Rabu, 07 Mei 2014

Ketika Hosti Menjadi Daging

KETIKA HOSTI MENJADI DAGING
Setiap hari Minggu, umat Katolik senantiasa melakukan apa yang pernah diminta Tuhan Yesus dengan mengadakan perayaan ekaristi. "Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku." demikian pinta-Nya. Dan hosti yang dibagikan itu adalah benar-benar tubuh Kristus. Sebelum ekaristi  hosti itu memang hanyalah sebuah roti tak beragi. Namun, setelah diberkati imam dalam Doa Syukur Agung, tepatnya saat konsekrasi, hosti itu menjadi tubuh Kristus. Hanya mata iman yang bisa melihatnya. Persis syair lagu Allah yang Tersamar (Puji Syukur 557): "Allah yang tersamar, Dikau kusembah// Sungguh tersembunyi, roti wujudnya//..."

Berikut ini akan dikisahkan beberapa kisah mukjizat ekaristi. Kami tidak tahu apakah ini dapat menghapus keraguan banyak orang. Bukan maksud kami untuk membuat Anda percaya. Karena soal percaya atau tidak adalah hak Anda. Kami hanya mau berbagi cerita. Berkaitan dengan percaya atau tidak, kami mengikuti apa yang pernah dikatakan Yesus, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh 20: 29).

SANTAREM, tahun 1247
Seorang wanita yang suaminya tidak setia, meminta nasehat dari seorang wanita tenung. Wanita sihir itu berjanji akan mengubah perilaku suaminya jika si wanita membawakan baginya sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Ia juga menasehati si wanita untuk berpura-pura sakit agar dapat menerima Komuni Kudus dalam minggu itu dan segera memberikan Hosti kepadanya. Si wanita tahu bahwa hal itu dosa. Ia pergi menerima Komuni, tetapi tidak menyantap Tubuh Kristus.

Ia meninggalkan Misa dan dalam perjalanan menuju tempat wanita tenung, Hosti mulai mengeluarkan darah. Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut menyangka bahwa ia mengalami pendarahan. Rasa takut menguasai dirinya dan ia pulang ke rumah, menempatkan Hosti dalam sebuah peti, membungkusnya dengan saputangan, lalu menutupinya dengan linen yang bersih.
Tengah malam, ia dan suaminya terbangun oleh suatu sinar cemerlang yang berasal dari peti, yang menjadikan ruangan mereka terang-benderang. Para malaikat telah membuka peti dan membebaskan Tuhan. Wanita itu menceritakan kepada suaminya apa yang telah terjadi dan bahwa dalam peti terdapat sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Berdua mereka melewatkan sepanjang malam dengan berlutut dalam sembah sujud. Seorang imam dipanggil. Imam membawa Hosti Kudus kembali ke gereja dan menyegelnya dalam sebuah segel lilin.

Sembilan belas tahun kemudian, seorang imam membuka tabernakel dan memperhatikan bahwa segel telah terbuka sementara Hosti tersimpan dalam sebuah piksis kristal. Mukjizat ini, 750 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1997, diperingati dengan berbagai perayaan meriah di Santarem.

Kita mungkin bertanya mengapa Tuhan mengadakan mukizat-mukjizat ini bagi kita. Mungkin untuk menyatakan betapa Ia sungguh hadir dalam Ekaristi dan betapa Ia sungguh mengasihi kita. Ia menghendaki agar kita semua, termasuk juga domba-domba yang hilang, bergabung kembali dalam kawanan. Ia mengasihi kita, bagaimana pun berdosanya kita. Ia adalah Allah Kasih dan Belas Kasihan. Dan Ia menghendaki agar kita membagikan Kasih dan Belas Kasihan itu kepada sesama.

