Senin, 23 Juli 2018

JANGAN BIASA MEMANJAKAN ANAK

Seorang bayi selalu berpenampilan lucu menggemaskan. Banyak orang suka, tidak hanya orangtua. Sikap suka ini bisa jatuh pada sikap memanjakan. Apa “yang diminta” lewat tangisan, segera dipenuhi. Hal ini kelak akan membekas dalam alam bawah sadarnya ketika usia kanak-kanak: kalau saya nangis maka permintaan saya dipenuhi.
Ketika anak memasuki usia kanak-kanak, tak sedikit orangtua memanjakan anaknya. Di saat orangtua hidup agak mapan, banyak yang berprinsip “Biarlah kesusahan masa lalu, cuma saya saja yang merasakan.” Karena itu, orangtua selalu membuat anaknya bahagia dengan memanjakannya, tak ingin anaknya merasakan getirnya perjuangan hidupnya. Maka, jika anak minta sesuatu, orangtua akan berusaha memenuhinya. Tak heran bila melihat HP anak zaman sekarang jauh lebih canggih dari orangtuanya.
Tanpa disadari, sebenarnya orangtua telah menebarkan racun dalam hidup anaknya sendiri. Memanjakan anak akan membuat anak memiliki mental santai, malas, mudah menyerah kalah ketika menghadapi sedikit tantangan, dan tidak menghargai proses (bermental instan). Mental ini sudah terlihat ketika anak memasuki usia remaja. Dan dengan mental ini, orangtua akan mengalami kesulitan dalam proses pendampingan. Bersikap keras terhadap mereka akan terlambat, karena anak bisa berbuat nekad seperti lari dari rumah (beda ketika anak masih SD).
Karena itu, hendaknya orangtua tidak memanjakan anaknya. Sejak usia dini anak harus dilatih untuk tidak manja. Orangtua harus menularkan perjuangan hidupnya kepada anak, sehingga anak tahu bahwa keberhasilan harus ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan.
by: adrian

DAFTAR PEMENANG PIALA DUNIA DARI MASA KE MASA


Federasi Sepak Bola Internaional, atau biasa dikenal dengan FIFA, merupakan badan resmi pengendali internasional sepak bole. FIFA didirikan di Paris pada 21 Mei 1904, dengan slogan “For the game, for the World”. Presiden FIFA yang pertama adalah Robert Guerin (1904 – 1906). Kantor pusat FIFA ada di Zurich, Swiss.
FIFA adalah badan resmi menyelenggarakan turnamen Piala Dunia. Turnamen piala dunia pertama diselenggarakan pada tahun 1930, ketika Jules Rimet menjabat presiden FIFA. Berikut ini data negara pemenang piala dunia (warna merah adalah pemenangnya).
Tahun
Tuan Rumah
Partai Final
1930
Uruguay
Uruguay (4) vs (2) Argentina
1934
Italia
Italia (2) vs (1) Rep. Ceko
1938
Perancis
Italia (4) vs (2) Hungaria
1950
Brasil
Uruguay (2) vs (1) Brasil
1954
Swiss
Jerman Barat (3) vs (2) Hungaria
1958
Swedia
Brasil (3) vs (1) Swedia
1962
Chili
Brasil (3) vs (1) Rep. Ceko
1966
Inggris
Inggris (4) vs (2) Jerman Barat

Jumat, 20 Juli 2018

MELIHAT MUHAMMAD DARI SISI PSIKOLOGI

Semenjak kecil Muhammad menunjukkan gejala “gangguan perilaku ketergantungan” setelah dibuang oleh ibunya. Ia kemudian mulai menunjukkan gejala “kompleksitas Oedipus” karena hubungannya dengan sang bibi, Fatimah, yang menjadi akar dari kecanduan seksnya dan kejahatan seksual selama hidupnya.
Muhammad mulai menderita skizofrenia, kemungkinan sebagai salah bentuk perlawanan atas ketidak-seimbangan yang terjadi pada jiwanya, suatu kondisi yang dimanfaatkan Khadijah untuk kepentingannya. Kisah gangguannya merupakan hasil pemahaman akan Yudaisme dan kekristenan yang diputar-putar dan samar-samar. Dididik oleh istri dan keponakan istrinya yang pemuja okultisme, Waraqah, sakit jiwa yang dialami Muhammad yang sering menyebabkan ia mengalami halusinasi yang tidak logis menyebabkan Muhammad mewahyukan perintah-perintah yang tidak berhubungan dengan hukum dan nubuatan Musa seperti yang ada dalam Alkitab.
Sebagai seorang opurtunis, Khadijah meyakinkan Muhammad kalau ia adalah seorang nabi, dan tidak sedang menderita penyakit jiwa. Muhammad kemudian dididik secara gigih oleh istrinya dan mulai mempercayai mitos yang dibuatnya. Muhammad akhirnya mulai menderita “kompleksitas juruselamat” dan mulai meyakini dalam pikirannya akan sebuah rencana khusus untuk mentransformasi Arabia seturut dengan kehendak Allah, tetapi sebenarnya rencana itu adalah visi dan agenda politik (bisnis) Khadijah.
Muhammad kemudian menjadi terpedaya dengan ego baru ciptaannya sendiri dan sanjungan yang ia terima. Dengan memahami bahwa kekuasaan yang dimilikinya dan mitos yang diciptakannya makin bertambah, ia mulai terjangkiti “gangguan kepribadian narsistik”. Ia menikmati otoritas yang diperolehnya dan dianggap sebagai pahlawan anti kemapanan.
Muhammad menghadapi penganiayaan hebat dari orang-orang Mekkah dan akhirnya dibuang oleh kaumnya, tampak dari psikisnya akan kegagalannya untuk mengubah mayoritas kaumnya sendiri; sehingga membuka luka lama akan ketertolakkannya. Diam-diam memendam amarah karena menyimpan ketidak-sukaan, sikap narsisnya yang berlebihan membuatnya mulai mengidap sakit kejiwaan yang sangat berbahaya, yang disebut “komplesitas Napoleon”.