Kamis, 21 Februari 2013

Orang Kudus 21 Februari: St. Petrus Damianus

SANTO PETRUS DAMIANUS, USKUP & PUJANGGA GEREJA
Orang tua Petrus Damianus meninggal selagi ia masih kecil. Kakaknya yang sulung memikul tanggung jawab untuk membesarkan Petrus Damianus. Meskipun demikian, Petrus Damianus tidak menikmati suatu hidup yang baik dan membahagiakan di rumah kakaknya itu. Ia diperlakukan secara kejam. Menyaksikan keadaan Petrus Damianus, seorang saudaranya yang sudah menjadi imam, mengirim di untuk belajar di Parma.

Di sekolah ini Petrus Damianus mengalami perkembangan yang sangat baik. Tingkah lakunya disenangi banyak orang. Ia meraih prestasi luar biasa dalam semua mata pelajaran. Di antara kawan-kawannya, Petrus Damianus dikenal sebagai anak yang suka menolong kawan-kawannya yang mengalami kesusahan dan berbagai kesulitan. Ia memberikan uang kepada mereka yang meskipun tunjangan hidupnya sendiri sangat tidak memadai.

Setelah menjalani suatu sejarah hidup yang kelam dan panjang, ia akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Tekadnya sebagai imam ialah ‘tidak mau mengabdi Tuhan setengah-setengah’. Karena itu ia mengambil keputusan untuk meninggalkan segala-galanya, lalu menjadi seorang rahib di pertapaan Fonte Avellana.

Kebijaksanaan, kepintaran dan kerendahan hatinya membuat dia disenangi oleh semua rahib di pertapaan itu. Akhirnya ia diangkat menjadi pemimpin pertapaan itu. Dalam kedudukannya sebagai pemimpin, pertapaannya mengalami perubahan-perubahan yang menggembirakan. Ia juga sering diminta untuk membantu membereskan masalah-masalah yang menimpa biara-biara lain. Ia pun diangkat penasehat pribadi untuk tujuh orang paus. Karena semua prestasinya itu, Petrus Damianus akhirnya dipilih menjadi uskup dan kardinal di Ostia oleh Paus Stephanus IX (1057 – 1058). Jabatan mulia ini kemudian diletakkannya kembali karena ia lebih suka hidup menyendiri di biara pertapaan Fonte Avellana.

Sungguhpun Petrus Damianus dikenal luas sebagai seorang intelektual, namun ia tetap menampilkan dirinya setara dengan kawan-kawannya. Ia dengan senang hati mengerjakan tugas-tugas dari biaranya, mengikuti aturan-aturan yang berlaku, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tangan seperti membuat sendok dari kayu, memperbaiki keranjang, dll.

Pada tahun 1072, Petrus Damianus meninggal dunia. Tulisan-tulisan tentang berbagai soal iman sangat bermutu dan menjadi warisan Gereja yang bernilai tinggi. Oleh Gereja, Petrus Damianus dihormati sebagai pujangga Gereja

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Kamis Prapaskah I-C

Renungan Hari Kamis Prapaskah I, Thn C/I
Bac I : TEst 4 10 – 12, 17 – 19; Injil       : Mat 7: 7 – 12

Bacaan pertama memuat doa Ester kepada Tuhan, sang penolongnya. Tuhan sebagai penolong sudah diyakini Ester sejak kecil (ay. 12). Bagi Ester tidak ada penolong lain lagi selain Tuhan (ay. 19). Keyakinan itu sudah terbukti, karena Tuhan selalu menepati janji-Nya

Keyakinan Ester ini dipertegas kembali oleh Yesus dalam Injil hari ini. Bagi Yesus Tuhan akan memberikan apa yang baik kepada umat-Nya. Karena itu, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (ay. 7).

Setiap manusia tentulah mempunyai kebutuhan. Dalam memenuhi kebutuhan itu, terkadang manusia menemui halangan. Untuk itu manusia perlu datang kepada Tuhan agar halangan itu disingkirkan sehingga terkabullah kebutuhan itu. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk datang kepada Tuhan memohonkan kebutuhan kita.

Sabda Tuhan pertama-tama mau menyadarkan kita bahwa Tuhan adalah satu-satunya penolong kita, sama seperti keyakinan Ester. Sabda Tuhan juga menghendaki agar kita selalu datang meminta kepada-Nya. Kita harus punya keyakinan bahwa jika "yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (ay. 11).

by: adrian

Rabu, 20 Februari 2013

Tantangan Pernikahan

TANTANGAN PERKAWINAN
Psikolog dari Universitas Indonesia, Dr Dewi Matindas, dalam sebuah seminar bertajuk “Gonjang-Ganjing Perkawinan” yang berlangsung di Hotel Sahid, menandaskan bahwa memutuskan menikah berarti mau menerima tantangan. “Tantangan itu tidak habis-habis,” katanya mengingatkan.

Dengan terus terang ia mengingatkan bahkan menyodorkan sejumlah kenyataan dan masalah yang tidak pernah kita bayangkan sama sekali sebelumnya. Dewi mengemukakan, sejak awal setiap pasangan suami-istri perlu menyadari beberapa kenyataan utama dalam hidup perkawinan.

Kenyataan pertama, manusia berubah dari waktu ke waktu. Bisa jadi, hal-hal yang semula terasa begitu berharga, seiring waktu kehilangan maknanya. Menurut Dewi, hanya dengan menyadari bahwa setiap suami-istri dapat (akan) berubah, kita dapat bersikap lebih realistis dalam menghadapi berbagai kekecewaan dalam perkawinan.

Kenyataan kedua, dalam perkawinan pasti ada konflik. Konflik bisa merupakan perbedaan pendapat, perbendaan nilai maupun kepentingan. ”Tetapi, tak perlu cemas, banyak sekali konflik yang dapat dipecahkan dengan baik,” tandas Dewi. Kenyataan ketiga, tidak seorangpun bisa memuaskan semua kebutuhan pasangannya.

Kenyataan keempat, perkawinan memerlukan sejumlah persyaratan. Tetapi, suami-istri sering kurang memperhatikan persyaratan yang paling penting, yaitu kematangan psikologis. Kenyataan kelima, banyak hambatan yang harus diatasi untuk meraih kebahagiaan perkawinan. Cinta saja tidak cukup. ”Setiap orang yang hendak menikah perlu membekali diri dengan sejumlah ketrampilan psikologis untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam perkawinan,” ungkap Dewi.

Kenyataan keenam, menikah bukan suatu keharusan. Jangan memaksa menikah hanya karena ’sudah cukup umur’ atau demi status semata-mata. Jika memang tidak siap, lebih bijaksana untuk tetap melajang. ”Tidak menikah bukanlah aib!” tegas Dewi

HIDUP, 13 Juli 2008, hlm 24