Kamis, 03 Oktober 2013

Orang Kudus 3 Oktober: St. Ewaldus

Santo ewaldus bersaudara, martir
Kedua bersaudara ini dikenal sebagai bangsawan Inggris. Mereka mempunyai ciri khas masing-masing. Ewaldus pertama berambut hitam, emosional tetapi ahli kitab suci; sedangkan Ewaldus kedua berambut pirang, berperangai tenang dan pragmatis.

Mereka masuk Ordo Benediktin dan ditahbiskan menjadi imam. Bersama Santo Willibrodus, keduanya berkarya sebagai misionaris. Mula-mula mereka berkarya di Antwerpen, Belgia. Dari sana mereka melancarkan pewartaan Injil kepada suku-suku bangsa yang masih kafir di wilayah-wilayah sekitar. Semangat mereka untuk mempertobatkan bangsa-bangsa kafir mendesak keduanya mewartakan Injil di antara orang-orang Sakson yang masih kafir tulen. Di tepi sungai Lippe, mereka diterima baik oleh kepala suku itu dengan penuh penuh tanda tanya.

Kedatangan mereka diketahui oleh seluruh penduduk dengan penuh kecemasan dan kecurigaan. Mereka dicurigai sebagai orang-orang jahat yang membahayakan kemerdekaan bangsa Sakson. Oleh karena itu, keduanya diserang dan dipukuli dengan pentung. Ewaldus kedua yang tenang itu menemui ajalnya ketika itu juga; sedangkan Ewaldus pertama yang emosional itu tidak mau menyerah begitu saja. Ia masih berbicara untuk menerangkan maksud utama kedatangan mereka. Namun usahanya ini sia-sia. Ia bahkan disiksa lebih ngeri lagi hingga mati. Peristiwa ini terjadi pada tahun 692.

Gereja menghormati kedua bersaudara ini sebagai misionaris martir yang mati terbunuh dalam karya pewartaannya di kalangan orang-orang kafir

sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Kamis Biasa XXVI-C

Renungan Hari Kamis Biasa XXVI, Thn C/I
Bac I   : Neh 8: 1 – 4a, 5 – 6, 7b – 12; Injil      : Luk 10: 1 – 12

Ada yang menarik dalam bacaan pertama hari ini, yaitu seruan Nehemia dan Imam Ezra, “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Janganlah kamu berdukacita dan menangis!” (ay. 9). Ini merupakan kehendak Allah, karena apa yang disampaikan itu berdasarkan Kitab Suci. Ini berarti hari Tuhan hendaknya diisi dengan sukacita dan saling berbagi sukacita itu dengan sesama (ay. 10).

Dalam Injil hari ini juga Yesus meminta para murid-Nya untuk berbagi sukacita kepada umat yang mereka kunjungi. Yesus berkata kepada mereka, “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.” (ay. 5). Yesus juga meminta mereka untuk menyembuhkan “orang-orang sakit yang ada di situ" (ay. 9) dan mewartakan berita gembira: Kerajaan Allah sudah dekat.

Sabda Tuhan hari ini, mengajak kita juga untuk bergembira dan bersukacita dalam-Nya. Namun Tuhan tidak menghendaki agar sukacita itu hanya kita nikmati sendiri saja, melainkan hendaknya kita bagikan kepada sesama kita.

by: adrian

Rabu, 02 Oktober 2013

Faktor Penyebab Kebahagiaan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBAHAGIAAN
Kesehatan
Kesehatan yang baik memungkinkan orang pada usia berapa pun melakukan apa yang hendak dilakukan. Sedangkan kesehatan yang buruk atau ketidakmampuan fisik menjadi halangan untuk mencapai kepuasan bagi keinginan dan kebutuhan mereka sedemikian rupa, sehingga menimbulkan rasa tidak bahagia.

Daya Tarik Fisik
Daya tarik fisik menyebabkan individu dapat diterima dan disukai oleh masyarakat dan sering merupakan penyebab dari prestasi yang lebih besar daripada apa yang mungkin dicapai individu kalau kurang mempunyai daya tarik.

Tingkat Otonomi
Semakin besar otonomi yang didapat, semakin besar kesempatan untuk merasa bahagia. Hal ini ditemukan baik pada masa kanak-kanak maupun masa dewasa.

Kesempatan-kesempatan Interaksi di Luar Keluarga
Karena nilai sosial yang tinggi ditekankan pada popularitas, maka di tingkat usia apa pun orang akan merasa bahagia apabila mereka mempunyai kesempatan untuk mengadakan hubungan sosial dengan orang-orang di luar lingkungannya, ketimbang apabia hubungan sosial mereka terbatas pada anggota keluarga.

Jenis Pekerjaan
Semakin rutin sifat pekerjaan dan semakin sedikit kesempatan untuk otonomi dalam pekerjaan, semakin kurang memuaskan. Hal ini dilihat pada tugas sehari-hari yang diberikan kepada anak-anak dan juga pekerjaan orang-orang dewasa.

Status Kerja
Baik di bidang persekolahan maupun pekerjaan, semakin berhasil seseorang melaksanakan tugas semakin hal itu dihubungkan dengan prestise, maka semakin besar kepuasan yang ditimbulkan.

Kondisi Kehidupan
Kalau pola kehidupan memungkinkan seseorang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain baik di dalam keluarga maupun dengan teman-teman dan tetangga di dalam masyarakat, maka kondisi demikian memperbesar kepuasan hidup.

Pemilikan Harta Benda
Pemilikan harta benda bukan dalam arti memiliki benda itu yang mempengaruhi kebahagiaan, melainkan cara orang merasakan pemilikan itu.

Keseimbangan antara Harapan dan Pencapaian
Kalau harapan-harapan itu realistis, orang akan puas dan bahagia apabila tujuannya tercapai.

Penyesuaian Emosi
Orang-orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dan yang bahagia, jarang dan tidak terlampau intensif mengungkapkan perasaan-perasaan negatif seperti takut, marah dan iri hati dariada mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik dan tidak bahagia.

Sikap terhadap Periode Usia Tertentu
Perasaan bahagia yang akan dialami pada usia tertentu sebagian ditentukan oleh pengalaman-pengalaman sendiri bersama orang lain semasa kanak-kanak pada usia itu dan sebagian oleh stereotip budaya.

Realisme dari Konsep Diri
Orang-orang yang yakin bahwa kemampuannya lebih besar dari yang sebenarnya akan merasa tidak bahagia apabila tujuan mereka tidak tercapai. Ketidakbahagiaan mereka dipertajam oleh perasaan tidak mampu dan oleh keyakinan bahwa mereka tidak dimengerti dan diperlakukan kurang adil.

Realisme dari Konsep-konsep Peran
Orang-orang cenderung mengangankan peran yang akan dimainkan pada usia mendatang. Apabila peran yang baru itu tidak seusia dengan harapan mereka, mereka akan merasa tidak bahagia kecuali kalau mereka mau menerima kenyataan peran yang baru itu. Sebagai suatu kelompok, anak-anak dan para remaja cenderung mempunyai konsep peran yang lebih tidak realistik daripada orang-orang dewasa. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak bahagia pada tingkat-tingkat usia tersebut.

sumber: Elizabeth B. Hurlock, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5). Jakarta: Erlangga, 1980, hlm. 22