Senin, 20 Juli 2015

Orang Kudus 20 Juli: St. Leo Ignasius Mangin

SANTO LEO IGNASIUS MANGIN, MARTIR
Leo Ignasius Mangin lahir pada 30 Juli 1857 di Verny, Metz, Perancis. Ia memperoleh pendidikan di Metz dan Amiens. Leo bergabung dengan Serikat Yesus di Saint Acheul, dan belajar filsafat di Louvain. Ia mengajar Liege dan setelah menyelesaikan pendidikan teologinya, ia ditahbiskan pada 31 Juli 1886.
Leo dikirim sebagai misionaris ke Cina dan ditempatkan di Zhujiahe. Leo menjadi superior di distriknya, dan ketika terjadi revolusi Boxer, ia menyadari bahwa bahaya mengancam kota tempat ia tinggal. Ia meminta Paul Denn untuk menjadi asistennya. Pada 15 Juli 1900 Boxer menyerang Zhujiahe, akan tetapi serangannya berhasil dihalau oleh penduduk desa.
Pada 20 Juli 1900 Boxer berhasil menembus pertahanan desa Zhujiahe. Leo dan Paul Denn, bersama dengan umat katolik, terutama perempuan dan anak-anak, berkumpul di kapel dan berdoa. Ketika para boxer itu mendobrak masuk ke dalam kapel, mereka menawarkan pembebasan bagi yang mau menyangkal imannya. Banyak yang menolak tawaran itu dan rela mati dibunuh sebagai martir Kristus.
Leo Ignasius Mangin meninggal dunia pada 20 Juli 1900 di Zhujiahe, Cina. Pada 17 April 1955 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XII, dan pada 1 Oktober 2000 ia dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Senin Biasa XVI - Thn I

Renungan Hari Senin Biasa XVI, Thn B/I
Bac I  Kel 14: 5 – 18; Injil                   Mat 12: 38 – 42;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Keluaran. Di sini diceritakan tentang orang Israel yang sudah keluar dari Mesir, namun masih dalam pengejaran Firaun dan tentaranya. Dikatakan bahwa orang Israel menjadi ketakutan ketika melihat tentara Mesir kian mendekat. Mereka mengungkapkan kekecewaan dan kecemasannya kepada Musa. “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (ay. 11). Terlihat di sini bahwa orang Israel kurang percaya kepada Tuhan. Sekalipun sudah melihat tanda sewaktu di Mesir, mereka masih kurang percaya.
Sikap orang Israel ini tak jauh berbeda dengan sikap beberapa ahli Taurat dan orang Farisi yang datang kepada Tuhan Yesus. Dalam Injil mereka ini disebut sebagai angkatan yang jahat dan tidak setia (ay. 39). Mereka datang kepada Tuhan Yesus untuk meminta tanda supaya mereka bisa percaya. Padahal pada mereka sudah ada begitu banyak tanda. Tuhan Yesus hanya memberikan tanda Nabi Yunus dengan satu harapan agar mereka bertobat.
Seringkali kepercayaan dikaitkan dengan adanya tanda. Orang baru percaya bila sudah melihat atau merasakan tanda di sini dan kini. Terkadang pula orang ingin agar tanda itu benar-benar menyentuh dirinya. Sabda Tuhan hari ini hendak mengubah pola pikir demikian. Sekalipun kita tidak mengalami atau merasakan langsung tanda itu, hendaklah kita tetap percaya. Bagi kita salib Kristus ada tanda utama kita. Pada salib ada kasih, pengorbanan dan kemenangan. Percaya kepadanya maka akan mendatangkan keselamatan.***
by: adrian

Minggu, 19 Juli 2015

Ada Uang di Balik Proyek Rohani

Sekelompok anak muda berkumpul bersama di sebuah ruangan di pastoran. Mereka sedang membicarakan rencana kegiatan untuk kaum muda, yang dikenal dengan istilah Orang Muda Katolik (OMK). Permbicaraan terlihat sangat serius, mulai dari bentuk acara hingga dana. Soal dana mereka akan mengajukan proposal ke Departeman Agama Provinsi. Kebetulan salah satu pegawai depag masih punya relasi baik dengan salah seorang pengurus OMK.

Tiba-tiba pastor masuk ke ruangan itu. Pastor itu adalah moderator OMK di paroki itu. Akan tetapi, serta merta mereka diam membisu. Dan tak lama kemudian pembicaraan beralih ke topik yang lain. Pastor itu pun ikut nimbrung sebentar. Tak lama kemudian dia keluar. Sekelompok anak muda ini kembali kepada topik pembicaraannya.
***
Kisah di atas bukanlah kisah realita, melainkan kisah rekayasa. Namun bukan tidak mustahil kisah tersebut nyata dalam kehidupan menggereja kita. Kisah itu bisa ada di mana saja. Mungkin juga kita ada dalam kelompok anak muda tadi.

Satu hal yang menarik dari kisah di atas adalah KENAPA MEREKA DIAM KETIKA PASTOR, YANG BERTANGGUNGJAWAB ATAS OMK DI PAROKI ITU, MASUK KE RUANGAN PERTEMUAN? Peristiwa ini amat sangat aneh. Bukankah seharusnya sang pastor dilibatkan dalam rencana kegiatan itu; kenapa terkesan beliau disingkirkan?

Dari keanehan ini, tidak salah kalau kemudian muncul penilaian negatif lainnya. Ada udang di balik batu. Pastilah ada sesuatu “jahat” dalam rencana kegiatan itu. Ada niat buruk yang disembunyikan dalam pembicaraan itu. Logisnya, jika tidak ada rencana “jahat”, tentulah mereka tidak diam saat pastor masuk ke ruangan pertemuan itu.

Tentulah ada orang akan mengatakan tak mungkin ada niat jahat dalam diri anak muda itu. Kelompok anak muda itu ingin membantu Gereja dalam menumbuh-kembangkan iman kaum muda. Mereka ingin berpartisipasi dalam hidup menggereja dengan mengadakan kegiatan rohani bagi kaum muda paroki. Bukankah ini baik dan luhur? Lantas apa yang “jahat” dalam rencana anak muda paroki itu?

Rasul Paulus, dalam suratnya yang pertama kepada Timotius, sudah mengatakan bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang (1Tim 6: 10). Jadi, sekitar 1914 tahun lalu, Paulus sudah mengajak umat kristiani untuk mewaspadai bahaya akan uang. Karena dari uang ini muncul berbagai kejahatan, seperti korupsi. Kejahatan itu bisa saja dibungkus dengan kebaikan dan idealisme. Seperti kata orang: serigala berbulu domba. Aslinya serigala, namun tampilannya domba.