Jumat, 15 November 2013

Orang Kudus 15 November: St. Magdalena Morano

BEATA MAGDALENA MARIA MORANO
Magdalena Maria Morano lahir di Turin pada 15 November 1847. Ia lahir dari keluarga besar yang sederhana. Ketika ia berusia 8 tahun, ayah dan kakaknya meninggal dunia. Karena itu, Magdalena terpaksa belajar sambil bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Pada tahun 1866 ia lulus menjadi guru sekolah dasar. Ada keinginannya untuk memasuki hidup religius, namun keluarganya tidak setuju, karena tenaganya sangat dibutuhkan. Selama 12 tahun Magdalena mengajar agama di pedesaan Moltando Torinese, Italia.
Pada tahun 1878, setelah membantu dua adiknya untuk bisa mandiri dan menyiapkan simpanan untuk ibunya, Magdalena masuk Konggregasi Putri Maria. Dalam usia yang masih sangat muda, ia menjadi biarawati Salesian. Konggregasi ini didirikan oleh Santo Yohanes Don Bosco dan Santa Maria Mazzarello. 
Pada tahun 1881 ia dikirim ke Trescastagni, di keuskupan Catania, Sisilia, Italia, untuk memimpin komunitas baru di sana. Di Sisilia juga ia membuka rumah baru untuk pendidikan dan kelas menjahit, melatih guru dan katekisasi. Dia mengabdikan dirinya di Sisilia selama 25 tahun.
Magdalena meninggal dunia pada 26 Maret 1908 di Catania, akibat penyakit tumor. Ketika ia meninggal, di Sisilia sudah punya 18 rumah dengan 142 anggota dan 20 anggota baru serta ada 9 orang yang hendak bergabung. Pada 5 November 1994 Magdalena menerima anugerah “Yang Berbahagia” dari Paus Yohanes Paulus II.

by: adrian

Renungan Hari Jumat Biasa XXXII - Thn I

Renungan Hari Jumat Biasa XXXII, Thn C/I
Bac I   : Keb 13: 1 – 9; Injil           : Luk 17: 26 – 37

Sabda Tuhan hari ini mau berbicara soal kebijaksanaan. Dalam bacaan pertama, kebijaksanaan dapat berguna untuk menemukan dan mengenal Allah dalam alam ciptaan. Untuk itu dibutuhkan mata iman agar dapat melihat Allah di dalam kebesaran dan keindahan alam semesta. Mata iman dalam dilatih dalam keheningan dan ketenangan. Jika masih disibukkan dengan urusan-urusan duniawi, maka sekalipun melihat mereka tetap tidak menemukan.

Yesus, dalam Injil hari ini, juga mengajak pendengarnya untuk bijaksana dalam menyikapi tanda-tanda zaman. “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.” (ay. 37). Tanda-tanda zaman selalu dikaitkan dengan kematian. Namun Yesus menasehati agar mereka tidak perlu cemas dan takut. Yesus meminta mereka untuk bijaksana dalam menyikapi kematian. “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya.” (ay. 33).

Ada kehidupan ada kematian. Ini sebuah fakta tak terbantah. Setiap manusia yang hidup pasti akan mati. Kematian merupakan pintu masuk kepada kehidupan berikutnya. Ada banyak orang berusaha memelihara hidupnya agar abadi. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk bersikap bijaksana, baik dalam menyikapi kehidupan dan juga kematian. Dalam kehidupan, kita diajak untuk bisa berjumpa dengan Tuhan, sang pencipta kehidupan. Tentang kematian, kita diajak untuk tidak perlu takut dan cemas.

by: adrian

Kamis, 14 November 2013

Orang Kudus 14 Novermber: St. Duns Scotus

DUNS SCOTUS, BIARAWAN & PUJANGGA MARIA
Duns Scotus lahir di Maxton, Skotlandia pada tahun 1266 dan meninggal dunia di rumah biara Fransiskan di Koln, Jerman pada 8 Nopember 1308. Imam Fransiskan ini dikenal sebagai filsuf dan teolog kenamaan pada Abad Pertengahan. Sumbangannya di bidang filsafat dan teologi sangat besar pengaruhnya hingga kini. Setelah ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1291, ia belajar lagi di Universitas Paris dan Oxford hingga meraih gelar doktor di bidang teologi pada tahun 1305. Setelah itu ia kembali menjadi mahaguru teologi di Universitas Cambridge, Oxford dan Paris.

