Minggu, 10 Maret 2013

Orang Kudus 10 Maret: St. Yohanes

SANTO YOHANES, BIARAWAN
Biarawan muda ini memiliki kegemaran membaca buku-buku perdukunan hingga ia sendiri melakukan praktek klinik perdukunan secara gelap. Oleh kawan-kawannya ia dituduh bertakhyul dan dimasukkan ke dalam tahan biara di sebuah ruang yang sangat kotor.

Menyadari perbuatannya yang melawan ajaran iman ini, ia bertobat dan mengakui kesalahan-kesalahannya. Untuk menebus dosa-dosanya ia melakukan puasa dan tapa keras di ruang tahanan yang pengap itu. Melihat pertobatannya yang mendalam itu, kawan-kawannya mengajak dia kembali ke dalam kehidupan normal di dalam komunitas biara. Tetapi ia lebih suka bermatiraga keras di ruang tahanan itu hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia banyak menulis dan menjadi seorang pengarang yang terkenal. Ia meninggal dunia pada tahun 1380.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Minggu Prapaskah IV-C

Renungan Hari Minggu Prapaskah IV, Thn C/I
Bac I : Yos 5: 9a, 10 – 12; Bac II : 2Kor 5: 17 – 21
Injil       : Luk 15: 1 – 3, 11 – 32

Masa prapaskah merupakan masa tobat. Karena itu, sabda Tuhan hari ini berbicara tentang pertobatan. Bertobat berarti meninggalkan dosa dan kesalahan. Ini berarti juga berdamai dengan Allah dan sesama. Dalam pertobatan ada pengampunan. Pertobatan itu datang dari manusia, sedangkan pengampunan berasal dari Allah

Paulus, dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus, yang menjadi bacaan kedua hari ini, mengajak umat kristen untuk bertobat. Bagi Paulus, bertobat merupakan perdamaian dengan Allah dalam Kristus Yesus. Kristus merupakan perantara perdamaian antar manusia dan Allah (ay. 18-19). Dan dengan bertobat kita menjadi "ciptaan baru." (ay. 17).

Pertobatan dalam Injil hari ini terlihat dalam diri anak bungsu. Setelah meninggalkan bapanya dan hidup dalam dosa lainnya di tanah asing, si bungsu akhirnya kembali lagi ke rumah bapanya. Ia berdamai dengan bapanya. Dengan berdamai lagi dengan bapanya, si bungsu menjadi manusia baru. Kebaruan itu tampak pada pengenaan jubah yang terbaik, cincin dan sepatu. Istilah lain manusia baru diungkapkan dengan kalimat, "Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria." (ay. 24).

Melalui sabda Tuhan hari ini kita disadarkan bahwa Allah itu mahakasih dan maha pengampun, bukan pemarah atau penghukum. Allah tidak menghukum kita atas dosa dan pelanggaran kita, melainkan Allah tetap mengasihi dan berharap kita kembali kepada-Nya. Allah berharap kita selalu bertobat. Allah ibarat bapa dalam perumpamaan tentang anak yang hilang yang tidak marah atau menghukum si bungsu tetapi menyambutnya dengan gembira dan membuatkan pesta.

by: adrian

Sabtu, 09 Maret 2013

(Sharing Hidup) Pengakuan Dokter Aborsi

PENGAKUAN SEORANG DOKTER ABORSI

oleh: dr. Bernard Nathanson

Saya pribadi bertanggungjawab atas 75.000 aborsi. Hal ini membuat saya memiliki kredit tersendiri untuk berbicara dengan Anda dalam kasus aborsi. Saya termasuk salah satu pendiri National Association for the Repeal of the Abortion Laws (NARAL - Asosiasi Nasional untuk Pencabutan Hukum Aborsi) yang didirikan di Amerika Serikat tahun 1968. Pengumpulan pendapat masyarakat mengatakan kalau kebanyakan masyarakat Amerika menentang aborsi yang dilegalkan. Tetapi dalam waktu 5 tahun, kami di NARAL berhasil meyakinkan Pengadilan Tinggi Amerika Serikat untuk mengeluarkan keputusan melegalkan aborsi di seluruh Amerika pada tahun 1973 dan boleh melakukan praktek aborsi setiap saat hingga kelahiran si bayi. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sangat penting untuk dipahami, ini semua terjadi dengan taktik-taktik jitu yang telah digunakan dunia barat dengan mengubah statistik atau apa pun, supaya hukum aborsi dapat diubah.

