Jumat, 10 November 2017

Renungan Hari Minggu Biasa XXXII - A

Renungan Hari Minggu Biasa XXXII, Thn A
Bac I  Keb 6: 13 – 17; Bac II     1Tes 4: 13 – 18;
Injil    Mat 25: 1 – 13;
Bacaan pertama dan Injil hari ini mempunyai pesan yang sama, yaitu berjaga-jaga. Berjaga-jaga merupakan suatu sikap diri menanti atau menunggu sesuatu atau kedatangan seseorang. Biasanya yang ditunggu itu sangat penting, sehingga dibutuhkan sikap berjaga-jaga. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Kebijaksanaan, sikap berjaga-jaga ini dikaitkan dengan keutamaan hidup, yaitu kebijaksanaan (ay. 15: berjaga karena kebijaksanaan). Penulis Kitab Kebijaksanaan menyatakan bahwa sikap berjaga dengan bijaksana ini dapat membebaskan orang dari kesusahan.
Sikap berjaga yang bijaksana dalam bacaan pertama di atas, kembali disuarakan Tuhan Yesus dalam Injil. Lewat perumpamaan lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana, Yesus menampilkan contoh sikap berjaga dengan bijaksana. Kata “bodoh” bukan untuk menggambarkan kelemahan intelektual, tetapi kelemahan sikap bijaksana. Dan kembali Yesus memperlihatkan dampak dari sikap berjaga dengan bijaksana, yakni kebahagiaan bersama mempelai laki-laki.
Sikap berjaga-jaga dibutuhkan karena kedatangan yang ditunggu tidak diketahui dengan pasti. Salah satu contohnya adalah kematian. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan kematian akan menjemput. Paulus, dalam bacaan kedua, memberi gambaran tentang kebangkitan. Melalui suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika ini, Paulus hendak mempersiapkan umat untuk menyongsong kematian/kebangkitan. Bagi Paulus, kematian hanya peralihan kepada hidup baru. Dengan memberi gambaran kehidupan baru, tentulah orang akan mempersiapkan diri menyongsong kematian.
Dalam kehidupan manusia pasti ada peristiwa-peristiwa yang datang secara tiba-tiba. Berhadapan dengan peristiwa yang datang tiba-tiba, jika orang tidak siap menghadapinya, maka penderitaan dan kesusahan yang dialami. Tetapi jika orang siap menghadapinya, maka dia akan mengalami kebahagiaan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk siap siaga menghadapi setiap peristiwa yang datang tiba-tiba.***

by: adrian

Rabu, 08 November 2017

MELIHAT GAYA KEPEMIMPINAN ANIES BASWEDAN


Sejak dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, 16 Oktober silam, Anies Baswedan resmi memangku jabatan Gubernur DKI Jakarta selama 5 tahun ke depan. Dalam pilkada, Anies mengalahkan calon petahana, Basuki Tjahaya Purnama, atau yang biasa disapa Ahok. Sebelum pilkada, banyak pengamat menilai lawan-lawan politik Ahok akan kesulitan mengalahkannya. Namun, hasil akhir pilkada membuktikan Ahok kalah, meski kemenangan Anies dinodai dengan kecurangan atau intrik busuk.
Selain itu, kemenangan 57,96 % suara Anies – Sandi  tak lepas dari peran agama (dalam hal ini islam). Karena itu, beberapa tokoh islam, setelah hasil hitung cepat diketahui, dengan pongah mengatakan bahwa ini adalah kemenangan islam. Suatu kebanggaan ataukah kebodohan. Publik akhirnya menilai bahwa ternyata ada agama yang bisa dipolitisir; bahwa ada agama yang bisa dijadikan senjata untuk berpolitik busuk. Hal ini tak ubahnya dengan teroris yang berjuang menggapai cita-citanya dengan menggunakan senjata agama.
Akan tetapi, bukan maksud kami mempermasalahkan agama sebagai senjata yang menghantar Anies Baswedan ke kursi DKI-1. Kami akan fokus melihat gaya kepemimpinan Anies sejak resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Ada satu ciri yang menonjol dari gaya kepemimpinan Anies Baswedan. Dalam banyak persoalan Anies Baswedan seakan mau menegaskan bahwa dia-lah yang terbaik; bahwa pendahulunya tidak baik, buruk dan salah. Media Indonesia, dalam salah satu tulisan editorialnya mengatakan bahwa Anies Baswedan hendak memutus hubungan dengan pendahulunya, atau dengan kata lain mau membuat garis pemisah yang jelas antara dirinya dengan gubernur lama (dalam hal ini adalah Ahok). Anies juga hendak menarik garis pembeda dengan pemerintah pusat (dalam hal ini adalah Jokowi).