Ia disebut ‘doktor yang tajam dan halus’ dalam pemikirannya dan dalam gaya bahasa Latin yang digunakannya. Banyak sekali karya filosofis dan teologisnya. Salah satu yang terkenal ialah 'Opus Oxoniense', sebuah komentar tentang hukuman mati atas diri Petrus Lombardia (1100-1160). Ia juga menulis sebuah karangan tentang 'Adanya Allah' dengan judul "De primo principio".

Tokoh-tokoh besar yang mempengaruhi Duns Scotus adalah Aristoteles (384-322 Seb. Mas.), Santo Agustinus (354-430), Avicenna (980-1037), dan Santo Bonaventura (1221-1274). Sebagaimana filsuf-filsuf besar lainnya di Abad Pertengahan, Duns Scotus pun mengajarkan bahwa manusia mempunyai dua kemampuan utama: 'intelek dan kehendak'. Tetapi ia lebih mengunggulkan 'kehendak' di atas 'intelek'. Dalam masalah inilah ia berbeda dari Santo Thomas Aquinas (1225-1274) yang lebih mengunggulkan 'intelek' di atas 'kehendak'. Keduanya memang tidak sependapat di dalam hal ini, namun sama-sama mengakui kemerdekaan kehendak dan intelek.

Bagi Scotus, kegiatan utama dari kehendak ialah cinta. Terpengaruh oleh pandangannya itu, maka salah satu tema teologinya didasarkan pada pandangan Santo Yohanes Penginjil tentang Allah, bahwa 'Allah itu Kasih'. Bagi dia, cinta merupakan aktifitas Allah yang paling luhur. Oleh dan di dalam cinta, Allah dengan tindakan kehendakNya yang bebas menciptakan dan memelihara semua ciptaanNya, teristimewa manusia. Karena Scotus menilai teologi sebagai suatu pengetahuan praktis, maka ia mengajarkan bahwa manusia harus menjawabi dan menghayati cinta Allah yang dilimpahkan kepadanya. Dalam rangka itu, Wahyu Allah merupakan norma bagi tindakan manusia. Dengan mengikuti norma-norma yang diwahyukan, manusia akan mencapai kebahagiaan abadi. Namun menurut pandangannya, kendatipun manusia akan menikmati cinta illahi dan memandang Allah, kebahagiaan abadi itu tercapai lebih karena cinta akan Allah daripada tahu tentang Allah.

Penyataan cinta Allah yang paling mulia terhadap semua makhluk ciptaan terutama manusia ialah "peristiwa inkarnasi, penjelmaan Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus." Yesus Kristus adalah pusat dan tujuan penciptaan, pusat sejarah manusia, dan alam semesta. Di sinilah terletak titik sentral teologi Scotus. Kecuali itu Duns Scotus dikenal luas sebagai seorang pengajar dan pembela ulung ajaran tentang Maria 'yang dikandung tanpa noda dosa' (Maria Immaculata). Oleh karena itu ia dijuluki 'Doctor Marianus'. Bagi Scotus, Maria disebut Bunda Allah karena ia mengandung dan melahirkan-dengan demikian turut serta secara aktif dalam karya penebusan umat manusia-Pribadi Kedua dari Trinitas yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita. Oleh karena itu sudah seharusnya ia diperkandungkan tanpa noda dosa, baik dosa asal maupun dosa-dosa pribadi. Bagi Scotus, masalah keperawanan Maria-yang oleh teolog-teolog sebelum Scotus dianggap tak jelas dasarnya-tidak bertentangan dengan dogma tentang dosa asal atau dengan kebenaran bahwa Kristus menebus semua umat manusia. "Bunda Maria yang terberkati", katanya, "dibebaskan dari dosa asal dalam kaitan erat dengan pandangan kita tentang kemuliaan Puteranya". Untuk itu Scotus menegaskan bahwa Allah mempunyai kuasa untuk melakukan perkandungan tanpa noda dosa itu atas Maria yang dianggapNya layak mengandung dan melahirkan PuteraNya yang tunggal.