Sabtu, 28 April 2012

Misteri Ekaristi

Setiap hari Minggu, umat Katolik senantiasa melakukan apa yang pernah diminta Tuhan Yesus dengan mengadakan perayaan ekaristi. "Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku." Demikian pinta-Nya. Dan hosti yang dibagikan itu adalah benar-benar tubuh Kristus. Sebelum ekaristi  hosti itu memang hanyalah sebuah roti tak beragi. Namun, setelah diberkati imam dalam Doa Syukur Agung, tepatnya saat konsekrasi, hosti itu menjadi tubuh Kristus. Hanya mata iman yang bisa melihatnya. Persis syair lagu Allah yang Tersamar (Puji Syukur 557): "Allah yang tersamar, Dikau kusembah// Sungguh tersembunyi, roti wujudnya//..."

Namun masih saja banyak orang yang tidak percaya akan kebenaran itu. Bahkan dari orang Katolik sendiri belum sepenuhnya bisa menerima bahwa hosti yang disambutnya saat komuni adalah benar-benar tubuh/daging Kristus, sebagaimana yang pernah dikatakan Yesus sendiri, "Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman." (Yoh 6: 55).

Berikut ini akan dikisahkan beberapa kisah mukjizat ekaristi. Kami tidak tahu apakah ini dapat menghapus keraguan banyak orang. Bukan maksud kami untuk membuat Anda percaya. Karena soal percaya atau tidak adalah hak Anda. Kami hanya mau berbagi cerita. Berkaitan dengan percaya atau tidak, kami mengikuti apa yang pernah dikatakan Yesus, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh 20: 29).

BAGNO DI ROMAGNA, tahun 1412

Mukjizat Ekaristi ini terjadi di sebuah kota kecil di Italia bernama Bagno di Romagna ketika seorang imam merayakan Misa dengan dihantui keragu-raguan yang besar akan Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Setelah mengkonsekrasikan anggur, imam melihat ke dalam piala dan amat terkejut melihat bahwa anggur telah berubah menjadi darah. Darah mulai meluap keluar dari piala dan membasahi korporal. Terguncang oleh peristiwa adikodrati ini, imam segera berdoa mohon pengampunan. Kelak, ia bahkan digelari Venerabilis karena kesalehan hidupnya setelah terjadinya mukjizat.

Pada tahun 1912, ulang tahun ke-500 mukjizat Ekaristi, suatu perayaan besar diselenggarakan. Pada tahun 1958, dilakukan penelitian ilmiah yang hasilnya menguatkan bahwa darah di korporal adalah darah manusia dan masih mengandung karakteristik darah setelah hampir 600 tahun sesudah mukjizat terjadi.

Mungkin mukjizat Darah yang meluap hendak menunjukkan kepada kita bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi. Mari merenungkan bagaimana seharusnya kita berubah setelah menyambut Yesus dengan mengijinkan-Nya tinggal dalam kita dan mengisi kita dengan kuasa Roh Kudus.

FAVERNEY, tahun 1608

Mukjizat unik ini tidak menyangkut Hosti Kudus yang berubah rupa menjadi daging atau memancarkan darah, melainkan Hosti yang melawan hukum gravitasi. Mukjizat terjadi setelah pecahnya Reformasi dan semangat umat beriman semakin mengendor. Pada tahun 1608, pada Hari Raya Pentakosta, tanggal 25 Mei, gereja dipadati umat dan saat senja tiba, dua lampu minyak dibiarkan menyala di depan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan sepanjang malam dalam sebuah monstran.

Keesokan harinya, seorang petugas sakristi membuka pintu-pintu gereja. Ia melihat asap dan menyadari bahwa telah terjadi kebakaran. Segala daya upaya dilakukan guna memadamkan api; terlihat bahwa monstran melayang-layang di udara. Berita mulai tersebar dan banyak orang percaya maupun mereka yang skeptis datang untuk menyaksikan peristiwa ini. Para imam bergantian mempersembahkan Misa Kudus sementara semakin banyak orang yang datang untuk menyaksikan mukjizat. Pada pagi hari Selasa, 27 Mei, dalam Perayaan Misa, saat Konsekrasi, Hosti Kudus turun ke atas altar yang dibawa ke dalam Gereja untuk menggantikan altar lama yang musnah dimakan api.