TAKTIK PERTAMA ADALAH MERANGKUL MEDIA MASSA
Kami meyakinkan media massa bahwa aborsi yang dilegalkan adalah suatu kebebasan yang meringankan, sesuatu yang canggih. Kami tahu, jika dilakukan jajak pendapat, kami akan kalah, maka kami membuat angka-angka hasil jajak pendapat palsu. Kami katakan kalau kami telah melakukan pengumpulan pendapat dan hasilnya 60% dari masyarakat Amerika setuju dengan aborsi legal. Ini taktik menutup kebohongan diri sendiri. Sedikit orang yang mencoba melawan kami. Kami mendapat simpati sebagian masyarakat dan berhasil menjual program aborsi legal dengan memberikan data palsu tentang aborsi ilegal setiap tahun di Amerika Serikat. Angka sebenarnya hanya 100.000 kasus, tetapi angka itu kami ganti menjadi 1.000.000 dan kami berikan kepada media. Mengulang-ulang kebohongan sering menjadi sesuatu yang meyakinkan masyarakat. Angka wanita yang meninggal karena aborsi ilegal sebenarnya hanya 200-250 per tahunnya, tetapi kami mengatakan 10.000 jiwa per tahun. Angka-angka palsu ini terus menerus kami berikan sehingga masyarakat yakin untuk menyokong hukum aborsi legal. Cerita lain yang kami sodorkan pada media massa adalah bahwa dengan diberlakukannya aborsi yang legal, maka mereka yang menjalani aborsi ilegal kini menjadi legal. Yang terjadi, aborsi kini juga dipakai sebagai salah satu metode keluarga berencana di Amerika Serikat dan angka aborsi per tahunnya kini meningkat menjadi 1500% sejak diberlakukannya hukum aborsi legal.

TAKTIK KEDUA ADALAH MEMAINKAN KARTU GEREJA KATOLIK
Kami selalu menjelek-jelekkan Gereja Katolik dan "ide-ide sosial" mereka. Kami malah memfitnah petinggi Gereja Katolik sebagai penjahat penentang aborsi. Taktik ini kami mainkan terus menerus. Kami terus memberikan kebohongan pada media massa, kami katakan bahwa, "kita semua tahu, yang menentang aborsi adalah para petinggi Gereja Katolik, bukan ummat Katolik itu sendiri." Kami katakan juga bahwa, "Jajak pendapat membuktikan bahwa kebanyakan ummat Katolik menginginkan aborsi yang legal." Lalu, media terus menerus mendengungkan hal ini pada masyarakat AS, mengatakan bahwa mereka yang menentang aborsi pastilah dibawah pengaruh petinggi Gereja Katolik dan bahwa Gereja Katolik dalam hal aborsi sebenarnya memberikan penerangan jelas dan maju ke depan. Kesimpulan dari taktik ini adalah tidak ada satu group non-Katolik pun yang menentang aborsi. Kenyataan sebenarnya, ummat Kristen dan non-Kristen pun menentang (hingga kini) aborsi. Tetapi suara-suara mereka ditekan, juga suara mereka yang tidak mengakui Tuhan tetapi mencintai kehidupan.

TAKTIK KETIGA ADALAH MENYANGKAL DAN MENEKAN BUKTI-BUKTI ILMIAH YANG MENGATAKAN KEHIDUPAN DIMULAI SESAAT SETELAH PEMBUAHAN TERJADI
Banyak yang bertanya, "Apa yang membuat Anda berubah pikiran?" Bagaimana saya berubah dari seorang yang betul-betul pro-aborsi menjadi pejuang pro-kehidupan? Tahun 1973, saya menjadi Direktur Obstetrik di sebuah rumah sakit besar di New York City. Saya harus membangun unit riset pre-natal untuk memulai teknologi baru yang memungkinkan kita untuk setiap harinya mempelajari janin dalam kandungan. Taktik favorit seorang pro-aborsi adalah mengatakan bahwa kita tidak mengetahui kapan kehidupan terjadi, pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan teologi atau moral atau filosofi, atau apa saja, tetapi bukan sebuah pertanyaan ilmu pengetahuan. Ilmu tentang janin (foetology) membuat penyangkalan-penyangkalan diatas tak terbukti. Memang benar, kehidupan dimulai sesaat setelah terjadinya pembuahan. Kehidupan baru ini membutuhkan perlindungan dan pengawalan yang dinikmati oleh kita semua. Pasti Anda bertanya kenapa masih banyak dokter di AS yang ikut membangun Foetology masih saja melakukan aborsi? Ini pertanyaan aritmetika. Dengan US$ 300 sekali aborsi, 1,55 juta kasus aborsi berarti kira-kira US$ 500.000.000 per tahun, yang hampir keseluruhannya masuk ke dalam kantung si dokter - bukankah ini sebuah industri besar? Sudah jelas bahwa aborsi sebenarnya penghancuran secara sengaja sebuah kehidupan manusia. Tindakan kejahatan yang kejam. Memang, kehamilan yang tidak direncanakan adalah sebuah dilema yang sulit, tetapi untuk mencari jalan keluar terbaik dengan cara aborsi adalah sama dengan menghancurkan kepintaran manusia, dan menyerah pada pandangan umum yang sempit untuk menjawab masalah sosial.

SEBAGAI SEORANG ILMUWAN SAYA TAHU BAHWA KEHIDUPAN DIMULAI PADA SAAT TERJADINYA PEMBUAHAN
Meskipun saya bukanlah seorang pemeluk agama, tetapi saya percaya sepenuh hati bahwa memang ada kekuasaan Sang Pencipta yang menuntun kita untuk mengakhiri dan berbalik dari kejahatan yang sangat memalukan dan menyedihkan terhadap ummat manusia.

[Dr. Nathanson akhirnya memeluk agama Katolik pada tahun 1996]