Rabu, 14 Agustus 2013

Delapan Syarat Menjadi Pemimpin

8 SYARAT  JADI  PEMIMPIN

Setiap manusia terlahir sebagai pemimpin. Minimal ia memimpin dirinya sendiri. Memimpin diri sendiri juga membutuhkan keahlian tersendiri. Sebelum orang tampil memimpin orang dalam dalam sebuah organisasi, adalah baik jika ia dapat memimpin dirinya sendiri dahulu. Bagaimana ia bisa memimpin orang lain jika diri sendiri saja tidak bisa dipimpin?

Sebagaimana bila memimpin orang lain, seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah, mendengarkan orang lain, menjadi contoh, merancang dan membuat skala prioritas dan sebagainya, demikian pula terhadap diri sendiri. Setiap individu tentu tak luput dari masalah. Oleh karena itu, bagaimana kita sebagai pribadi mengatasi masalah pribadi itu, membuat rencana hidup, dll.

Dalam tulisan ini uraian “pemimpin” lebih pada masalah keorganisasian. Artinya, yang mau dilihat di sini adalah pemimpin dalam sebuah organisasi, seperti paroki, lembaga, yayasan, kelompok, dll. Sekalipun terlahir sebagai pemimpin, namun tidak semua manusia bisa tampil sebagai pemimpin; sekalipun sebuah organisasi itu memiliki pemimpin, namun belum tentu ada kepemimpinan di sana.

Untuk menjadi pemimpin dibutuhkan beberapa syarat. Pemimpin yang dimaksudkan di sini bukan semata leader, melainkan lebih pada leadership. Syarat-syarat yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin adalah sebagai berikut.

1.    PROBLEM  SEEKER
Pertama-tama seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk dapat melihat dan menemukan masalah. Sekecil apapun suatu masalah, harus dapat ditemukan akar masalahnya dan diusahakan untuk segera mengatasinya. Masalah kecil yang dibiarkan akan dapat menjadi masalah besar. Setelah menemukan masalah dan akar masalahnya, maka seorang pemimpin diminta untuk dapat menyelesaikannya, bukan dengan membiarkan waktu yang menyelesaikannya. Penyelesaian masalah itu tidak harus oleh pemimpin sendirian, melainkan dapat meminta bantuan kepada rekan lainnya atau dalam kebersamaan sebagai team work.

2.    PROBLEM SOLVER
Setelah menemukan akar masalah, seorang pemimpin dituntut mampu membuat keputusan penting dan mencari jalan keluar dari permasalahan. Jika tak mau julukan miss no solution tercetak di punggung, mulailah bertindak tegas dan hapus kebiasaan Anda bersikap plin-plan. Jangan pula memupuk kebiasaan melarikan diri dari tanggung jawab. Sebagai ‘nakhoda’ Andalah yng berkewajiban mengemudikan ‘kapal’ ke arah yang benar. Di sini seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menyortir masalah yang ada berdasarkan skala prioritas. Penyelesaian masalah pun harus berdasarkan skala prioritas.

3.   BERSIKAP POSITIF
Setiap orang tak luput dari kesalahan. Bila hal ini menimpa anak buah Anda, jangan langsung mencecarnya dengan ‘segudang’ omelan. Selidiki latar belakang permasalahan sehingga Anda dapat bersikap proposional. Jika Anda yang melakukan kesalahan, tak perlu ragu mengakuinya dan meminta maaf kepada orang-orang terkait. Jangan lupa melakukan perbaikan untuk menebus kekeliruan Anda tersebut. Jadi, sikap positip tidak lantas menghilangkan hal yang negatif. Kebenaran dan kebaikan menjadi tujuannya.

