Minggu, 22 Juli 2012

Orang Kudus 22 Juli: St. Maria Magdalena


SANTA MARIA MAGDALENA, PELAYAN YESUS
Cerita tentang Maria Magdalena kita ketahui dari Injil. Namanya dengan jelas disebut dalam beberapa bagian Kitab Injil. Lukas 8: 2 mengisahkan bahwa Maria Magdalena terhitung sebagai salah satu di antara wanita-wanita yang disembuhkan Yesus dari kuasa roh-roh jahat dan kemudian menjadi pengikut dan pelayan Yesus selama karya-Nya. Matius 27: 56, 61 dan Markus 15: 40, 47 serta Yohanes 19: 25 mengisahkan bahwa Maria Magdalena bersama beberapa wanita lain hadir pada saat kematian Yesus di atas salib dan kemudian juga pada saat penguburan Yesus. Dalam Matius 28: 1, Markus 16: 1, dan Lukas 24: 1-10 dikisahkan bahwa Maria Magdalena bersama beberapa wanita lainnya pergi ke kubur Yesus untuk mengurapi jenazah Yesus pada hari Minggu Paskah.

Berita kebangkitan Yesus disampaikan oleh para malaikat kepada beberapa orag wanita. Meskipun demikian, Maria Magdalena adalah satu-satunya wanita yang dikatakan sebagai orang yang pertama yang melihat Yesus setelah bangkit dari kubur. (Yoh 20: 11-18).

Maria Magdalena berasal dari desa Magdala. Oleh tradisi kristen selanjutnya ia diidentifikasikan dengan Maria dari Betania, saudara Marta dan Lazarus, dan dengan seorang wanita pendosa lain yang bertobat dan kemudian mengikuti Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Inji Lukas 7: 37-50.  

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun 

Renungan Hari Minggu Biasa XVI-B


Renungan Hari Minggu Pekan Biasa XVI B/II
Bac I : Yer 23: 1 – 6; Bac II    : Ef 2: 13 – 18
Injil   : Mrk 6: 30 – 34

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini mengangkat masalah tentang gembala. Tema yang bisa kita ambil dari sabda Tuhan, dari bacaan pertama, kedua dan Injil adalah gembala sebagai pemersatu. Gembala di sini adalah kiasan untuk raja atau pemimpin agama bangsa Israel.

Dalam bacaan pertama, nabi Yeremia menubuatkan kekecewaan Allah atas perilaku para gembala. Mereka tidak menjalankan tugasnya sebagaimana seharusnya. Para gembala ini tidak menaruh perhatian kepada umatnya. Karena ulah mereka kawanan umat tercerai-berai, tersesat dan ada juga yang hilang. Karena itulah, lewat nabi Yeremia, Allah mengecam dan menegur mereka.

Gambaran ketercerai-beraian kawanan umat atau kawanan umat yang tidak diperhatikan dalam dunia Perjanjian Lama, sepertinya terulang lagi dalam Perjanjian Baru. Karena itu, ketika Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya, hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka “karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”

Akan tetapi, dalam Perjanjian Baru, tampil sosok gembala baru yang menaruh perhatian kepada umatnya. Gembala baru dalam Perjanjian Baru ini memiliki belas kasih kepada umatnya, sehingga ia memberikan perhatian kepada mereka. Gembala baru itu adalah Yesus.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus tampil sebagai gembala yang baik, yang memperhatikan umatnya. Yesus tidak mau melihat umatnya tercerai-berai seperti domba tanpa gembala. Oleh karena itu, Ia datang menyatukan mereka.

Peran menyatukan inilah yang direfleksikan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Dalam bacaan kedua tadi, Paulus melihat bahwa tembok pemisah, yaitu permusuhan, telah dirobohkan. Dalam Yesus ada kesatuan. Dalam Yesus kita menjadi satu keluarga sebagai anak-anak Bapa.

Apa pesan yang dapat diambil untuk hidup kita?

Sabda Tuhan mau menyadarkan kita bahwa kita mempunyai satu Gembala yang sangat baik, yang senantiasa memperhatikan umat-Nya. Dia-lah Yesus Kristus. Yesus, sebagai gembala, berusaha menyatukan kita. Dalam Yesus ada kesatuan. Dia telah merobohkan tembok pemisah, yaitu permusuhan.

Menjadi pertanyaan kita: masih adakah persatuan di antara kita? Apakah benar kita hidup dalam ketiadaan permusuhan?

by: adrian

Sabtu, 21 Juli 2012

(Pencerahan) Orang Baik Mati Duluan

KENAPA ORANG YANG BAIK MATI?
Seorang pendeta di pedesaan
mengunjungi rumah seorang nenek tua
anggota jemaatnya.
Sambil minum kopi,
ia menjawab beberapa pertanyaan
yang diajukan oleh nenek itu.

“Mengapa Tuhan begitu sering
mengirim wabah kepada kita?”
Tanya si nenek

“Ya, ya, ya...,” jawab pendeta.
“Kadang-kadang orang menjadi begitu jahat,
sehingga perlu disingkirkan.
Maka, Yang Mahabaik mengijinkan
datangnya wabah.”

“Tetapi,” tukas si nenek
“Mengapa begitu banyak orang baik juga
disingkirkan bersama yang jahat?”

“Orang-orang baik itu dipanggil
untuk menjadi saksi,” pendeta menjelaskan.
“Sebab, Tuhan ingin menjalankan

pengadilan yang adil bagi setiap jiwa.”

by: Anthony de Mello, Burung Berkicau
Baca juga refleksi lainnya: