Minggu, 10 Januari 2016

Orang Kudus 10 Januari: St. Gulielmus Bituricensis

SANTO GULIELMUS BITURICENSIS, USKUP & PENGAKU IMAN
Gulielmus Bituricensis lahir pada 19 Oktober 1155 di Nevers, Perancis. Ia adalah putera dari Baldwin, yang adalah bangsawan di Nevers. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan dari pamannya, Petrus si Petapa, Diakon Agung Soissons. Pekerjaan yang penuh kekudusan selalu menarik perhatiannya.
Gulielmus meneruskan pendidikannya sampai ia menjadi imam dan kemudian kanon di Soissons dan Paris. Gulielmus kemudian memutuskan untuk hidup membiara, pertama-tama dengan menjadi biarawan di Ordo Grandmont, tetapi kemudian ia memutuskan untuk bergabung dengan Ordo Cistersian di Pontigny. Tidak lama kemudian Gulielmus terpilih sebagai Prior di Biara Pontigny, dan kemudian menjadi abbas di Biara Fountaine-Jean, lalu di Chaalis pada tahun 1187.
Setelah kematian Henri de Sully, Uskup Agung Bourges (Latin: Bituricensis), Gulielmus terpilih menggantikannya pada 23 November 1200. Ia terpaksa menerima jabatan ini karena ketaatannya kepada Paus dan pemimpinnya di Citeaux, sebagai uskup, Gulielmus melakukan mati raga dua kali lipat dari apa yang selalu ia lakukan.
Gulielmus selalu menggunakan pakaian kasar di balik jubahnya, dan tidak pernah menambah pakaian yang ia kenakan di musim dingin, atau menguranginya di musim panas. Ia juga tidak menyantap daging, walaupun selalu ada daging di meja makannya. Ia selalu membaginya dengan orang asing. Selain itu semua, Gulielmus aktif merawat orang miskin, sakit dan para tahanan. Gulielmus juga menobatkan banyak orang yang terpengaruh ajaran sesat Albigensianisme.
Gulielmus Bituricensis meninggal dunia pada 10 Januari 1209 di Bourges, Perancis. Pada 17 Mei 1217 ia dikanonisasi oleh Paus Honorius III
Baca juga orang kudus hari ini:

Sabtu, 09 Januari 2016

Bagaimana Sikap Umat Islam terhadap Umat non Islam?

SIKAP ORANG ISLAM TERHADAP KAFIR
Pada tanggal 24 September 2015, pukul 16: 12, Gunawan Budi Utomo memposting tulisan, yang ada di situs Islam Toleran, di grup facebook AHOK 4 DKI 1. Judul tulisan itu, “Fantastis! Gubernur yang Suka Diteriaki Kafir oleh FPI Ini Berkurban 30 Ekor Sapi”. Tulisan ini mau mengatakan tentang Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, atau yang biasa disapa Ahok, yang menyumbang 30 ekor sapi pada hari raya Idul Adha.
Dari postingan ini muncul berbagai tanggapan yang bernada pro dan kontra. Dari sini orang dapat menarik satu kesimpulan bagaimana orang islam menyikapi orang non muslim, yang notabene adalah kafir. Dari sekian banyak postingan, kami akan mengambil postingan dari Lina AR Nasution, yang begitu banyak mengemukakan pendasaran biblis sikap umat islam terhadap orang non islam.
Pada pukul 18: 23, masih tanggal yang sama dengan postingan Gunawan Budi Utomo, Lina memberikan dasar-dasar Al-Quran, yang dapat menjadi dasar sikap orang islam terhadap orang kafir. Intinya adalah muslim haram memilih pemimpin kafir
1.    Al-Quran melarang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin
QS Ali ‘Imraan: 28, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (Pemimpin/Pelindung), dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”
QS An-Nisaa’: 144, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (Pemimpin/Pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”
QS Al-Maaidah: 57, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman
2.    Al-Quran melarang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin walau kerabat keluarga sendiri.

Jumat, 08 Januari 2016

Teh Dingin dan Teh Panas

Ada seorang pace masuk ke sebuah warung. Ia ingin minum teh. Ia melihat daftar harga yang ada di atas meja. “Teh manis dingin Rp 2.500,-; teh manis panas Rp 1.000,-“ Akhirnya si pace memesan teh manis panas karena harganya lebih murah. Sesuai dengan uang di dompetnya.
Ketika pesanan datang, si pace langsung meniup-niup teh itu dan meminumnya, padahal masih panas. Hal ini terjadi berulang-ulang sehingga menarik perhatian pelayan yang tadi membawa pesanan si pace. Melihat hal itu seorang pelayan mendekatinya.
Pelayan       : Pace, ada apa?
Pace           : Saya harus segera minum teh ini. Karena kalau sudah dingin ia menjadi Rp 2.500
Pelayan       : *&%^$#@???
edited by: adrian, dari cerita Polly Pape
Baca juga humor lainnya:
Dilarang Keluar dari Ruangan