Minggu, 26 Maret 2017

LEO DAN LIA: Sebuah Cerpen

Leo dan Lia merupakan cerpen dengan backround dunia pelajar, alias abu-abuer. Sebagaimana kisah-kisah anak sekolahan lainnya, yang penuh dengan cerita cinta romantis dan juga air mata, cerpen Leo dan Lia juga tak jauh dari sana. Memang tekanan kuat akan hal tersebut sama sekali kurang terasa. Mungkin penulisnya tidak memikirkannya, atau penulis mau keluar dari pakem.
Cerpen Leo dan Lia mengangkat kisah cinta dua anak manusia. Cinta itu terlarang dan juga terhalang. Namun cerita ini benar-benar mau menampilkan kekuatan cinta. Cerpen ini seakan memberi satu warna dan solusi atas cinta yang terlarang dan terhalang tersebut.
Apa yang melarang dan menghalangi cinta Leo dan Lia? Bagaimana kekuatan cinta mereka mengatasi larangan dan halangan tersebut? Temukan jawabannya dalam cerpen ini. Langsung saja baca kisahnya di:  Budak Bangka: (C E R P E N) Leo & Lia

Kamis, 23 Maret 2017

NICE DAY DIBACA TERMOS



Selesai misa, saya diundang makan di rumah Pak Yakobus. Rumahnya tak jauh dari gereja; persis di samping gereja. Di ruang tengah rumah itu, hanya ada saya dan Shela, putri bungsu Pak Yakobus, sementara tuan rumah sibuk menyiapkan makan malam. Di atas meja sudah ada piring dan nasi dalam termos nasi.
Sambil menunggu hidangan disiapkan, saya mencoba ngobrol dengan Shela.
Saya  : Shela uda kelas berapa?
Shela : Kelas satu (sambil menampilkan jari satu ke arah saya)
Saya  : Sudah bisa membaca?
Shela tidak memberi jawaban. Akan tetapi, dia hanya menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. Matanya lebar menatap saya, seakan mau mengatakan, “Saya bisa membaca.” Namun karena tidak ada jawaban, saya kembali bertanya.
Saya  : Shela sudah bisa baca?
Shela : Bisa, Romo.
Saya langsung menunjuk tulisan yang ada di termos nasi. Di sana ada dua kata, yaitu NICE DAY. Saya tunjuk kata pertama.
Saya  : Ini bacanya apa?
Shela : Termos.
Saya  : $%#@*(&^%!?????????
Koba, 18 Maret 2017
by: adrian
Baca juga humor lainnya

Selasa, 21 Maret 2017

ADA IMAN DALAM LEMBARAN RUPIAH

Tulisan ini jauh dari niat untuk menjelek-jelekkan agama tertentu. Ini hanyalah ungkapan keprihatinan pada suatu peristiwa. Dari keprihatinan ini lahirlah sebuah refleksi. Refleksi adalah ibarat bercermin. Siapa saja bisa bercermin pada kaca yang sama, karena yang dilihat adalah diri sendiri.
Berawal dari Cerita
Minggu, 19 Maret 2017, pukul 17.45 WIB. Baru beberapa detik meninggalkan rumah umat menuju mobil, yang diparkir di pinggir jalan depan rumah, saya kembali dipanggil. Kebetulan ada seorang ibu, tetangga depan rumah, datang. Setelah tiba di hadapan mereka, mulailah mereka bercerita. Ada kemarahan, kejengkelan dan juga kecemasan dalam cerita mereka.
Inti dari cerita mereka adalah: tentang satu keluarga yang belum lama ini masuk islam. Isterinya orang Maumere dan suaminya dari Kupang. Dua-duanya awalnya katolik. Mereka menikah sekitar bulan Oktober lalu, diberkati oleh pastor paroki. Namun kini mereka sekeluarga (dua anak) sudah masuk islam. Karena menjadi mualaf, mereka selalu mendapat uang (entah dari mana dan dari siapa). Kepada salah satu ibu, yang bercerita itu, dikatakan oleh isteri mualaf itu, bahwa enak jadi islam karena dapat duit gratis.
Mendengar cerita tersebut, saya langsung teringat akan rumor tentang dana mualaf dari Pemda Kabupaten Bangka Tengah. Dana mualaf adalah dana yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir yang memutuskan menjadi islam. Konon katanya, setelah selesai masa kampanye pilkada lalu, di akhir Januari Erzaldi, Bupati Bangka Tengah, yang adalah juga kandidat Gubernur Babel waktu itu, akhirnya mengesahkan dana mualaf itu. Artinya, dana mualaf itu memang ada. Cerita dua ibu di atas seakan membenarkan keberadaan dana mualaf itu.
Setelah tiba di pastoran, saya langsung menuju kamar makan. Waktu menunjukkan saatnya untuk makan malam. Saya makan malam hanya ditemani oleh bapak, yang sehari-harinya mengurus taman dan gereja. Sambil makan saya mendengarkan cerita bapak itu, dan ceritanya sama seperti cerita dua ibu di atas. Obyek ceritanya sama. Ada kemarahan, kejengkelan dan juga kecemasan dalam ceritanya.
Saya dapat merasakan kesedihan dan keprihatinan mereka atas peristiwa itu. Kepada mereka saya juga mengungkapkan keprihatinan dan duka saya. Bagi saya umat katolik Paroki Koba sedang mendapat ujian. Saya mengajak mereka untuk tetap setia dalam iman yang dikuatkan melalui doa. Sambil berdoa, serahkanlah semua ini kepada Allah. Umat tidak perlu marah kepada siapapun, termasuk keluarga mualaf itu. Juga tak perlu merasa malu. Saya sampaikan bahwa yang harus malu adalah umat islam, karena ternyata iman bisa dibeli dengan rupiah.
Iman dalam Lembaran Rupiah