Senin, 06 November 2017

PAUS FRANSISKUS: ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH PESIMIS

Dalam audensi mingguan, pada 11 Oktober lalu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa orang-orang Kristen tidak boleh pesimis, menyerah atau lemah, dan berpikir bahwa hidup seperti kereta yang meluncur tak terkendali dan berada di luar kontrol. Sepanjang sejarah, setiap hari dipandang sebagai hadiah dari Tuhan dan setiap pagi adalah halaman kosong dimana orang-orang kristiani mulai menulis dengan karya dan amal yang baik.
Melanjutkan rangkaian homilinya tentang harapan kristiani, Paus Fransiskus merefleksikan bacaan dari Injil Lukas, dimana para murid diminta untuk menjadi seperti pelayan setia yang berjaga-jaga, yang bersiaga untuk menanti tuan mereka kembali – pada hari Tuhan Yesus akan datang kembali. “Yesus ingin para pengikutnya berjaga-jaga dan bersiaga, siap untuk menyambut-Nya dengan rasa syukur dan takjub pada setiap hari baru yang Tuhan berikan kepada kita.”
Meskipun kita telah diselamatkan oleh penebusan Yesus Kristus, umat Allah masih menunggu kedatangan-Nya yang kedua dalam kemuliaan saat Dia akan menjadi “semua di dalam semua.” Tidak ada dalam hidup yang lebih pasti dari itu, bahwa dia akan datang lagi, ujar Paus Fransiskus.
Namun saat menunggu ini, tidak ada waktu untuk kebosanan, tetapi untuk kesabaran. Orang Kristen harus gigih dan memberikan hidup, seperti sumber air yang mengairi padang pasir. Oleh karena itu, tidak ada yang terjadi dengan sia-sia dan tidak ada situasi yang benar-benar bertentangan dengan cinta. Tidak ada malam yang begitu lama sehingga sukacita fajar dilupakan. Padahal, semakin gelap malam, semakin cepat cahaya akan datang, papar Paus Fransiskus.
Dengan tetap bersatu dengan Kristus, tidak ada yang bisa menghentikan orang beriman, bahkan “kedinginan saat-saat sulit tidak akan melumpuhkan kita.” Dan tidak peduli berapa banyak dunia yang berkhotbah melawan harapan dan mengatakan “hanya ada awan gelap,” orang-orang Kristen tahu segalanya akan diselamatkan dan “Kristus akan mengusir godaan untuk berpikir bahwa hidup ini salah.”
“Kita tidak kehilangan diri kita dalam arus kejadian yang membawa kita ke pesimisme, seolah-olah sejarah adalah kereta yang tidak terkendali. Pengunduran diri bukanlah kebajikan Kristen. Sama seperti bukan orang Kristen mengangkat bahu atau menurunkan kepada sebelum takdir yang tampaknya tak terhindarkan.”
Memiliki harapan berarti tidak pernah bersikap patuh atau pasif, tetapi menjadi pembangun harapan yang menuntut keberanian, mengambil resiko dan pengorbanan pribadi. “Orang yang patuh bukanlah pembangun perdamaian, tapi mereka malas, mereka ingin merasa nyaman,” pungkas Paus Fransiskus.