Penyelidikan pun dilakukan dan 54 surat pernyataan berisi kesaksian berhasil dikumpulkan dari para imam, biarawan, petani serta penduduk desa. Pada tanggal 30 Juli 1608, Uskup Agung menyatakan peristiwa tersebut sebagai mukjizat.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa altar, taplak altar, dan segala peralatan lainnya musnah, juga sebuah kandelar didapati meleleh karena panasnya api. Namun demikian, monstran tetap utuh. Pernyataan-pernyataan para saksi di bawah sumpah masih disimpan hingga kini dalam gereja. Sebuah prasasti marmer dipasang di bawah lokasi di mana Hosti melayang dengan tulisan berikut diukir di atasnya: “Lieu Du Miracle” yang artinya “Tempat terjadinya Mukjizat.”

by: adrian, diolah dari berbagai sumber

(Sharing Hidup) Waspada Pastor Gadungan


AWAS, PASTOR GADUNGAN KURAS HARTA UMAT
PENCURI dimana pun tak mengenal batas lokasi kejahatan. Tak terkecuali di gereja dan lingkungan sekitarnya. Kalau di situ bisa mendapatkan korban dengan mudah, maka tak ayal wilayah ‘sakral’ seperti gereja berikut lapangan parkir, gua Maria pun ikut disasar untuk memperdaya korbannya. Apalagi kalau disertai iming-iming bisa  dengan cepat mampu menggaruk keuntungan hasil kejahatannya dengan sekali libas, maka jutaan rupiah siap berpindah tangan.

Kejahatan dengan modus operandi ‘baru’ sekaligus ‘jitu’ dengan cara menyamar sebagai romo (pastor) sudah berkali-kali terjadi di beberapa paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Yang terakhir terjadi di Gereja Paroki Santa Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur, usai misa kedua hari Minggu (21/4) lalu.

Peristiwa Penipuan 
KEJADIANNYA bermula di depan Gua Maria di areal gereja dimana ibu yang malang itu baru berdoa khusus, usai mengikuti misa kedua di hari Minggu lalu.  Ketika tengah khusuk berdoa di depan Gua Maria, korban tiba-tiba saja didatangi oleh seorang penjahat dan mengaku bernama Romo Wahyu.

Hebatnya lagi, penjahat dengan kedok menyaru diri sebagai “Romo Wahyu” ini mengaitkan dirinya sebagai asisten Romo Loogman MSC (almarhum). Sebagaimana diketahui masyarakat luas, almarhum Romo Loogman MSC di Purworejo (Jawa Tengah) memang dikenal luas sebagai pastor dengan keahlian khusus di dunia supranatural yang lazim disebut ‘radhiestesia’.

Dengan ‘menjual’ nama besar mendiang Romo Loogman MSC yang sangat terkenal di dunia pengobatan alternatif ini, tak ayal ibu yang menjadi korban kejahatan ini langsung terkesiap. Apalagi ketika relung isi hatinya yang mungkin tengah galau bisa ‘dibaca’ oleh penjahat menyaru diri sebagai romo ini.

Perangkap telah dipasang dan ‘mangsa’ pun terjerat kena pengaruh ‘daya pikat’ berupa sapaan hangat.  Ibu itu mulai  ‘dikuasai’ emosinya oleh  penjahat yang kemudian menawarkan ‘jurus mautnya’ yang kedua yakni dengan mendoakan korban agar segera terbebaskan dari segala kegalauan. Juga memberkatinya lazimnya seorang romo.

