Selasa, 15 April 2014

Orang Kudus 15 April: St. Pedro Gonzelez

BEATO PEDRO GONZALEZ, PENGAKU IMAN
Pedro lahir di desa Astorga, Spanyol pada tahun 1190. Sejak masa studinya, Pedro ternyata cerdas dan pandai. Kehidupan rohaninya tidak menunjukkan suatu keistimewaan. Terpengaruh oleh kehidupan pamannya sebagai uskup, Pedro tertarik juga untuk menjalani kehidupan bakti kepada Tuhan.

Tak lama kemudian ia ditabhiskan menjadi imam. Oleh uskupnya, ia diangkat menjadi koordinator imam-imam diosesan. Pelantikannya dirayakan secara meriah dan besar-besaran. Tetapi Tuhan menunjukkan campur tangan-Nya pada hari itu. Arakan besar dan meriah menuju Katedral mulai bergerak. Pedro dengan gagah menunggang seekor kuda diiringi oleh imam-imam dan pembesar-pembesar negara dan umat. Tiba-tiba kuda yang ditungganginya berontak dan Pedro yang gagah itu jatuh. Sorak-sorai yang gemuruh itu berubah menjadi gelak tawa dan olok-olokan, Pedro menyadari hal ini merupakan tanda peringatan bahwa betapa tidak berartinya kemuliaan duniawi.

Setelah peristiwa ini, Pedro masuk Ordo Santo Dominikus. Mula-mula ia ditugaskan sebagai pastor tentara. Dalam tugas ini, Pedro menunjukkan contoh hidup yang sangat menyenangkan bagi pasukannya dan semua orang di istana. Pada waktu kota Kordova direbut oleh raja Spanyol dari tangan suku Moor, Pedro berusaha menyelamatkan para tawanan dan wanita-wanita dari tindakan sewenang-wenang para tentara.

Setelah berhenti dari dinas ketentaraan, Pedro menjadi pastor untuk para petani dan nelayan. Ia mencurahkan sisa-sisa hidupnya untuk menemani para petani dan pelaut. Ia mengajari mereka bagaimana menghayati iman sebagai sebagai seorang petani dan pelaut. Soal-soal agama yang sulit, diterangkannya dengan sederhana sehingga dapat dimengerti oleh para petani dan pelaut yang sederhana itu. Cara hidupnya yang saleh, kerendahan hatinya serta pergaulannya yang baik dengan semua orang, membuat dia sangat disegani dan dihormati oleh semua petani dan pelaut itu. Ia meninggal pada tahun 1246.

Renungan Hari Selasa Pekan Suci, Thn A

Renungan Hari Selasa Pekan Suci, Thn A/II
Bac I   : Yes 49: 1 – 6; Injil           : Yoh 13: 21 – 33, 36 – 38;

Sama seperti bacaan pertama kemarin, di mana Yesaya menyampaikan nubuat Allah tentang seorang hamba Allah, hari ini juga Yesaya mewartakan nubuat tentang hamba Allah. Hamba Allah ini dipanggil untuk “menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (ay. 6).  Kemuliaan hamba Allah ini menjadi juga kemuliaan Allah (ay. 5).

Injil hari ini menampilkan Yesus yang tak lama lagi akan masuk ke dalam kisah sengsara dan kematian. Kematian Yesus bukanlah merupakan sebuah aib, melainkan peristiwa pemuliaan-Nya, yang berarti juga pemuliaan Allah. Hal ini seperti yang dikatakan Yesus, “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.” (ay. 31). Ini sejalan dengan nubuat Yesaya di atas (ay. 5). Ada dua peristiwa utama mengiringi kisah sengsara Yesus, seperti yang dikisahkan dalam Injil hari ini, yaitu pengkhianatan dan penyangkalan. Keduanya dilakukan oleh murid Yesus sendiri.

Hari ini sabda Tuhan bukan saja mau menyatakan bahwa Yesus merupakan pemenuhan nubuat Perjanjian Lama dalam Kitab Nabi Yesaya. Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa kesengsaraan Yesus diperparah dengan pengkhianatan dan penyangkalan yang dibuat oleh murid-Nya sendiri. Hal ini seakan menyadarkan kita bahwa hingga saat ini Yesus masih mengalami kesengsaraan, di mana masih ada banyak murid-Nya yang mengkhianati Dia atau menyangkal Dia. Lewat sabda-Nya, Tuhan menghendaki supaya kita tetap setia dan mencintai Yesus. Hendaklah kita jangan menambah lagi kesengsaraan Yesus dengan mengkhianati dan menyangkal Dia.

by: adrian

Senin, 14 April 2014

Iseng-iseng Berkreasi

Gambar ini hanya mengambil sampel mengendarai motor. Kita bisa menerapkannya
untuk hal lain. Intinya, semua halangan untuk maju dapat ditangani atau diatasi.
Dengan KEMAUAN, maka segalanya bisa terlaksana.
Di mana ada kemauan, pasti ada jalan!
Setiap orang pasti punya kelemahan.
Semua orang tentulah pernah mengalami kegagalan.
Tapi KEMAUAN bisa mengatasi kelemahan dan kegagalan itu.
Kelemahan bukan tanda untuk menyerah.
Kegagalan bukan berarti kalah.
Dengan KEMAUAN kita dapat bangkit lagi dan berjuang.
Yesus tiga kali jatuh dalam jalan salib.
Tapi KEMAUAN-NYA untuk menyelesaikan misi membuat DIA bangkit
Dan meneruskan jalan salib hingga tuntas.
Kematian-Nya adalah kemenangan.
Karena dengan kematian-Nya manusia diselamatkan.

Jakarta, 14 April 2014
by: adrian