Tidak ada keraguan lagi akan
apa yang kita lakukan sekarang. Penahbisan 𝗨𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗥𝗼𝗺𝗼 𝗛𝗮𝗻𝘀 𝗠𝗼𝗻𝘁𝗲𝗶𝗿𝗼
terjadi karena telah ada keputusan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik, yang
tadi dibacakan oleh orang yang juga sangat tinggi, 𝗠𝗼𝗻𝘀𝗶𝗻𝘆𝘂𝗿 𝗠𝗶𝗰𝗵𝗮𝗲𝗹, 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗸𝘀𝗮𝗻𝗮 𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗞𝗲𝗱𝘂𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗩𝗮𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮.
Saudara-saudari terkasih,
Satu era kepemimpinan yang
panjang berakhir hari ini di Larantuka. Pelayanan kegembalaan Bapak 𝗙𝗿𝗮𝗻𝘀 𝗞𝗼𝗽𝗼𝗻𝗴 𝗞𝘂𝗻𝗴, yang
sejak tahun 𝟮𝟬𝟬𝟰
menjadi Uskup Larantuka dan meneruskan estafet kepemimpinan dari Bapak 𝗨𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗗𝗮𝗿𝗶𝘂𝘀 𝗡𝗴𝗴𝗮𝘄𝗮, 𝗦𝗩𝗗. Pada
perayaan dua puluh dua tahun yang lalu, saat Bapak Uskup Frans memulai
pelayanannya sebagai 𝘂𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗱𝗶𝗼𝘀𝗲𝘀𝗮𝗻
setelah dua tahun menjadi 𝘂𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗸𝗼𝗮𝗷𝘂𝘁𝗼𝗿, yang
berperan sebagai komentator dalam perayaan itu adalah seorang romo yang waktu
itu masih muda, tetapi tampil berwibawa dan meyakinkan: 𝗥𝗼𝗺𝗼 𝗛𝗮𝗻𝘀 𝗠𝗼𝗻𝘁𝗲𝗶𝗿𝗼.
Kita tentu tidak tahu apa yang
akan terjadi dengan serem kita hari ini yang juga masih muda dan tampil
meyakinkan.
Dari kedalaman rohani dan
kekayaan pengalaman pastoralnya, Bapak Uskup Frans memilih dua moto: “𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗱𝗮𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁 𝗽𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁𝗮𝗮𝗻-𝗠𝘂” 𝗱𝗮𝗻 “𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘀𝘂𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗰𝗮𝘆𝗮.”
Jarang ada uskup yang memilih dua moto—dan itu menunjukkan keistimewaan beliau.
Mungkin karena harus memimpin
umat Katolik di dua wilayah kabupaten. Atau saya yakin, karena sadar bahwa
untuk menjadi gembala di wilayah yang kerap mengalami bencana—banjir, gempa
bumi, dan letusan gunung berapi—serta memimpin umat yang tinggal terpencar di
pulau-pulau, yang dibatasi gunung dan lembah, 𝗱𝗶𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝗵𝗲𝗻𝗱𝗮𝗸 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗕𝘂𝗻𝗱𝗮 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮, 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮 𝗸𝗲𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝘆𝗮𝘁𝗶 𝗱𝗼𝗮 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘀𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻.
Uskup baru kita, Bapak Uskup
Hans, merasa cukup dengan satu moto. Tetapi satu moto ini tidak main-main. 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗺𝗼𝘁𝗼 𝗶𝗻𝗶, 𝗸𝗮𝘁𝗮 “𝘀𝗮𝘁𝘂” 𝗱𝗶𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝘁𝗶𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶, 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗕𝗮𝗵𝗮𝘀𝗮 𝗟𝗮𝘁𝗶𝗻: 𝗨𝗻𝘂𝗺, 𝘂𝗻𝘂𝘀, 𝘂𝗻𝗮.
Untuk yang pernah belajar
bahasa latin, di sini kata “satu” digunakan dalam tiga genus: neutrum, feminin,
dan maskulin. Dengan moto ini, seluruh diri manusia disapa—tubuh, roh, dan
pengharapan. Artinya dengan moto ini, Segala sudut disentuh. Moto ini menyentuh
semua kelompok, mengajak semua umat. Moto ini menyadarkan kita bahwa apa pun
perbedaan di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan
menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang
satu.