Hebatnya lagi, romo gadungan itu kemudian memperkenalkan korban kepada jaringan komplotannya. Lagi-lagi, seorang romo lain yang sudah mengambil posisi di areal parkir gereja disodorkan oleh pelaku kejahatan pertama kepada korban. Kepada korban, lagi-lagi romo gadungan kedua ini langsung ‘main tembak’ : “Ibu sedang galau ya?”

Kontan saja, ketika isi hatinya “disapa’ dengan amat-amat ramah oleh kedua pastor gadungan itu, luluhlah seketika sang korban ketika diajak oleh kedua pastur gadungan itu untuk sebuah sesi pertemuan pribadi pada kesempatan lain.

Yang pasti, korban sudah masuk perangkap untuk kedua kalinya.

Modus Operandi
TEKNIK penipuan macam ini biasanya berlanjut di luar areal gereja. Jadi areal Gereja menjadi lahan pertama untuk menjerat korban. Baru setelah itu, korban akan digarap lebih lanjut di luar kompleks gereja.
Mari kita kembali membahas kasus penipuan dengan modus operandi penjahat menyaru diri sebagai pastor gadungan itu.

Ketika jalinan emosional dengan calon korbanya sudah berhasil dirakit, maka kedua pastor gadungan itu kemudian melancarkan jurus maut penipuan berikutnya: membuat rencana pertemuan berikutnya, namun di luar kompleks gereja. Biasanya diadakan di sebuah tempat umum yang ramai. Kali ini, ibu yang menjadi korban ini dirayu agar mau datang di sebuah kompleks pertokoan di Buaran Plaza untuk sebuah ‘terapi’.

Lagi-lagi, jurus rohani dimanfaatkan sebagai ‘mantera’ untuk memperdaya korban. Setelah bertemu dan ngobrol sana-sini, akhirnya si ibu diberkati –lazimnya imam memberkati umat—disertai doa Bapa Kami dan Salam Maria.

Selama ngobrol-ngobrol itulah, korban ditanyai apakah punya simpanan emas atau uang di bank atau brankas. Kalau ada, kata kedua penjahat itu, segera diambil untuk dibawa dalam sesi pertemuan berikutnya.
Mengapa arah pembicaraan dari yang “rohani” berubah menjadi “duniawi”? Itu teknik mengelabuhi orang saja.  Kata kedua penjahat itu, barang-barang berharga simpanan itu perlu dibawa untuk “diberkati”. Dan ini yang paling membuat manusia goyah iman: diimingi-imingi akan bisa dibuat berlipat ganda jumlahnya.

Singkat kata, akhirnya barang-barang simpanan berharga itu pun dibawa ke ruang publik dimana ketiga orang itu terlibat dalam sebuah perbincangan lebih lanjut. Ketika ibu korban dan seorang ‘romo gadungan’ itu pesan minuman di konter dan membayarnya, maka tak ayal kotak perhiasan dan uang yang sudah dicairkan secara tak sadar dititipkan kepada pastor gadungan satunya yang sengaja diam tak bergerak di meja makan.

Menjelang pulang, kembali kotak itu diserahkan lagi kepada korban dan malamnya barulah sadar ketika dia sudah kehilangan uang tak kurang Rp 100 juta.

Dua tahun lalu, modus operandi serupa juga terjadi di Gereja Santo Yosep Matraman, Jakarta Timur. Korbannya juga seorang perempuan. Korban baru sadar telah dikerjain  dua romo gadungan hampir 5 hari  pasca kejadian dia didoakan dan diberkati di depan Gua Maria dan berikutnya di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat.

Di Gereja Santa Helena Karawaci –kata Romo Heri Kartono OSC—juga pernah terjadi kasus tindak pidana yang sama. Korbannya lagi-lagi kena tipu daya hingga ratusan juta melayang. Ternyata, di Gereja Santo Yakobus Kelapa Gading, hal serupa juga pernah terjadi.

