Jumat, 22 Maret 2019

BAGAIMANA MENGHADAPI FITNAH


Tak dapat dipungkiri hampir semua kita pasti pernah mengalami tuduhan, fitnah bahkan ada rencana jahat terhadap kita. Padahal kita yakin bahwa tak ada sedikit pun niat jahat dalam hati kita. Tentulah perasaan awal yang muncul adalah sedih, kecewa dan marah. Dan bukan tidak mustahil ada juga rencana untuk balas dendam sebagai pelampiasan rasa amarah.
Blog budak-bangka lima tahun lalu, persisnya hari ini, 22 Maret 2014, mengangkat permasalahan tersebut di atas dalam sebuah tulisan dengan judul “Cara Daud Hadapi Tuduhan”. Tulisan tersebut merupakan refleksi penulis berangkat dari kisah pengalaman Raja Daud yang ada dalam Kitab Suci. Ada pesan moral dalam kisah pengalaman Raja Daud yang bermanfaat bagi siapa saja yang mempunyai keterbukaan hati. Secara tak langsung, penulis tulisan tersebut hendak mengajak kita untuk mengikuti teladan Raja Daud.
Tulisan lima tahun lalu itu dikemas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang ringan dan sederhana sehingga mudah dinikmati. Berhubung tulisannya tidak terlalu panjang dan diurai secara to the point, maka pembaca pun dapat segera menemukan pesannya. Dan apa pesan tulisan tersebut? Bagaimana cara Daud menghadapi tuduhan? Siapa yang menuduhnya? Semua jawaban ini dapat ditemui dengan meng-klik dan membaca di sini. Selamat membaca!!!

Selasa, 19 Maret 2019

TOA DAN SURAH TAHA


Semua masjid pasti mempunyai alat pengeras suara yang biasa disebut TOA. Ada kesan bahwa pengeras suara tersebut dilihat sebagai salah satu atribut doa atau setidaknya sebagai alat bantu bagi umat islam dalam berdoa. Akan tetapi, keberadaan TOA ini bukan tanpa masalah, khususnya bagi umat non muslim. Keberadaan suara yang dihasilkan TOA ini, tidak hanya adzan saja, sungguh dirasakan sangat menggangu ketenangan dan kenyamanan. Ada begitu banyak orang merasa terganggu dengan kebisingan yang dihasilkan dari dalam masjid. Hal ini menimbulkan kesan bahwa doa umat islam menggangu ketenangan dan kenyamanan orang lain. Konyolnya, umat islam justru merasakan kebenaran ajaran imannya, bahwa suara adzan membuat setan-setan gelisah ketakutan (implisit mengatakan umat non muslim adalah setan).
Umat islam sendiri merasa bahwa TOA tak bisa dipisahkan dari aktivitas religius mereka. Karena itu, mempersoalkan keberadaan TOA dapat memicu masalah. Di kota Tanjung Balai Asahan pernah terjadi kerusuhan lantaran seorang perempuan Tionghoa meminta agar pengurus masjid mengecilkan volume suara TOA tersebut. Di daerah Sagulung, Batam, nyaris terjadi konflik lantaran seorang bapak tua meminta volume TOA dikecilkan.
Sebenarnya masalah kebisingan yang dihasilkan dari dalam masjid oleh alat pengeras suara ini sudah pernah disinggung oleh pemerintah. Wakil Presiden Yusuf Kalla, pada Juni 2015 lalu melarang masjid memutar kaset pengajian karena menyebabkan “polusi suara”. Dan menteri agama juga, pasca tragedi Tanjung Balai Asahan, terus menerus menghimbau pengurus masjid untuk mengurangi volume TOA.

ISLAM, TOA DAN TERORISME


Agama islam sepertinya sudah diidentikkan dengan keberadaan TOA (pengeras suara) di masjid-masjid. Di setiap masjid pasti selalu mempunyai alat pengeras suara itu; soal jumlah dan ukurannya bervariasi. Ada kesan bahwa pengeras suara tersebut sebagai salah satu atribut doa atau setidaknya sebagai alat bantu bagi umat islam dalam berdoa. Karena itu, tidak heran ketika umat islam berdoa selalu terdengar dimana-mana dari pengeras suara tersebut. Yang paling sering adalah adzan.
Akan tetapi, keberadaan TOA ini bukan tanpa masalah, khususnya bagi umat non muslim. Keberadaan suara yang dihasilkan TOA ini, tidak hanya adzan saja, sungguh dirasakan sangat menggangu ketenangan dan kenyamanan. Ada begitu banyak orang merasa terganggu dengan kebisingan yang dihasilkan dari dalam masjid. Hal ini menimbulkan kesan bahwa doa umat islam menggangu ketenangan dan kenyamanan orang lain. Konyolnya, umat islam justru merasakan kebenaran ajaran imannya, bahwa suara adzan membuat setan-setan gelisah ketakutan (implisit mengatakan umat non muslim adalah setan).
Umat islam sendiri merasa bahwa TOA tak bisa dipisahkan dari aktivitas berdoa mereka. Karena itu, mempersoalkan keberadaan TOA dapat memicu masalah. Di kota Tanjung Balai Asahan pernah terjadi kerusuhan lantaran seorang perempuan Tionghoa meminta agar pengurus masjid Al Maksum yang ada di lingkungannya mengecilkan volume TOA tersebut. Di daerah Sagulung, Batam, nyaris terjadi konflik lantaran seorang bapak tua meminta volume TOA dikecilkan.