Minggu, 18 Agustus 2013

Sharing Injil

SHARING  7  LANGKAH

Langkah I        : Mengundang Tuhan
Sebagai umat beriman, hendaknya setiap kegiatan selalu diawali dengan doa. Karena itu pula, sharing 7 langkah pun diawali dengan mengundang Tuhan lewat doa. Pemimpin meminta kesediaan salah seorang peserta untuk memimpin doa.

Langkah II       : Mendengarkan Sabda
Setelah doa pembukaan, pemimpin meminta salah seorang membacakan teks Kitab Suci yang sudah disiapkan. Pada saat Kitab Suci dibacakan, peserta yang lain duduk tenang MENDENGARKAN. Pembaca hendaknya membacakan teks KItab Suci dengan suara lantang dan secara perlahan-lahan. Setelah selesai, pemimpin meminta salah seorang lain lagi untuk membacakan teks Kitab Suci; atau pemimpin sendiri yang membacanya. Sesudah itu berikan waktu hening sejenak kepada peserta untuk meresapkan sabda Tuhan. Di sini peserta dapat membaca sendiri teks Kitab Sucinya.

Langkah III      : Mengutip Kitab Suci
Peserta mengajak peserta untuk membaca dalam hati teks Kitab Suci. Sambil membaca, peserta diminta untuk mencari kata, frase atau kalimat yang menyentuh hatinya. Kemudian pemimpin meminta peserta untuk mengutip kata, frase  atau kalimat yang menyentuh hatinya tadi dan menyebutkannya sebanyak tiga kali dengan jedah di antaranya. Setiap peserta diberi kesempatan bergilir. Peserta diharapkan tetap memperhatikan dan menjaga suasana doa.

Langkah IV     : Merenungkan Kutipan
Setelah semua peserta menyampaikan sesuatu yang menyentuh hatinya sebanyak tiga kali, pemimpin mengajak peserta untuk masuk dalam suasana hening selama ± 15 menit. Dalam keheningan ini peserta diminta untuk merenungkan kutipannya tadi: mengapa tertarik dengan kutipan tadi, apakah ada peristiwa dalam hidup yang berkaitan dengan kutipan tadi, atau kutipan tadi memberi inspirasi apa, mengajarkan apa. Pusat renungan adalah diri sendiri.

Langkah V      : Mensyeringkan Pengalaman
Pemimpin mengajak peserta untuk mensyeringkan pengalaman hidupnya berdasarkan kutipannya tadi. Setiap peserta harus membagikan pengalamannya. Isi sharing tidak didiskusikan atau diperdebatkan. Jika ada peserta lain yang ingin bertanya, pertanyaan bersifat informatif.

Langkah VI     : Memanjatkan Doa Permohonan
Setelah semua peserta selesai mensyeringkan pengalamannya berdasarkan kutipan Kitab Suci, pemimpin memimpin peserta untuk menyampaikan doa permohonan. Hendaknya juga doa permohonannya menggambarkan isi kutipannya tadi. Misalnya, jika kutipannya adalah “Cinta kasih”, maka dalam doanya kira-kira seperti ini: “Ya Tuhan, tumbuhkanlah benih cinta kasih dalam diri kami agar kami mampu hidup saling mengasihi.” Doa permohonan ditutup dengan doa Tuhan: Bapa Kami.

Langkah VII    : Melakukan Aksi Nyata

Kemudian pemimpin mengajak peserta untuk mengungkapkan aksi nyata yang bisa dilakukan, baik dalam kebersamaan kelompok maupun secara pribadi. Aksi nyata ini hendaknya sesuai dengan isi atau pesan Kitab Suci yang baru dibacakan.

Orang Kudus 18 Agustus: St. Helena

SANTA HELENA, PENGAKU IMAN
(Flavia) Helena berasal dari Drepanum, dekat Izmit, Turki. Ia lahir pada tahun 250 dan meninggal dunia pada tahun 330. Sumber lain mengatakan bahwa Helena lahir di Bitynia, Asia Kecil. Ketika menjadi kristen, beliau sudah memasuki usia senja. Pada tahun 270, puteri pengusaha rumah penginapan ini, menikah dengan seorang jenderal Romawi yang kemudian berhasil menduduki takhta Kekaisaran Romawi bagian Barat menggantikan Diokletianus: Flavius Valerius Konstantinus, yang disebut juga Konstantinus Klorus (305 – 306). Mereka tinggal di Naissus (sekarang: Nis, Yugoslavia). Di sanalah pada tahun 274 Helena melahirkan Konstantinus Agung, yang kemudian menjadi Kaisar Romawi yang lebih agung daripada ayahnya.

Setelah ayahnya, Konstantinus Klorus, meninggal di Eboracum (York) pada tahun 306 dalam suatu ekspedisi ke Britania, Konstantinus, anaknya, menjadi Kaisar Romawi Barat. Empat tahun kemudian, terdapat lima kaisar di Kekaisaran Romawi yang saling bersaing: Konstantinus, Maxentius, Licinius, Galerius dan Maximinus. Tatkala Galerius meninggal dunia, kekaisaran dibagi dalam empat bagian: Konstantinus memerintah di Gaul (Perancis), Britania (Inggris) dan Raetia (Swiss); Maxentius di Spanyol, Italia dan Afrika Utara; dan bagian timur kekaisaran diperintah oleh Licinius  dan Maximinus.