Mengenali Pastor Gadungan
MARI kita kenali dulu langkah-langkah metode tipu daya yang sudah sering dipraktikan para penjahat yang menyaru diri sebagai pastor gadungan itu.
  1. Sasaran korban yang ingin dijebak adalah mereka yang tengah galau hatinya. Kalau hati sedang galau atau tidak tenang, biasanya umat dengan gampang akan melakukan ‘ritual’ doa khusus tambahan –usai misa di gereja—dengan mampir sejenak di Gua Maria. Tujuannya untuk menyampaikan doa-doa khusus. Bila demikian, jangan ‘pergi’ berdoa sendirian, melainkan ajak anggota keluarga sebagai ‘tameng’ kalau-kalau datang penjahat yang ingin memperdaya kita;                    
  2. Jangan hiraukan sapaan hangat atau tepukan fisik dari orang yang tidak kita kenal. Apalagi kalau kemudian, ‘orang asing’ itu menyapa kita dan mengenalkan dirinya sebagai romo. Agak aneh terdengar kalau ada orang asing dengan gampangnya mengklaim diri sebagai romo dan itu dia lakukan dihadapan umat parokinya sendiri. Mestinya, sudah diandaikan umatnya tahu siapa nama dan tampang pastor parokinya sendiri. Lain halnya kalau calon korban yang menjadi mangsa para penjahat ini datang dari luar paroki;
  3. Lagi-lagi, ajaklah anggota keluarga kita kalau misalnya saja kita sudah berhasil diperdaya oleh romo palsu itu untuk melakukan sesi pertemuan berikutnya di luar kompleks gereja. Setidaknya, dengan adanya anggota keluarga kita, maka kita mendapat ‘teman’ untuk mengobjektivasi diri (melakukan uji objektif atas tindak atau sikap kita dengan orang lain).
  4. Jangan sekali-kali mudah mengiyakan apa pun yang diminta dari romo gadungan ini semisal membawa harta simpanan berupa kotak perhiasan, buku tabungan, kartu ATM berikut pin-nya, kartu kredit dan semacamnya;
  5. Jangan terima apa pun makanan atau minuman dari orang yang tidak kita kenal. Salah-salah makanan-minuman tawaran itu sudah kena kontaminasi anasir-anasir obat bius yang membuat kita dalam sekejap limbung, ngantuk dan tidur pula berkepanjangan.
  6. Sempatkanlah diri Anda berfoto dengan pastor gadungan itu dengan menggunakan HP kamera Anda. Tujuannya, agar jika memang terjadi tindak pidana, Anda sudah punya bukti wajah pelaku. (admin)
Langkah penting
KALAU sudah ada kejadian umat kita kena perangkap dan habis-habisan hartanya dikuras oleh penjahat yang menyaru diri sebagai romo, lalu tindakan apa yang mesti kita lakukan agar jangan sampai berulang kembali terhadap korban lainnya.  Berikut tips sederhana guna mengurangi risiko kejadian sama bisa berulang kembali.
  1. Segera lapor kepada pastor paroki agar secara resmi pastor paroki bisa segera mengumumkan di mimbar gereja –misalnya saja katakanlah—sebaiknya umat jangan terlalu mudah percaya kalau ada ‘orang asing’ mengaku-aku sebagai imam. Toh, umat kebanyakan pasti kenal siapa romo parokinya. Bahkan kalau ada romo tamu yang mempersembahkan misa, sudah pasti romo tersebut akan memperkenalkan diri saat misa dan ketika keluar dari sakristi usai misa, jubah pun masih dia kenakanan saat bersilahturami dengan umat selesai misa.
  2. Laporkan kasus tindak kejahatan ini kepada kepolisian agar segera diproses secara hukum. Tentu kita harus memberikan kronologi secara lengkap dan jelas berikut ciri-ciri fisik para pelakunya. Tidak kalah penting tentu saja, memberikan nomor rekening bank pelaku kalau ‘pemerasan’ itu dilakukan dengan cara transfer.
  3. Kita harus sadar bahwa kegalauan hati tidak serta-merta bisa langsung “sembuh” oleh sapaan hangat, pendarasan doa-doa dan berkat pemberian ‘romo gadungan’ ini. Kegalauan hati harus kita sembuhkan mulai dari kita sendiri yang  berupaya “menyembuhkannya”.
Sebuah Catatan Kritis (admin)
ADA beberapa catatan kritis yang perlu kita perhatikan bersama:
1.    Ingat pesan Bang Napi, “Kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, melainkan juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!!!!” Pesan ini mau mengingatkan kita agar senantiasa berjaga-jaga, sama seperti nasehat Yesus, “berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." (Mat 25: 13).
2.      Jangan mudah terkecoh dengan penampilan lahiriah, karena bisa saja penampilan itu menipu. Yesus pernah bersabda, "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang...” (Mrk 12: 38). St Paulus juga pernah menasehati umat di Kolese, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kol 2: 8)
3.      Bahaya bukan hanya datang dari pastor gadungan, melainkan juga dari pastor beneran. Karena ada juga pastor beneran yang “menipu” umatnya agar mendapatkan kekayaan untuk dirinya dan keluarganya. Ada pastor yang dengan kelihaiannya, dengan mengatasnamakan pelayanan, menguras harta umat dan juga harta gereja (paroki, keuskupan atau biara). Terhadap mereka juga kita perlu waspada dan hati-hati. Untuk itu sangat menarik kalau kita perhatikan nasehat Yesus, “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” (Mat 12: 33).

