Minggu, 31 Mei 2015

Renungan HR Tritunggal Mahakudus, Thn B

Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Thn B/I
Injil    Mat 28: 16 – 20;

Hari ini Gereja Universal mengajak kita untuk merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Cukup menarik bahwa hari raya Tritunggal Mahakudus ini dirayakan setelah kita merayakan Pentakosta. Hari raya pentakosta merupakan hari raya Roh Kudus. Hal ini seakan hendak merangkum perjalanan Allah dalam sejarah keselamatan umat manusia: Allah Bapa sang Pencipta, Allah Putera (Tuhan Yesus) sang Kasih dan Allah Roh Kudus sang Penghibur. Ketiganya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, yaitu Tritunggal Mahakudus.
Tritunggal Mahakudus merupakan salah satu ajaran iman orang kristiani. Namun pada titik inilah umat sering bingung dan “diserang” oleh umat lain: satu koq ada tiga? Ada umat bertanya pendasaran ajaran ini. Sabda Tuhan hari ini, jika dibaca sebagai satu kesatuan bacaan liturgi, secara implisit mengungkapkan adanya Allah Tritunggal itu. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Ulangan, menampilkan Allah sebagai Tuhan-nya orang Israel. Di sini diungkapkan perbuatan-perbuatan Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel, karena di antara mereka sudah ada perjanjian. Allah senantiasa hadir dalam perjalanan hidup bangsa Israel.
Kehadiran Allah dalam perjalanan hidup bangsa Israel tampak nyata dalam diri Tuhan Yesus. Dalam kehadiran-Nya di tengah-tengah bangsa Israel itu, Tuhan Yesus memposisikan diri-Nya sebagai Putera. Dalam Injil dikatakan bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa atas sorga dan bumi (ay. 18), suatu kuasa yang hanya dimiliki Allah. Ini mau menunjukkan dimensi keallahan Yesus. Dan Tuhan Yesus meneruskan rencana keselamatan Allah bagi umat manusia dengan memerintahkan para murid-Nya untuk membaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera dan Roh Kudus (ay. 19). Roh Kudus ini bukanlah sesuatu yang lain dari Allah, melainkan Allah itu sendiri. Sama seperti Putera yang adalah Allah. Jadi, Roh Kudus adalah, seperti yang dikatakan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Roh Allah.
Sabda Tuhan hari ini mau menegaskan kepada kita kebenaran Tritunggal Mahakudus. Umat tak perlu lagi merasa bingung memikirkannya. Satu hal yang perlu disadari adalah Tritunggal Mahakudus bukanlah suatu ajaran pengetahuan sehingga harus dipahami dan dimengerti dengan akali, melainkan lebih dari suatu ajaran iman yang harus diimani dan dihayati. Dengan mengimani Tritunggal Mahakudus, kita disadarkan akan status kita sebagai ahli waris keselamatan. Namun diingat pula bahwa kita diminta untuk mewartakan keselamatan itu kepada orang lain supaya mereka pun dapat merasakannya.***

