Senin, 17 Februari 2020

PAUS FRANSISKUS: KAUM RELIGIUS HARUS SEPERTI SIMEON

Pada misa Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, 1 Februari 2020, Paus Fransiskus memusatkan perhatian pada kata-kata Simeon ketika ia menemukan Kristus di Bait Allah” “Mataku telah melihat keselamatan yang berasal dari-Mu” (Luk 2: 30). Ketika berbicara langsung dengan pria dan wanita hidup bakti, yang hadir untuk Hari Hidup Bakti sedunia, Paus Fransiskus mengatakan bahwa mereka seperti Simeon, “adalah pria dan wanita sederhana yang melihat harta yang bernilai lebih dari kebaikan duniawi.” Kemampuan mengenali Yesus, untuk melihat “apa yang benar-benar penting dalam hidup” adalah inti dari kehidupan religius.
Visi ini, jelas Paus Fransiskus, dimulai dengan “mengetahui cara melihat rahmat,” terutama dengan melihat cara Allah bekerja dalam hidup kita, “bukan hanya di saat-saat besar kehidupan tetapi juga dalam kerapuhan dan kelemahan kita.” Paus Fransiskus mengingatkan “melihat sesuatu dengan cara duniawi” adalah godaan besar dalam hidup religius, yang bisa menyebabkan kehilangan gairah, kesedihan, ketidak-percayaan. Sebaliknya, mampu “memahami rahmat Allah bagi kita, seperti Simeon,” memberi makna pada karunia kemiskinan, kesucian dan kepatuhan yang dijalani dengan sukarela.
Melanjutkan renungannya tentang sosok Simeon, Paus Fransiskus mengatakan ia “melihat Yesus sebagai orang kecil, rendah hati, yang datang untuk melayani, bukan untuk dilayani, dan mendefinisikan diri-Nya sebagai pelayan.” Melihat Yesus dengan cara ini, dan kemampuan melihat apa yang Dia lakukan, akan mengajarkan kita cara “hidup untuk melayani.” Paus Fransiskus melanjutkan, “Kita perlu memiliki pandangan yang berupaya mencari sesama kita.” Dan kaum religius dipanggil untuk membawa pandangan itu ke dunia kita.

INILAH INDIKASI PACARAN YANG SEHAT


Pacaran adalah sebuah tugas perkembangan yang memang perlu dilalui oleh seorang remaja. Erikson, seorang psikolog perkembangan, menilai kalau remaja perlu belajar mengenal lawan jenisnya, yang tentu saja tujuannya untuk memperluas pergaulan dan juga untuk mengembangkan pribadinya guna persiapan memasuki masa dewasa. Dengan berpacaran, remaja akan belajar bagaimana membentuk komitmen dan juga membangun tanggung jawab pribadi.
Pacaran pada hakikatnya adalah proses untuk saling mengenal; proses seseorang belajar give and take, serta memegang tanggung jawab. Dalam proses ini kata kunci yang harus muncul adalah “saling” sehingga dalam relasi pacaran itu terwujud simbiose mutualisme. Namun, hal inilah yang tidak dipahami remaja. Mereka lebih melihat pacaran sebagai proses bersenang-senang dan proses untuk bisa diterima sebagi pribadi dewasa serta masuk dalam dunia orang dewasa. Karena itu, tak jarang dalam pacaran remaja menunjukkan “kedewasaan” dengan melakukan hubungan seks.
Bagaimana pacaran yang sehat? Di bawah ini ada beberapa poin untuk direnungkan dan bisa menjadi tolok ukur melihat relasi pacaran kita.

Minggu, 16 Februari 2020

PAUS FRANSISKUS: HARGAILAH ORANG-ORANG YANG MENEMANI KITA DALAM KEHIDUPAN


Keluarga tidak hanya terdiri dari ayah, ibu, kakak dan adik, paman dan kakek-nenek, tetapi juga keluarga lebih besar dari yang menemani kita di jalan kehidupan selama beberapa waktu, di tempat kerja atau di tempat belajar. Keluarga merupakan tema homili Paus Fransiskus dalam misa pagi di Casa St. Martha, 14 Februari 2020. Homili itu berdasar pada pensiunan karyawan Casa St. Martha yang hadir dalam misa itu, yakni Patrizia.
Paus Fransiskus menyamakan Casa St. Martha, tempat tinggalnya, dengan “keluarga besar” yang terdiri dari orang-orang yang menemani kita di jalan kehidupan. Mereka bekerja setiap hari dengan dedikasi dan perhatian, membantu jika seorang rekan sakit, merasa sedih jika salah satu dari mereka pergi. Wajah-wajah, senyjman-senyjman dan ucapan-ucapan selamat, kata Paus Fransiskus, seperti benih yang ditaburkan di hati setiap orang. Di saat perpisahan, baiklah kalau kita “mengenang kembali dan berterima kasih” serta meminta maaf kepada orang-orang yang menemani perjalanan kita.
Mengenang Patrizia yang berhenti kerja setelah 40 tahun pelayanan, Paus Fransiskus menjelaskan baiklah kalau orang-orang di Casa St. Martha memikirkan berada dalam satu keluarga yang menemani. Demikian pula, yang bukan di Casa St. Martha hendaknya memikirkan tetangga, teman, kolega di tempat kerja atau tempat studi. Tuhan ingin kita ditemani, tidak sendirian. Tuhan tidak ingin kita menjadi egois dan mementingkan diri sendiri adalah dosa.