Minggu, 14 Juli 2013

Keturunan Ismael

RAMALAN  keturunan  ISMAEL
Kata malaikat TUHAN itu kepada Hagar, “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.”

Selanjutnya kata malaikat TUHAN itu kepadanya, “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.
Seorang anak laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya dia akan menentang semua saudaranya.”

sumber: Kejadian 16: 10 – 12

Orang Kudus 14 Juli: St. Kamilus de Lellis

SANTO KAMILUS DE LELLIS, PENGAKU IMAN
Kamilus lahir di Bocchionico, Italia Tengah, pada tahun 1550. Pada masa remajanya, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda positif akan menjadi seorang abdi Allah, putera pejabat militer ini terkenal nakal dank arena itu harus diawasi secara ketat oleh tentara Venesia. Tetapi tujuh tahun kemudian ia dipecat karena lekas naik darah dan suka berjudi.

Setelah meninggalkan dinas militer, Kamilus semakin gemar saja berjudi, sehingga berkali-kali ia jatuh miskin dan akhirnya menjadi pengemis. Pada tahun 1574, ia menjadi seorang pekerja bangunan di biara Kapusin Manfredonia. Di sana ia bertobat lalu melamar menjadi seorang bruder kapusin di biara itu. Namun ia ditolak karena luka parah pada kakinya sewaktu mesih menjadi tentara.

Kamilus kemudian berangkat ke Roma untuk mencari pengobatan yang lebih baik untuk lukanya. Di sana ia bertemu dengan Santo Philipus Neri. Philipus menjadi Bapa Pengakuannya. Seteah beberapa lama, Kamilus diterima menjadi pasien di rumah sakit San Giacomo. Di rumah sakit ini, Kamilus kemudian menjadi seorang perawat. Ia ditugaskan merawat orang-orang sakit yang tidak bisa terobati lagi. Kesabaran dan kesanggupannya untuk merawat orang-orang ini menaikkan prestasinya. Oleh karena itu kemudian Kamilus diangkat menjadi direktur rumah sakit itu.

Semangat pelayanannya kepada para pasien sungguh besar. Ia kemudian berkeputusan untuk membaktikan dirinya bagi pelayanan orang-orang sakit. Kelalaian para perawat, bahkan imam-imam terhadap kepentingan orang-orang sakit mendorong dia semakin menekuni pelayanan terhadap orang-orang sakit. Atas nasehat Philipun Neri, Kamilus memutuskan untuk menjadi imam. Untuk itu ia giat belajar dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1584 di Roma. Pada tahun itu juga ia mendirikan sebuah tarekat baru, Tarekat Hamba Orang-orang Sakit, yang disebut juga Imam-imam Kamilian. Anggota tarekat ini mengabdikan dirinya pada pelayanan orang-orang sakit. Dua tahun berikutnya konggregasi ini direstui oleh Paus Sixtus V pada tahun 1586, dan pada tahun 1591 Paus Gregorius XIV meningkatkan statusnya menjadi sebuah ordo religious. Kamilus menjadi pemimpin pertama ordo ini dan membangun biara-biara di Napoli dan kota-kota Italia lainnya. Kepada rekan-rekannya, ia menasehatkan, “Mengabdilah seikhlas-ikhlasnya hingga titik darah terakhir, karena Tuhan hadir secara paling nyata di dalam diri orang-orang sakit yang kita layani. Kita ditugaskan Tuhan untuk melayani Dia dalam diri orang-orang sakit ini.”

Kamilus meninggal dunia pada 14 Juli 1614 dalam usia 64 tahun. Jenasahnya dikuburkan di gereja Santa Maria Magdalena di Roma. Banyak mujizat dialami oleh orang-orang yang berdoa dengan perantaraannya. Kamilus dinyatakan sebagai ‘beato’ pada tahun 1742 dan digelari ‘santo’ oleh Paus Benediktus XIV pada tahun 1746. Ia dihormati sebagai santo pelindung orang-orang sakit, para perawat dan organisasi-organisasi kesehatan.

sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Minggu Biasa XV-C

Renungan Hari Minggu Biasa XV, Thn C/I
Bac I   : Ul 30: 10 – 24; Bac II    : Kol 1: 15 –20;
Injil     : Luk 10: 25 – 37

Sabda Tuhan hari ini, dalam bacaan-bacaan liturgi minggu biasa XV, dapat dirangkum dalam kalimat: “Melaksanakan perintah Tuhan akan mendatangkan keselamatan. Perintah Tuhan yang utama adalah cinta kasih. Karena itu cinta kasih dapat mendatangkan keselamatan.”

Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Ulangan, hal ini terlihat jelas dari firman Tuhan sendiri. Dikatakan bahwa Tuhan akan melimpahi umat-Nya dengan berkat dan keberuntungan. Artinya, Tuhan akan mendatangkan keselamatan jika, “mendengarkan suara Tuhan … berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya …” (ay. 10) dengan segenap hati dan jiwa.

Perintah Tuhan yang utama diungkap dalam Injil melalui mulut ahli Taurat. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus menegaskan bahwa dengan melakukan hal itu maka akan datang keselamatan. Keselamatan bukan hanya pada orang yang melakukan, melainkan juga orang yang dikasihi. Ini terlihat dalam cerita “Orang Samaria yang murah hati.” (ay. 30 – 35).

Kasih yang menyelamatkan ini diungkapkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolese. Dalam bacaan kedua, Paulus merefleksikan hubungan manusia dengan Allah. Paulus melihat bahwa manusia mendapat keselamatan karena kasih Allah yang tampak dalam diri Yesus. Bukti kasih Allah, bagi Paulus, tampak dalam “darah salib Kristus.” (ay. 20). Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah bukti kasih Allah, yang dengan-Nya manusia memperoleh keselamatan.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita akan perintah Tuhan yang utama, yaitu kasih. Melalui sabda-Nya Tuhan mengajarkan bahwa dengan melaksanakan kasih akan datanglah keselamatan bagi diri kita dan juga orang yang kita kasihi. Tuhan juga sudah memberi contoh kasih dalam Diri-Nya, lewat kurban-Nya di kayu salib. Karena itu, melalui sabda-Nya ini, Tuhan menghendaki kita untuk senantiasa hidup dalam kasih.

by: adrian