by: adrian

Sabtu, 30 Mei 2015

Orang Kudus 30 Mei: St. Ferdinandus Kastilia

SANTO FERDINANDUS KASTILIA, PENGAKU IMAN
Ferdinandus adalah putera Raja Alfonso dari Kerajaan Leon, dan Ratu Berengaria dari Kastilia. Ia lahir di sebuah Biara di Valparaiso (sekarang Provinsi Zamora, Spanyol) pada 5 Agustus 1199. Ketika berumur 18 tahun, ia diangkat menjadi Raja Kastilia. Kemudian ketika ayahnya meninggal dunia pada tahun 1230, Ferdinandus diangkat lagi menjadi Raja Leon. Dengan demikian ia menjadi raja, baik di Kerajaan Kastilia maupun di Kerajaan Leon. Dia memerintah kedua kerajaan ini sampai hari kematiannya pada 30 Mei 1252.
Sebagai raja, Ferdinandus membuktikan dirinya sebagai seorang penguasa yang adil dan bijaksana. Di masa kepemimpinannya, dua kerajaan yang diwariskan kepadanya oleh kedua orang tuanya, digabungkan menjadi satu kerajaan. Masa pemerintahannya mempunyai arti yang sangat penting bagi sejarah Spanyol. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyebarkan agama Kristen di seluruh kerajaannya. Ia behasil mengusir pergi orang-orang Moor, yang beragama islam, dari seluruh wilayah Spanyol, termasuk kota-kota penting seperti Kordova (1236) dan Seville (1248). Sampai pada saat kematiannya, hanya Granada dan Alicante masih berada di bawah pendudukan orang Moor.
Selain usaha-usaha di atas, ia terus berjuang mempertahankan tegaknya ajaran iman yang benar terhadap rongrongan bidaah Albigensia.
Ferdinandus tergolong seorang raja yang beriman teguh. Ia berusaha memajukan perkembangan agama Kristen. Ia mendirikan banyak biara, mengubah mesjid-mesjid menjadi katedral-katedral dan membantu rumah-rumah sakit dengan berbagai pemberian. Pada tahun 1242 ia mendirikan Universitas Salamanca sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Ketika ia meninggal dunia, ia dikuburkan di Katedral Seville dalam pakaian Ordo ketiga Santo Fransiskus. Pada kuburnya terjadi banyak mujizat. Banyak orang menganggap dia sebagai orang kudus. Pada 31 Mei 1655, Ferdinandus dibeatifikasi oleh Paus Alexander VII, dan oleh Paus Klemens X dia dikanonisasi pada tahun 1671.
sumber: Iman Katolik
Baca juga riwayat orang kudus 30 Mei:

Renungan Hari Sabtu sesudah Pentakosta - Thn I

Renungan Hari Sabtu VII, Thn B/I
Bac I  Sir 51: 12 – 20; Injil        Mrk 11: 27 – 33;

Sabda Tuhan hari ini mau berbicara kepada kita tentang kebijaksanaan. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Putera Sirakh, penulis mengungkapkan madah syukurnya atas karunia kebijaksanaan yang dia terima. Bagi penulis, kebijaksanaan bagaimana harta yang tak ternilai, sehingga ia akan selalu berjuang mencarinya. Ada rasa sesal jika ia melalaikannya. Di sini penulis ingin mengajak pembacanya untuk juga berusaha mengejar kebijaksanaan dan menghormati mereka yang mengaruniakannya.
Dalam Injil hari ini kebijaksanaan terlihat pada diri Tuhan Yesus ketika Dia memberi jawaban kepada imam-imam kepala, para ahli Taurat dan tua-tua. Mereka bertanya tentang asal kuasa Yesus, yang “membersihkan” Bait Allah dari para pedagang dan penukar uang. Pertanyaan mereka dijawab dengan pertanyaan soal asal baptisan Yohanes. Para petinggi agama Yahudi itu tidak mau menjawab, sekalipun mereka tahu, karena jawaban itu dapat merusak reputasi mereka. Di sini terlihat bahwa demi kepentingan pribadi, orang rela mengorbankan kebenaran.
Kebijaksanaan merupakan suatu sikap yang terarah keluar dari diri sendiri. Orang yang bijaksana adalah orang yang mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi; berjuang demi kebenaran sekalipun kebenaran itu menyakitkan diri sendiri. Sabda Tuhan hari ini mau mengajak kita untuk senantiasa bersikap bijaksana. Tuhan menghendaki agar kita selalu memperjuangkan kebenaran. Kebijaksanaan tidaklah berasal dari diri kita sendiri. Dia dapat datang dari siapa saja, meski sumber utama kebijaksanaan adalah Tuhan. Kita diminta untuk menaruh hormat kepada mereka yang telah mengajarkan kita kebijaksanaan.***
by: adrian