Sabtu, 05 Januari 2013

Orang Kudus 5 Januari: St. Simeon Stylites

SANTO SIMEON STYLITES TUA, PETAPA
Simeon Stylites Tua lahir di Silicia pada tahun 390. Ia tinggal bersama orang tuanya di daerah pinggiran kota Syria. Ketika menanjak remaja, kira-kira pada tahun 402, ia menjalani kehidupan membiara di sebuah biara pertapaan yang tidak jauh dari kampung halamannya.

Meski masih berusia muda, ia tidak merasa berat dengan praktek askese yang berlaku di biara itu. Ia bahkan menjalankan suatu bentuk askese yang lebih berat daripada yang dipraktekkan oleh rekan-rekannya. Oleh karena praktek askesenya tampak sangat keras maka pemimpin biara mengeluarkan dia dari biara itu. Keputusan pahir ini dimaksudkan agar rekan-rekannya yang lain tidak terpengaruh oleh praktek askese buatan Simeon itu.

Simeon meninggalkan biara pertapaan itu dan pergi ke sebuah biara yang terletak di gunung Telanisse. Setelah tiga tahun berada di biara Telanisse, ia memutuskan pindah ke puncak gunung itu. Di sana pada tahun 423, ia mendirikan sederetan tiang sebagai tempat tinggalnya. Di atas tiang-tiang itu, ia menjalankan askesenya hingga saat kematiannya.

Banyak orang datang kepdanya untuk meminta bimbingan rohani da mendengarkan kotbah serta pengajarannya. Tak terkecuali kaisar dan para patriark. Ia meninggal dunia pada tanggal 2 September 459 di atas puncak gunung Telanisse.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Sabtu Natal II-C

Renungan Hari Sabtu Natal II, Thn C/I
Bac I : 1 Yoh 3: 11 – 21; Injil       : Yoh 1: 43 – 51

Setelah panggilan Andreas dan Simon Petrus, Injil hari ini melanjutkan kisah tentang panggilan sebagai murid Yesus. Kali ini yang dipanggil adalah Filipus dan Natanael. Karena itu sangat menarik kalau kita merenungkan sabda Tuhan hari ini dengan bertitik tolak dari kedua tokoh ini.

Ada perbedaan jawaban atas panggilan Yesus kepada dua tokoh ini. Filipus langsung menjawab panggilan Yesus, sementara Natanael mengawalinya dengan sedikit keraguan: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (ay. 46). Memang, Yesus tidak memanggil secara langsung kepada Natanael, melainkan melalui Filipus. Keraguan Natanael baru sirna setelah ia mengikuti saran Filipus, "Mari dan lihatlah!" (ay. 47).

Perbedaan ini mau menunjukkan bahwa panggilan Tuhan itu tidaklah seragam, melainkan menyesuaikan dengan pribadi manusia. Panggilan Tuhan itu memiliki caranya sendiri untuk tiap individu. Meski caranya berbeda, namun kepada para murid selalu diajak untuk mengenal Yesus secara langsung dengan tinggal bersama-Nya. Untuk itu dibutuhkan keterbukaan hati. Andreas dan Natanael sudah mengalaminya.

Bagaimana dengan kita? Tuhan telah memanggil kita untuk mengikuti-Nya. Apa jawaban kita? Masihkah kita meragukan-Nya? Sungguh dibutuhkan keterbukaan hati untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan mau tinggal bersama Dia.

by: adrian

Jumat, 04 Januari 2013

Panggilan Dasar OMK

PANGGILAN DASAR OMK INDONESIA
Di ujung terdepan dari gereja muda hadirlah komunitas dan pribad-pribadi Katolik Muda, Orang Muda Katolik Indonesia.

Kami adalah komunitas dan pribadi muda Katolik yang menyatukan diri kami sebagai satu komunitas iman dan yang secara personal percaya bahwa Bapa, melalui Kristus dan segenap ciptaan di alam semesta, teramat mengasihi kami, dan dalam kasih ini, mengundang kami untuk terlibat langsung dalam karya agung penciptaan-Nya.

Karya Agung ini adalah sebuah tugas perutusan, untuk bersama-sama membaktikan diri kami, bagi kemanusiaan dan kehidupan, bagi kemudaan, bagi Indonesia dan bagi Gereja kami.

Karya Agung ini hanya akan terwujud, kalau kami senantiasa mengolah dan menyempurnakan diri kami, dalam panggilan dan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk mewujudkan panggilan itu, dalam talenta-talenta kehidupan yang dipercayakan pada diri kami secara khusus dan unik.

Dalam tugas perutusan kami, bagi kaum miskin dan tersingkir, bagi yang lemah dan tertindas, bagi alam lingkungan dan segenap kehidupan, bagi Indonesia dan Gereja kami, kami terus melangkah maju. Belajar dan berjuang adalah keniscayaan, berhenti dan berdiam diri adalah dosa.

Tantangan adalah kesempatan mengolah potensi, ruang dan waktu adalah papan menuliskan sejarah. Belajar dan bekerja adalah kesempatan untuk memuliakan Allah, dan dengan ini menguduskan berkat kemanusiaan yang ada pada kami yang sepenuhnya dipercayakan pada diri kami sebagai orang muda.

Dan dengan ini pula, dengan karya-karya hidup seorang Katolik Muda, dikuduskanlah pula masyarakat, tata politik-sosial-dan-ekonomi, kebudayaan, kemanusiaan, dan segenap kehidupan, dalam martabat tertingginya, buah dan tanda kasih Allah  yang terindah dan suci.