4.   KOMUNIKASI,  KOMUNIKASI
Karyawan sebaik apapun akan kehilangan arah bila dibiarkan ‘berjalan dalan gelap’. Sebagai pemimpin, Anda perlu menjelaskan seterang mungkin tentang tujuan bersama yang hendak diraih dan strategi mencapainya. Bekali pula anak buah dengan penilaian terhadap hasil kerjanya selama ini, sehingga mereka dapat belajar cara melakukan tugas dengan benar. Pelihara komunikasi dua arah dengan bawahan dan mintalah feedback dari mereka setiap kali Anda meluncurkan kebijakan baru. Untuk itu dibutuhkan sikap mau mendengarkan, bukan hanya diri sendiri tetapi juga orang lain, baik dari kalangan atas maupun dari bawah. Seorang pemimpin harus mempunyai prinsip ini: kebenaran bukan berasal dari jabatan dan gelar seseorang, melainkan dari kedalaman hati manusia. Untuk bisa mendengarkan itu maka seorang pemimpin harus memiliki keutamaan kerendahan hati. Hanya orang yang rendah hati mau mendengarkan suara orang lain.

5.   MENJADI  INSPIRASI
Seorang pemimpin harus mampu menetapkan standard dan jadi contoh bagi anak buahnya. Jadilah inspirasi bagi bawahan. Up date benak Anda dengan informasi terkini, tidak pelit membagi pengalaman dan patuhi peraturan yang Anda buat sendiri, misalnya selalu tiba di kantor on time.

6.   TUMBUHKAN  MOTIVASI
Berikan penghargaan terhadap prestasi – sekecil apapun itu, yang dilakukan anak buah Anda. Bahkan karyawan yang paling hobi telat sekalipun akan berusaha memperbaiki diri apabila Anda memujinya ketika ia datang tepat waktu (apalagi bila pujian itu diberikan tanpa ada kesan menyindir). Secara berkala, ajukan pula pertanyaan dan tantangan yang mampu merangsang kreativitas berpikir anak buah Anda. Misalnya, meminta pendapat mereka atas sebuah proyek kecil. Atau minta ide mereka untuk mempercantik kantor. Intinya, jangan hanya puas dengan keadaan yang sudah ada. Terkadang perubahan dibutuhkan, sejauh itu baik dan berguna bagi perkembangan bersama.

7.   HUBUNGAN   BAIK
Jalin hubungan profesional dan interpersonal yang harmonis dengan seluruh anak buah. Ingat, di balik statusnya sebagai bawahan, karyawan adalah pribadi yang memiliki latar belakang unik dan permasalahan tertentu. Luangkan waktu untuk mengenal karyawan secara personal sehingga Anda mampu melakukan coaching tepat sasaran. Akan tetapi perlu juga menjaga jarak dengan mereka agar tetap ada pembeda antara Anda dengan bawahan. Relasi baik dengan bawahan hanya mau menunjukkan kepedulian dan perhatian seorang pemimpin.

8.   TURUN   GUNUNG
Mentang-mentang kartu nama telah dihiasi title manager atau pastor kepala paroki, lantas Anda merasa bebas dari kewajiban dan melakukan ‘dirty job’ atau pekerjaan anak buah. Seorang pemimpin akan dihargai anak buahnya apabila ia bersedia terjun ke lapangan, dan tidak asal main perintah saja. Semakin hebat lagi hormat anak buah bila pekerjaan itu bisa dilakukan dengan lancar. ‘Turun gunung’, masuk lumpur, itu perlu karena akan menunjukkan kualitas Anda kepada anak buah. Dalam hal ini, ajaran Yesus tentang kepemimpinan menjadi kena. Yesus mengajarkan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang mau melayani (Mat 20: 26; 23: 11).