by: adrian, diolah dari Sesawi.net

Jumat, 27 April 2012

Pacaran yang Sehat

Pacaran adalah sebuah tugas perkembangan yang memang perlu dilalui oleh seorang remaja. Erikson, seorang psikolog perkembangan, menilai kalau remaja perlu belajar mengenal lawan jenisnya, yang tentu saja tujuannya untuk memperluas pergaulan dan juga untuk mengembangkan pribadinya guna persiapan memasuki masa dewasa. Dengan berpacaran, remaja akan belajar bagaimana membentuk komitmen dan juga membangun tanggung jawab pribadi.
Pacaran pada hakikatnya adalah proses untuk saling mengenal; proses seseorang belajar give and take, serta memegang tanggung jawab. Dalam proses ini kata kunci yang harus muncul adalah “saling” sehingga dalam relasi pacaran itu terwujud simbiose mutualisme. Namun, hal inilah yang tidak dipahami remaja. Mereka lebih melihat pacaran sebagai proses bersenang-senang dan proses untuk bisa diterima sebagi pribadi dewasa serta masuk dalam dunia orang dewasa. Karena itu, tak jarang dalam pacaran remaja menunjukkan “kedewasaan” dengan melakukan hubungan seks.
Bagaimana pacaran yang sehat? Di bawah ini ada beberapa poin untuk direnungkan dan bisa menjadi tolok ukur melihat relasi pacaran kita.
·   Berpacaran adalah proses mendewasakan kedua pihak. Tentu saja proses ini tidak pernah berjalan mulus, rasa cemburu, rasa ingin memiliki tak jarang membuat orang menjadi begitu over protective sehingga terjadi berbagai bentuk pelarangan. Semua ini mau menunjukkan bahwa pacaran itu bukanlah sesuatu yang mudah dijalani dan selalu indah. Namun jika hal ini bisa diatasi sehingga timbul kemampuan mengelola diri, rasa tanggung jawab dan kemandirian, maka pacaran telah mendewasakan.
Dalam berpacaran juga akan tumbuh rasa trust, yang memberikan ruang gerak dan kebebasan untuk bereksplorasi dan mendewasakan diri. Namun kebebasan itu tetap dalam batasan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Berpacaran dengan mengungkung, membatasi ruang gerak pasangan bukanlah pacaran yang sehat.
·      Berpacaran adalah proses belajar untuk menghormati dan menghargai pasangan. Hal ini sering disalahartikan sehingga muncul eksplorasi seks. Bagi remaja, pacaran menjadi media belajar tentang seks dalam arti sebenarnya sehingga muncul kebanggaan karena telah selangkah lebih maju dibandingkan teman sebayanya. Selain itu juga remaja melihat bahwa memberi keperawanan dan keperjakaan adalah sebuah bentuk pengorbanan dan perwujudan cinta. Padahal ini adalah sebuah bentuk nafsu yang diselimuti dengan keinginan bawah sadar atau justru yang disadari untuk memanipulasi pasangan.
Pacaran yang menuntut adanya hubungan seksual adalah sebuah kesalahan besar dan kerugian terbesar bagi pihak cewek. Dibalik tindakan itu ada pemanfaatan hanya oleh pihak cowok kepada cewek dan  karena itu di dalamnya tidak ada penghormatan apalagi penghargaan.
