau juga kota lainnya yang ada di Afrika, adalah kota Tuhan.
Dari pernyataan orangtua Inggris itu, kita dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan “kota Tuhan” adalah kota dimana Tuhan yang memegang kendali. Tuhan-lah yang mengatur segala-galanya. Manusia tinggal menjalani hidupnya, yang memang sudah diatur. Jika ada masalah, manusia tak perlu khawatir. Ada Tuhan yang selalu siap membantu. Di sini mau dikatakan, dibutuhkan sikap berserah diri kepada kehendak Tuhan.
Dapat dibayangkan kehidupan manusia di kota Tuhan pastilah tenang; tidak ada sikap ketergesa-gesaan. Itulah gambaran “kota manusia”. Berbeda dengan kota lainnya, “kota manusia” dapat dipahami sebagai kota yang dikendalikan oleh manusia. Sebanyak manusianya, sebanyak itu juga pengendalinya. Dan setiap manusia juga mempunyai pengendalinya sendiri.
Secara sederhana kita bisa memahami “kota manusia” dengan kota yang dipenuhi kesibukan. Tiap-tiap orang memiliki kesibukannya sendiri sehingga tidak peduli dengan urusan sesamanya. Dalam “kota manusia” setiap orang seakan mengejar dan dikejar waktu. Bukan tidak mungkin, dalam “kota manusia” ini berlaku juga semangat homo homini lupus.
Sepertinya perkataan orangtua Inggris itu bukanlah isapan jempol belaka. Dia sudah 40 tahun hidup di sana, meninggalkan kota kelahirannya yang jauh lebih modern ketimbang Afrika. Namun dia merasakan kedamaian di Afrika, karena di sana benar-benar “kota Tuhan”. Dapat dipastikan bahwa kota tempat asalnya adalah “kota manusia”.
Ujung Beting, 26 Juni 2020
by: adrian