ORVIETO dan BOLSENA, tahun 1263
Mukjizat ini terjadi pada masa suatu ajaran sesat yang disebut Berengarianisme merajalela di Eropa. Bidaah ini menyangkal Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Pada tahun 1263, seorang imam bernama Petrus dari Prague sedang dalam perjalanan ziarah ke Roma untuk berdoa di makam pelindungnya, St Petrus, sebab ia menghadapi masalah yang amat serius. Ia merasakan kebimbangan yang besar mengenai Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi Kudus. Ia berdoa agar santo pelindungnya memohonkan rahmat baginya guna menyelamatkan imannya yang goyah. Dalam perjalanan, ia singgah untuk bermalam di suatu kota kecil bernama Bolsena, sekitar 70 mil sebelah utara Roma.

Keesokan harinya, Pastor Petrus merayakan Misa Kudus di Gereja St Kristina. Sementara ia mengucapkan kata-kata konsekrasi, “Inilah TubuhKu,” roti di tangannya berubah rupa menjadi Daging dan mulai mencucurkan darah dengan derasnya. Darah jatuh menetes ke korporal. Pastor Petrus amat terperanjat; ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Maka, ia membungkus Hosti Kudus dalam Korporal lalu pergi meninggalkan altar. Sementara ia berjalan pergi, tetesan-tetesan Darah jatuh ke atas lantai pualam di altar.

Paus Urbanus IV sedang berada di kota Orvieto, yang tak jauh dari sana. Pastor Petrus segera menemui paus guna menceritakan apa yang telah terjadi. Paus segera mengutus seorang uskup ke Gereja St Kristina guna menyelidiki peristiwa tersebut dan mengambil Korporal.

Segera sesudah paus menerima Korporal dari Uskup, ia pergi ke balkon Istana Kepausan dan dengan hormat mempertontonkan mukjizat Korporal kepada orang banyak. Bapa Suci menyatakan bahwa mukjizat Ekaristi telah terjadi guna mengusir bidaah Berengarianisme. Pada saat yang sama, seorang pengikut St. Yuliana dari Liege menghubungi paus untuk sekali lagi memohon demi ditetapkannya Hari Raya Corpus Christi. Setahun kemudian, pada tahun 1264, Paus Urbanus IV memaklumkan Hari Raya agung ini kepada seluruh Gereja. (Mukjizat Korporal disimpan hingga kini di Katedral Orvieto. Lantai pualam bernoda Darah disimpan di Gereja St Kristina di Bolsena).
Jakarta, 6 Mei 2014
by: adrian, dari berbagai sumber

Orang Kudus 7 Mei: St. Rose Venerini

BEATA ROSE VENERINI, PENGAKU IMAN
Rose Venerini lahir di Viterbo, Italia pada tahun 1656. Ayahnya, Godfrey Venerini adalah seorang dokter. Di bawah asuhan kedua orang tuanya, Rose berkembang menjadi seorang putri yang berbudi luhur dan beriman. Ketika menanjak dewasa, ia hendak dikawinkan dengan seorang pemuda. Tetapi kematian terlalu cepat datang menjemput calon suaminya itu. Kematian calon suaminya ini menggerakkan hatinya untuk memasuki kehidupan membiara. Ia bermaksud membaktikan seluruh hidupnya hanya pada Tuhan. Untuk itu ia masuk sebuah biara di Viterbo, daerah asalnya. Tetapi rupa-rupanya cara hidup membiara bukanlah cara hidup yang dikehendaki Tuhan dari padanya. Setelah beberapa lama menjalani kehidupan membiara, Rose terpaksa meninggalkan lagi biara Viterbo, karena ayahnya meninggal dunia. Cinta dan rasa tanggungjawabnya terhadap ibunya memaksa dia untuk pulang ke rumah guna mendampingi ibunya yang mulai hidup menjanda.

