Senin, 03 Oktober 2016

SOMBONG + SERAKAH = SINGLE FIGHTER

Kesombongan dan keserakahan adalah musuh Allah. Keduanya masuk dalam kategori dosa. Kitab Suci banyak menyebutkan bahwa Allah berkenan pada orang yang rendah hati. Orang yang sombong dan serakah pastilah tidak memiliki sikap rendah hati, baik kepada Allah maupun kepada sesama.
Konon awalnya iblis atau setan adalah malaikat Tuhan. Tapi mereka sombong, sehingga mereka diusir dari “istana” Allah. Dan jadilah mereka sebagai iblis. Tempat tinggal mereka adalah neraka. Akan tetapi, mereka tidak mau tinggal sendirian. Karena itu, mereka berusaha untuk mencari pengikut. Godaan awal yang mereka tawarkan adalah kesombongan.
Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Kolese, mengatakan bahwa keserakahan itu tak ubahnya dengan penyembahan berhala (bdk. Kol 3: 5). Orang-orang yang serakah, secara tidak langsung menganggap apa yang mereka serakahi itu sebagai sesuatu yang disembah. Mereka mengabdi kepadanya. Misalnya, ketika orang serakah peran atau jabatan, maka peran atau jabatan itu dianggap sebagai sesuatu yang harus disembah, sehingga apapun dilakukan untuk mendapatkannya.
Tulisan ini mencoba mengangkat dua topik tersebut. Bagi penulis, dua topik tadi dapat mewujud dalam perilaku single fighter. Orang mau mengerjakan segala-galanya sendirian tanpa mau berbagi dengan orang lain. Orang dengan tipe ini tampak jelas tidak percaya pada sesamanya sehingga ia tidak mau berbagi, atau merasa diri hebat sehingga mampu mengerjakan semuanya, walau sadar kemampuannya terbatas. Lebih lanjut mengenai refleksi single fighter ini, dapat dibaca di sini: Budak Bangka: (Pencerahan) Serakah Peran

Sabtu, 01 Oktober 2016

Bingung dengan Model Rambutnya

Sekalipun sudah diajari berkali-kali tentang Photoshop, tetap saja Yos Anting selalu minta bantuan saya berkaitan dengan photoshop. Seperti suatu hari, ia datang membawa file foto umatnya waktu di Ujung Beting.

Yos    : Bang, tolong edit gambar ini dulu.

Saya  : Edit gimana? Kan sudah bagus.

Yos    : Aku mau topi cowok baju kuning itu dilepas. Bisa gak?

Saya  : Bisa aja. Tapi, model rambutnya belah kiri, kanan atau tengah?

Yos    : Iya ya. Aku pun udah lupa. Tapi gini aja. Entar kalau abang buka topinya, kan kelihatan rambutnya belah mana.

Saya  : hahahaha....
Pangkalpinang, 2 Maret 2015
by: adrian
Baca juga humor lainnya:

Jumat, 30 September 2016

RAMAJA DAN BAHAYA PORNOGRAFI

Menyikapi maraknya kejahatan seksual, dimana pelaku kejahatan itu sebagian adalah anak remaja, kelompok cendekiawan islam (ICMI) meminta pemerintah untuk menutup Google dan Youtube. Para pelaku kejahatan itu, dalam melakukan aksinya: memperkosa dan membunuh, dinilai telah terpengaruh oleh konten pornografi yang ada di Google dan Youtube. Dengan alasan inilah para cendekiawan ini menuntut supaya dua situs itu ditutup. (diskusi tentang ini dapat dibaca di sini).
Memang suatu keprihatinan melihat fenomena kejahatan seksual ini. Korban diperkosa, dan ada yang dibunuh. Kebanyakan pelakunya, yang berasal dari kalangan remaja, terpengaruh oleh adegan-adegan pornografi dan kekerasan yang mereka lihat di dunia maya. Pengaruh pornografi juga telah merasuk anak-anak remaja sehingga mereka berani melakukan hubungan suami isteri pada masa pacaran.
Mengapa semua ini bisa terjadi?
Dua ciri utama remaja adalah keinginan tahu dan mencoba-coba. Rasa ingin tahu akan sesuatu yang baru dan menarik pada diri remaja sangatlah besar. Dorongan yang besar untuk ingin tahu ini membuat remaja berusaha untuk mencoba-coba. Inilah yang terjadi dengan masalah pornografi, dan dalam kasus tertentu menyangkut juga masalah narkoba.
Terkait dengan masalah pornografi, persoalan dasarnya adalah masalah seksualitas. Pada masa ini terjadi perubahan fisik remaja, termasuk reproduksi seksualnya. Perubahan ini awalnya menciptakan kebingungan. Dan dalam mengatasi kebingungan ini, remaja bersentuhan dengan dunia maya, yang tak lepas dari penguruh teman sebaya. Dari sinilah akhirnya remaja jatuh ke dalam percobaan demi percobaan.
Di sini ada satu peran yang hilang, yaitu orangtua. Ketika remaja dalam kebingungan menghadapi masalah seksualitas dirinya, orangtua seakan absen sehingga anak mencari dan menemukan jawabannya sendiri. Absennya orangtua di sini bisa disebabkan oleh dua faktor, (1) orangtua menunggu anak datang kepadanya dan bertanya soal seksualitas, dan (2) orangtua menilai seks itu tabu, sehingga orangtua berusaha menghindar pertanyaan anak seputar seksualitas.