TAHTA SANTO
PETRUS
Pada tanggal 22 Februari, Gereja
Katolik memperingati Pesta Tahta Santo Petrus (see of Peter) "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang
ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini
akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di
sorga" (Mat 16:18-19).
Gereja itu bersifat Apostolik dimana gereja itu harus menunjukkan (menampakkan)
ciri-ciri rasuli (lih Ef 2:20) karena dibangun diatas para Rasul dengan Kristus
sebagai batu Penjurunya, tentu pula dengan Petrus sebagai kepada dewan para
rasul seperti yang Yesus sendiri kehendaki (bdk Mat 16:18-22;Yoh 21:15; Kis
2:14; dll). Konsekuensi dari gereja yang mempertahankan sifat gereja yang
Apostolik adalah mempunyai suksesi apostolik, dengan adanya suksesi Apostolik
maka kedudukan para rasul dan Petrus sebagai kepala dewan para rasul dapat
tergantikan, dengan demikian kelangsungan Gereja dapat terjamin sesuai kehendak
Yesus sendiri kepada Gerejanya (bdk Mat 28:20). Suksesi apostolik dalam Gereja
perdana bisa kita lihat pada misalnya penggantian Yudas Iskariot oleh Matias
(Kis 1), Pengangkatan beberapa diakon, dll. caranya itu dilakukan dengan penumpangan
tangan (bdk Kis 6:6;Iti 5:22, dll). Suksesi Apostolik dipertahankan oleh Gereja
Katolik dan Gereja Ortodoks, kita percaya bahwa meskipun alkitab tidak secara
tegas menyatakan tentang suksesi Apostolik, tetapi alkitab memberikan gambaran
tentang hal itu dan juga Tradisi Suci juga menegaskan hal yang sama [penjelasan
tentang Tradisi suci lihat artikel "Apakah hanya Alkitab dasar iman
Kita?"]. Gereja yang mempertahankan suksesi Apostolik, memiliki ciri-ciri
antara lain memiliki kesatuan dalam hal iman, ajaran, tata ibadat, hirarki, dll
dimanapun komunitas itu berada, dimana Gereja sekarang sama seperti Gereja para
rasul, dimana para jemaat bertekun dalam pengajaran para rasul (lih Kis 2:42).
Dimana Gereja yang sekarang sama seperti Gereja pada masa Bapa-Bapa Gereja dan
akan tetap sama sampai kepada akhir jaman.
Kembali ke masalah tahta Petrus (see of
Peter), kita percaya bahwa pengganti Petrus sebagai Ketua dewan para rasul
berada di Roma meskipun Petrus juga mendirikan Keuskupan di Anthiokia berikut
salah satu contoh dari hasil konsili Sardica "[I]f any bishop loses the judgment in some case [decided by his
fellow bishops] and still believes that he has not a bad but a good case, in
order that the case may be judged anew . . . let us honor the memory of the
Apostle Peter by having those who have given the judgment write to Julius,
Bishop of Rome, so that if it seem proper he may himself send arbiters and the
judgment may be made again by the bishops of a neighboring province" (canon
3 [A.D. 342]). Kita tidak dapat menyangkal bahwa See of Peter memiliki kewibawaan yang lebih daripada yang lain,
karena Tahta ini merupakan tahta yang ditinggalkan Yesus untuk gerejanya dan
Yesus menjamin bahwa Tahta ini tidak akan dikuasai oleh alam maut (lihat Matius
16:18-19). Bahkan sejak semulapun Tahta di Roma menjadi Tahta yang utama karena
disanalah ada pengganti Petrus, hal itu ditegaskan dalam Konsili Konstantinopel
I "The bishop of Constantinople
shall have the primacy of honor after the bishop of Rome, because his city is
New Rome" (canon 3 [A.D. 381]). Jabatan Petrus sebagai ketua dewan
para rasul juga diwariskan kepada penggantinya yang bertahta di Roma, hal ini
merupakan konsekuensi dari sifat gereja yang apostolik, klaim gereja Ortodoks
bahwa semua Patriakh adalah pengganti Petrus secara rohani jelas tidak dapat
diterima dalam sifat gereja yang apostolik, karena Gereja para rasul tidak
memiliki banyak Petrus, tetapi hanya satu!! Dan kesaksian Bapa-Bapa Gereja
menunjukkan bahwa Jabatan Petrus sebagai ketua dewan para rasul diwariskan
kepada penggantinya yang bertahta di Roma. Dengan tidak diakuinya Tahta Petrus
sebagai Tahta yang memiliki kewibawaan khusus membawa dampak bagi perkembangan
dogma Gereja Ortodoks yang tertinggal jauh dengan Gereja Katolik (padahal
benih-benih ajarannya sama dan merupakan Tradisi Apostolik, baik di Gereja
Katolik ataupun Ortodoks) dan Gereja Ortodoks belum mampu mengadakan Konsili
besar seperti yang Gereja Katolik lakukan, karena tidak adanya kepemimpinan
yang memiliki senioritas diatas para Patriakh, sehingga sukar untuk mengadakan
konsili besar. Kita melihat dari Gereja Protestan yang secara jelas menolak
Primasi Paus bahkan yang paling parah menolak paham sakramen Imamat yang
berarti kehilangan sifat Apostolik dari Gereja, kita lihat bagaimana mereka
tidak memelihara Tradisi Suci, bahkan mengembangkan penafsiran bebas atas kitab
suci sehingga menimbulkan perpecahan yang semakin parah atas tubuh Kristus, dan
jelas-jelas bertentangan dengan kenyataan yang ada pada jaman para rasul (lih
Kis 2:42).
Thomas Rudy
Sumber: http://www.imankatolik.or.id/tahtapetrus.html