by: adrian, dari berbagai sumber

Orang Kudus 14 Agustus: St. Maximilian Kolbe

Santo Maximillian Kolbe, martir
Maximillian Kolbe lahir di Zdunska-Wola, dekat Lodz Polandia, pada tanggal 7 Januari 1894. Ia kemudian dipermandikan dengan nama Raymond. Setelah dewasa, ia masuk biara Fransiskan dan mengambil nama Maximillianus. Kaul kebiaraannya yang pertama diucapkannya pada tahun 1911. Sebagai seorang biarawan Fransiskan, Maximillian dikenal sebagai seorang yang saleh. Pada tahun 1917, ia mendirikan Militia Maria Immaculata di Roma untuk memajukan kebaktian kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda. Pada tahun 1918, Maximillian ditahbiskan menjadi imam dan kemudian kembali ke Polandia untuk berkarya di sana. Di Polandia, ia menyebarkan berbagai tulisan tentang Bunda Maria dalam bulletin ‘Militia Maria Immaculata’. Selain itu ia mendirikan biara di Niepokalanov pada tahun 1927 untuk member tempat bagi 800 biarawan. Biara yang sama didirkannya di Jepang dan India. Di kemudian hari, ia menjadi superiornya sendiri. Itulah sekilas kebesaran dan karya Maximillian.

Tuhan mencobai Maximillian yang saleh dan setia ini melebihi orang-orang lain. Kiranya benar juga bahwa semakin kuat dan besar iman seseorang, semakin berat juga cobaan yang harus dialami, demi memurnikan imannya dan mempertinggi kesuciannya. Pada tahun 1939 Gestapo Jerman yang keji itu memasuki wilayah Polandia. Dictator Jerman itu yakin bahwa untuk mematahkan semangat orang Polandia perlulah menahan, memenjarakan dan membunuh para pemimpinnya, baik pimpinan politik maupun pimpinan keagamaan dan para ahlinya. Lebih-lebih jajaran pers Polandia harus dihancurkan.

Maximillian Kolbe dikenal sebagai seorang penulis dan editor majalah. Maka ia ditangkap oleh Gestapo dan diasingkan ke Lamsdorf, Jerman, dan dimasukkan ke dalam Kamp Konsentrasi Amstitz. Pernah ia dilepaskan, tetapi kemudian ditangkap lagi pada tahun 1941, dan dipenjarakan di Pawiak, lalu dipindahkan ke Kamp Konsentrasi Auscwitz. Di kam konsentrasi ini, Maximillian dengan diam-diam menjalankan tugasnya sebagai imam bagi para tahanan yang ada di sana. Dengan kondisi tubuh yang kurus kering, Maximillian turut serta dalam kerja paksa. Penyakit TBC yang dideritanya semakin menjadi parah karena kerja paksa itu.

Pada suatu hari seorang sersan bernama Gajowniczek dijatuhi hukuman mati. Karena sangat takut, ia berteriak-teriak menyebut anak-anaknya dan isterinya. Mendengar teriakan sersan itu, Maximillian Kolbe maju dengan tegap untuk meminta menggantikan sersan malang itu. “Daripada sersan yang beranak-isteri ini mati, lebih baiklah saya yang mati. Karena toh saya tidak beranak-isteri,” kata Maximillian. Bersama dengan para sandera lainnya, Maximillian tidak diberi makan dan minum. Namun ia bisa bertahan sebagai korban terakhir dan baru mati setelah disuntik dengan carbolic acid.


sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Rabu Biasa XIX-C

Renungan Hari Rabu Biasa XIX, Thn C/I
Bac I   : Ul 34: 1 – 12; Injil            : Mat 18: 15 – 20

Bacaan pertama hari ini merupakan kelanjutan kisah suksesi kepemimpinan Israel, dari Musa kepada Yosua. Dikisahkan bahwa Musa memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain (ay. 10 – 12). Umat merasa sedih atas kematian Musa, tapi mereka tidak mau larut dalam kesedihan. Mereka menerima Yosua, sama seperti mereka menerima Musa. Di sini kuncinya ada pada kepercayaan. “Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” (ay. 9).

Kepercayaan juga yang ditekankan dalam Injil hari ini. Kepada para murid-Nya, Yesus menekankan, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” (ay. 9). Di sini kuncinya adalah percaya, maka permintaan itu akan terkabulkan.

Sabda Tuhan hari ini menghendaki kita untuk membangun sikap percaya kepada-Nya. Tentulah setiap kita memiliki kebutuhan dalam hidup ini. Tuhan akan dapat memenuhi kebutuhan itu asal kita meminta kepada-Nya dengan penuh kepercayaan.

by: adrian