·      Berpacaran adalah proses yang membebaskan. Tak jarang rasa cinta yang begitu dalam justru membuat seseorang merasa begitu mencekam oleh rasa itu. Rasa ini kemudian dimaknai sebagai sebuah cinta yang mendalam dan tidak ada duanya. Namun, yang terjadi tak jarang justru terhambatnya rasionalitas dan objektivitas dalam berpikir dan bertindak. Rasa cinta yang begitu mencekam pada akhirnya hanya akan membuat diri sendiri tidak bisa berkutik dan bebas bereksplorasi. Rasa takut kehilangan, rasa ingin diperhatikan dan rasa ingin selalu bertemu menjadi sebuah obsesi yang tiada ujung. Inilah yang membuat kita menjadi tidak terbebaskan karena terus menerus dicekam oleh rasa ini. Kebebasan untuk mencintai dan mewujudkan cinta, yang bisa kita maknai sebagai cinta yang membebaskan.
Pada dasarnya mencintai seseorang berarti juga memberi kesempatan bagi diri sendiri dan pasangan untuk bebas, baik dalam bergaul maupun beraktivitas tanpa banyak kekhawatiran akan kekangan dan batasan untuk bertemu, untuk selalu merespons segala bentuk perhatian sekecil apapun. Berpacaran adalah proses yang memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk lebih mengeksplorasi semua kemampuan yang dimiliki yang didasari oleh kebutuhan untuk mengembangkan diri dan membebaskan diri untuk mencari jati diri.
·     Berpacaran adalah proses untuk saling mengenal; proses bagi seseorang untuk mendalami bibit, bebet dan bobot pasangan, menyamakan sikap dan pandangan, mencari titik temu dari berbagai perbedaan yang ada serta kesediaan untuk menerima segala kekurangan pasangan.
Dalam berpacaran ada makna bahwa ada penerimaan tanpa banyak syarat dan tuntutan terhadap pasangan untuk mengubah dirinya sendiri dan menjadi orang lain. Tentu ini tidak sehat karena mengubah diri sendiri hanya untuk kesenangan pihak lain. Di sini terjadi proses pembungkaman terhadap identitas diri dan pertumbuhan diri. Jika dalam masa pacaran ada ketidakcocokan yang mengakibatkan perpisahan, maka baiknya ini dimaknai sebagai sebuah proses yang tidak perlu disesali. Yang terpenting adalah perpisahan itu diputuskan bersama, dengan tidak banyak meninggalkan luka atau bahkan trauma yang bisa melahirkan kebencian.

·      Pada akhirnya, jodoh ada di tangan Tuhan. Pacaran adalah sebuah proses, bukan tujuan akhir dari sebuah relasi. Memberi dan menerima, belajar dan melatih diri untuk menjadi lebih dewasa adalah esensi dari hubungan itu sendiri. Menunjukkan kepercayaan dan tanggung jawab kepada orang tua akan memberi keyakinan kepada orang tua bahwa kita sudah siap untuk dipercaya dan pasangan kita juga bisa dipercaya. Namun, jika tidak mampu membuktikan kepercayaan tersebut, jangan pernah menyesal bahwa sampai kapanpun akan sulit membuat orang tua kita percaya kepada kita. Ibarat nila setitik rusak susu sebelanga.
by: adrian