Namun moto ini sekaligus membuka mata kita akan jurang yang terbentang di antara kita: 𝗷𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗺𝗽𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗺𝗶𝘀𝗸𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝘁𝗿𝗲𝗺; 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝗽𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗸𝘂𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝘁𝗮𝗹 𝗸𝗲 𝘄𝗶𝗹𝗮𝘆𝗮𝗵 𝗽𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶𝗿𝗮𝗻; 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗺𝗯𝗼𝗸 𝗽𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮 𝘀𝘂𝗸𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗶𝗹𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸; 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗰𝘂𝗿𝗶𝗴𝗮𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝘁𝗲𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗲𝘆𝗮𝗸𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗶𝗻.
Salah satu moto Uskup Frans
juga berbicara tentang kesatuan: “𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂. “Mensyukuri
anugerah kesatuan yang diberikan Tuhan di tengah berbagai perbedaan yang ada,
merawat kesatuan itu dengan kasih kegembalaan, memperjuangkannya dengan sikap
dan pesan kenabian, membentuk nurani dan memperluas wawasan orang untuk
merangkul dengan kebijaksanaan seorang guru—itulah tugas seorang uskup,
kewajiban para imam, panggilan setiap orang beriman dan tanggung jawab setiap
manusia.
Dengan motonya yang
terinspirasi dari 𝗦𝘂𝗿𝗮𝘁 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗼 𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗱𝗶 𝗘𝗳𝗲𝘀𝘂𝘀,
Bapak Uskup Hans mengingatkan kita akan tiga dimensi kesatuan yang sangat
penting.
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, 𝗨𝗻𝘂𝗺 𝗖𝗼𝗿𝗽𝘂𝘀 — 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘁𝘂𝗯𝘂𝗵.
Kita adalah satu tubuh.
Seperti dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, tubuh ini
memiliki banyak anggota. Satu Gereja dengan satu Kepala, yaitu Kristus, yang
mempersatukan anggota-anggota yang berbeda dalam satu kesatuan, masing-masing
dengan peran khasnya.
Perbedaan bukan alasan untuk
memandang diri lebih penting dan lebih berkuasa dari pada yang lain atau lebih
rendah dan tidak berarti. Kesatuan dijamin oleh pemimpin yang mau mendengarkan
dan memberi ruang bagi semua untuk berpartisipasi, tetapi serentak mesti
menunjukkan arah dan berani mengambil keputusan. Karena itu, ketaatan
dibutuhkan untuk mewujudkan kesatuan.
Membawa semua orang ke dalam
kesatuan berarti mencari dan merangkul semua, terutama mereka yang karena
alasan tertentu menjauh atau dijauhi orang. Merawat kesatuan berarti mencegah
satu kelompok menjadi terlalu dominan sambil menutup ruang bagi yang lain.
Selalu memilih melihat kenyataan dari perspektif korban.
Mempererat persatuan menuntut
usaha sungguh untuk merangkul mereka yang kehilangan pegangan dan makna hidup.
Memberi perhatian istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa yang
menderita karena kekerasan dan kemiskinan—kemiskinan harta, kemiskinan relasi,
kemiskinan empati, kemiskinan perhatian, dan waktu.
Menjaga kesatuan berarti
menumbuhkan kepekaan untuk menangkap desahan tanpa suara dari mereka yang
berada di jurang keputusasaan, terutama anak-anak. Memelihara kesatuan
memerlukan kesediaan dan keberanian mengatasi ketersinggungan pribadi dan
menumbuhkan kerelaan untuk saling mengampuni.
𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗻𝗶, 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗲𝗺𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱𝗡𝘆𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗸𝘂𝗮𝘀𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶.
𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, 𝗨𝗻𝘂𝘀 𝗦𝗽𝗶𝗿𝗶𝘁𝘂𝘀 — 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗥𝗼𝗵, 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁.
Tanpa semangat yang sama,
tubuh yang satu menjadi tidak berdaya. Kesatuan Roh itu diuraikan oleh 𝗡𝗮𝗯𝗶 𝗬𝗲𝘀𝗮𝘆𝗮 dalam
bacaan pertama hari ini: “𝗥𝗼𝗵 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮𝗸𝘂.” Roh
itu dicurahkan kepada kita semua, anggota Gereja. Roh itu diberikan kepada
Bapak Uskup, Roh itu diberikan kepada setiap orang yang ditahbiskan, diturunkan
atas Bapak Uskup Hans agar dibebaskan dari penjara ingat diri dan kecemasan
akan keamanan diri. Kita berani dan sanggup mewartakan kabar pembebasan.