Pada tahun 312, Maxentius menyerang Konstantinus. Dalam kegentingan itu, Konstantinus mengalami suatu penglihatan ajaib: sebuah salib tampak di langit dengan pancaran cahaya yang kilau-kemilau. Pada salib ajaib itu terpampang tulisan Yunani ini: “Tuoto Nika” yang artinya: “Dalam tanda ini engkau akan menang!”. Konstantinus yakin bahwa Tuhan menghendaki dia bersama pasukannya bertempur dengan memakai tanda itu. Segera ia memerintahkan seluruh pasukannya berperang di bawah panji salib suci. Konstantinus menang mutlak atas musuhnya Maxentius dan memasuki kota Roma dengan jaya. Konstantinus bersama pasukannya dielu-elukan oleh seluruh umat kristen, yang beberapa tahun silam dianiaya. Karena kemenangan ini, Konstantinus memberikan kebebasan kepada agama kristen, bahkan agama kristen diakui sebagai agama negara. Semua orang kristen yang masih mendekam di dalam penjara dibebaskan dan Konstantinus bersama ibunya bertobat menjadi kristen. Di bawah bimbingan dan dorongan ibunya yang saleh itu, Konstantinus mendirikan banyak gereja, mengembalikan semua kekayaan Gereja yang dijarah oleh penguasa Romawi yang lalim, dan menghadiakan banyak bidang tanah kepada Gereja.

Sebagai penghormatan kepada ibunya yang saleh itu, Konstantinus mengangkat ibunya menjadi ratu; Drepanum, kota asal ibunya diubah namanya menjadi Helenapolis. Helena sendiri pada tahun 324 berziarah ke Tanah Suci Yerusalem untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengaruniakan banyak rahmat kepada keluarganya. Dalam ziarah itu pula, Helena bertekad menemukan Salib Suci, tempat Yesus menebus seluruh umat manusia dengan mengucurkan darah-Nya. Setelah berjeri payah mencari Salib Yesus itu, ditemukanlah tiga buah salib di sebuah sumur dekat bukit Golgota di Yerusalem. Paku-pakunya pun masih ada pula. Kesulitan yang timbul ialah ‘betulkah ketiga salib itu adalah salib yang bersejarah itu? Manakah salib Yesus?’ Dengan bantuan Uskup Makarios, ketiga salib itu disentuhkan berturut-turut pada seorang wanita yang sakit tak tersembuhkan. Ketika salib ketiga disentuhkan pada wanita itu, ia langsung sembuh sama sekali. Salib itulah Salib Yesus. saking gembiranya, Helena memohon kepada puteranya Konstantinus agar mendirikan sebuah gereja di atas bukit Golgota untuk menyimpan salib yang tak ternilai itu. Ia memotong sebagian untuk dikirim masing-masing ke Roma dan Konstantinopel. Dua buah gereja lain dibangunnya, masing-masing di Betlehem, tempat kelahiran Yesus, dan di bukit Zaitun, tempat Yesus mengalami sakratulmaut dan diangkat ke surga.

Helena meninggal dunia pada tahun 330 dan jenazahnya dikuburkan di makam keluarga kaisar.

sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Minggu Biasa XX-C

Renungan Hari Minggu Biasa XX, Thn C/I
Bac I   : Yer 38: 4 – 6, 8 – 10; Bac II      : Ibr 12: 1 – 4;
Injil     : Luk 12: 49 – 53

Pusat pewartaan sabda Tuhan hari ini adalah Yesus Kristus, yang bagi kita adalah Allah yang menjadi manusia. Bagi penulis surat kepada Orang Ibrani, dalam bacaan kedua hari ini, Yesus merupakan sumber dan tujuan perjuangan hidup kita. Penulis ini mengajak jemaat untuk “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita” (ay. 1) dengan “mata yang tertuju kepada Yesus” (ay. 2). Di sini Yesus menjadi tujuan sekaligus motivator untuk mencapai tujuan.

Pada Yesus ada kebaikan. Karena itulah, penulis surat ini mengajak jemaat untuk bertekun dalam kebaikan sebagaimana yang telah diteladani oleh Yesus. Akan tetapi, menjadi baik itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menjadi baik atau bertekun dalam kebaikan akan menimbulkan pertentangan dalam hidup. Maka dari itu, Yesus sudah mengatakan dalam Injil hari ini bahwa menjadi pengikut-Nya, yang berarti menjadi baik, akan ditentang oleh banyak orang.

Hal inilah yang terjadi pada diri Yeremia. Dalam bacaan pertama kita dengar bagaimana Yeremia ditentang oleh masyarakatnya sendiri. Bagi mereka Yeremia, yang mewartakan pesan Allah, hanya akan membawa kemalangan. Oleh karena itu, Yeremia harus disingkirkan.

Sabda Tuhan hari ini mau mengingatkan kita bahwa untuk mengikuti Tuhan itu penuh dengan tantangan. Namun bukan lantas berarti kita menjadi takut dan mundur. Sikap berserah diri, seperti yang dicontohkan Yeremia, patut diikuti. Kita tak perlu merasa takut untuk senantiasa berbuat baik. Karena itu juga, penulis surat kepada Orang Ibrani menasehati kita untuk menanggalkan ketakutan itu dan tetap terus berbuat baik. Penulis memberikan contoh Yesus sehingga kita menjadi kuat.

by: adrian