Waktu-waktu luang di rumah diisinya dengan mengumpulkan para pemudi tetangganya untuk berdoa rosario dan merenungkan Kitab Suci. Kesempatan baik ini dimanfaatkan pula untuk memberikan bimbingan dan nasehat yang berguna bagi pemudi-pemudi itu. Melihat kegiatan-kegitan Rose ini dan menyadari bakatnya dalam bidang pendidikan, Ignatius Martinelli, seorang imam Yesuit di Viterbo, menyakinkan dia akan panggilan hidupnya yang sesungguhnya, yakni menjadi pendidik dan pembimbing kaum muda. Panggilan menjadi guru lebih cocok baginya daripada panggilan hidup membiara komtemplatif sebagai seorang biarawati. Nasehat dan peneguhan pastor Ignatius ini mengena di hati Rose. Maka sebagai tindak lanjut, Rose bersama dua orang rekannya mendirikan sebuah sekolah untuk para pemudi di Viterbo. Sekolah ini ternyata berjalan dengan baik sekali. Rose ternyata memiliki bakat besar di bidang pendidikan. Bakat ini ditunjang oleh sifat-sifatnya yang baik dan pantang menyerah pada berbagai kesulitan. Keberhasilan usaha ini segera membuat dia dikenal banyak orang dan cintai oleh muridnya.

Kardinal Martinus Barbarigo pun mendengar semua keberhasilan Rose di bidang pendidikan. Karena itu ia segera mengundang Rose dan meminta kesediaannya untuk menatar para guru dan membenahi administrasi sekolah-sekolah yang ada di wilayah Keuskupan Montefiascone. Permintaan Kardinal ini diterimanya dengan senang hati dan dilaksanakannya dengan sangat memuaskan. Kesempatan penataran ini dimanfaatkannya untuk membina relasi dengan para guru. Bahkan lebih jauh penataran ini mendorong dia untuk mendirikan sebuah perkumpulan untuk menghimpun guru-guru. Perkumpulan ini akhirnya didirikan pada tahun 1713.
 
Setelah lama berkarya di bidang pendidikan, Rose meninggal dunia pada tanggal 7 Mei 1728. Nama baik dan kesucian hidupnya diperkuat dengan banyak tanda mukjizat. Pada tahun 1952, ia dinyatakan sebagai ‘beata’ (Yang Bahagia). Perkumpulan guru-guru yang didirikannya diubah menjadi sebuah Kongregasi Suster. Kongregasi ini kemudian tersebar ke Amerika ketika para suster Venerini bermigrasi ke Amerika.

Renungan Hari Rabu Paskah III - A

Renungan Hari Rabu Paskah III, Thn A/II
Bac I   : Kis 8: 1b – 8; Injil : Yoh 6: 35 – 40;

Dalam Injil hari ini Yesus menjelaskan misi perutusan-Nya, yaitu melaksanakan kehendak Allah yang mengutus (ay. 38). Kepada orang-orang Yahudi Yesus menerangkan bahwa kehendak Allah adalah keselamatan bagi setiap orang “yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya.” (ay. 40). Orang yang diserahkan kepada Yesus akan selalu diperhatikan Yesus dan tidak akan hilang. Namun, orang ini harus percaya kepada-Nya. Dengan kata lain, keselamatan terjadi bila orang menerima dan percaya kepada Yesus. Ini bisa terjadi karena Yesus memiliki kuasa untuk itu.

Apa yang diwartakan Yesus dalam Injil terlihat jelas dalam bacaan pertama. Setelah peristiwa pembunuhan atas diri Stefanus, para murid “tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” (ay. 1). Mereka mewartakan Yesus atau “memberitakan Injil.” (ay. 4). Salah seorang dari mereka adalah Filipus, yang mewartakan Yesus di daerah Samaria (ay. 5). Dikatakan bahwa banyak orang menerima pewartaan Filipus sehingga banyak mujizat terjadi (ay. 7) dan daerah itu diliputi sukacita yang besar (ay. 8).

Sabda Tuhan hari ini mau menegaskan akan tugas perutusan Yesus di dunia. Dari sini kita disadarkan bahwa diri kita masuk dalam rencana perutusan itu, karena Yesus tidak mau kita hilang atau dibuang. Tuhan mau kita selamat. Akan tetapi sabda Tuhan juga mau menyadarkan kita akan tanggapan atas perutusan-Nya itu, yaitu percaya kepada-Nya. Tuhan menghendaki supaya kita beriman kepada Yesus yang telah diutus Allah. Iman itulah yang mendatangkan keselamatan.

by: adrian