Jumat, 18 November 2016

Hidup Penuh Syukur

Bersyukur merupakan bagian dari iman. Orang yang tahu bersyukur adalah tanda orang yang beriman. Dalam bersyukur, seseorang berserah kepada penyelenggaraan ilahi. Itulah iman.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa sikap syukur ini bukan hanya terjadi bila orang mengalami sesuatu yang menyenangkan, atau bila harapan dan permohonannya dikabulkan. Atau dengan kata lain, bersyukur karena sesuatu yang baik dan positif. Sikap syukur ini tak jauh beda dengan sikap terima kasih. Dan ini bukan yang dimaksud bersyukur sebagai ungkapan iman.

Sebagai bagian dari iman, orang akan bersyukur sekalipun mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, atau bila harapan dan permohonannya belum dikabulkan. Atau dengan lain perkataan, orang tetap bersyukur sekalipun sesuatu yang tidak baik atau negatif terjadi. Dalam bersyukur, seseorang tidak memaksakan kehendak dan keinginannya, melainkan menyerahkan kepada kehendak Tuhan.

Tulisan ini mengulas sedikit tentang sikap syukur ini. Dengan ini, kita diajak untuk hidup dengan penuh syukur. Lebih lanjut tentang tulisan ini, baca di sini: Budak Bangka: (Inspirasi Hidup) Hiduplah Penuh Syukur

Porta Santa


Kamis, 03 November 2016

AHLI AL QURAN INI MENEMUKAN KEBENARAN IMAN KRISTIANI

Namanya Saifuddin Ibrahim. Lahir di Bima (Nusa Tenggara Barat), 26 Oktober 1965, dari keluarga muslim taat. Pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Fakultas Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama. Pernah mengajar di Pesantren Darul Arqom Sawangan, Depok (Jawa Barat), sebelum akhirnya pindah mengajar di NII Al-Zaytun Panji Gumilang, Indramayu (Jawa Barat).
Ayah empat anak ini sejak awal sudah terlihat sangat anti terhadap kekristenan. Ada semangat tersembunyi ingin menghancurkan iman Kristen. Anak-anaknya, secara khusus yang putra, diberi nama tokoh islam radikal seperti Fikri Khomeini, Mu’ammar Kadhafi dan Saddam Husain. Pemberian nama ini dengan maksud agar kelak mereka juga militant seperti dirinya, dalam memberantas iman kristiani.
Akan tetapi, pada 4 Maret 2006, Ibrahim meninggalkan Indramayu. Dia meninggalkan jabatan, kenyamanan dan kemapanan hanya untuk mengikuti Kristus. Ada banyak kritik yang dilontarkan kepadanya, seperti yang tertulis dalam suara islam. Namun setelah membaca tulisan itu, terlihat jelas lemahnya argumen-argumen mereka untuk untuk membuktikan kelemahan Ibrahim ini.

Mau tahu alasan Saifuddin Ibrahim meninggalkan islam dan menjadi Kristen? Langsung saja nonton film berikut ini. https://www.youtube.com/watch?v=GTs92joC8jk