𝗨𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗲𝗽𝗮𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝘁𝗮𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗻𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗴𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂𝗹𝗮𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝗮𝗻 𝗮𝗴𝗿𝗲𝘀𝗶𝗳; 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮-𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗰𝗲𝗻𝗴𝗸𝗲𝗿𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗹𝗲𝗺𝗯𝗮𝗴𝗮 𝗸𝗲𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗮𝗷𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗶𝘀𝗸𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗿𝘁𝗮𝗯𝗮𝘁, 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗽𝗶𝗻𝗷𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗼𝗻𝗹𝗶𝗻𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗵𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗸𝗼𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗺𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂𝗮𝗻; 𝗮𝗴𝗮𝗿 𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗲𝗸-𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗲𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴; 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗵𝘂𝘁𝗮𝗻, 𝗽𝗲𝗻𝗰𝗲𝗺𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗮𝗶𝗿, 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗲𝗸𝗼𝘀𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗼𝘆𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘀𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝘁.
Semangat Roh seperti ini perlu
dihidupkan supaya Gereja tidak sekadar menjadi struktur yang rapi tertata,
tetapi sungguh menjadi sakramen keselamatan—tanda yang berdaya dan bermanfaat,
terutama bagi mereka yang diperlakukan tidak adil.
Dengan menjadi imam atau
uskup, kita disebut rohaniwan—orang yang berurusan dengan roh. Namun seorang
rohaniwan tidak hanya tidak dilarang, tetapi mendapat kewajiban berbicara juga
tentang yang duniawi dan mengupayakan kebaikan yang bersifat material.
𝗞𝗶𝘁𝗮 𝘁𝘂𝗿𝘂𝘁 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶, 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗹𝘂𝗸𝗮 𝗸𝗲𝗺𝗶𝘀𝗸𝗶𝗻𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗮𝘆𝗮𝘁, 𝗸𝗲𝗺𝗶𝘀𝗸𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗸𝗼𝗻𝘀𝗲𝗸𝘂𝗲𝗻𝘀𝗶𝗻𝘆𝗮.
𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘁𝘂𝗯𝘂𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗿𝗼𝗵. 𝗦𝗲𝗯𝗮𝗯 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗼𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶: 𝗿𝗼𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻—𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗶𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗧𝘂𝗯𝘂𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀—𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹 𝗯𝘂𝗺𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮.
Yang dipersembahkan di altar
adalah pemberian bumi dan buah kerja keras manusia. Karena itu, 𝗽𝗲𝗿𝗵𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗺𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗺𝗶𝘁𝗺𝗲𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝗷𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗸-𝗵𝗮𝗸 𝗱𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝘂𝘁𝘂𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗮𝗹𝘁𝗮𝗿 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻.
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, 𝗨𝗻𝗮 𝗦𝗽𝗲𝘀 — 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻.
Bergerak bersama sebagai satu
tubuh dalam semangat yang sama di bawah tuntunan Roh yang kudus, menyalakan
dalam diri kita api harapan yang sama, yakni hidup dalam Kristus yang bangkit,
menjadi Gereja Tubuh Kristus, yang terlibat dalam perjuangan hidup umat dan
masyarakat.
Kita baru saja menutup Tahun
Yubileum dan merayakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia yang kelima, yang
mengingatkan kita semua, 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗯𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗶 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗰𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗲 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗰𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻—𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗵 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻, 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗺𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗰𝘂𝗰𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝗶𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝘀𝘂𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗯𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶𝗮𝗹𝗼𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮𝗮𝗻.
Harapan itu perlu disalurkan
juga ke dalam Gereja kita, yang membutuhkan napas panjang menghadapi berbagai
tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Harapan yang tunggal itu,
berpijar dalam berbagai kerinduan, penantian dan kesabaran para pelayan, para
pekerja dan para pejuang.
𝘼𝙥𝙞 𝙃𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙨𝙞 𝙡𝙚𝙩𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙜𝙪𝙣𝙪𝙣𝙜 𝙖𝙥𝙞 𝙇𝙚𝙬𝙤𝙩𝙤𝙗𝙞 𝙇𝙖𝙠𝙞-𝙇𝙖𝙠𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙄𝙡𝙚 𝙇𝙚𝙬𝙤𝙩𝙤𝙡𝙤𝙠. 𝙄𝙖 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙗𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙇𝙖𝙢𝙖𝙛𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙠𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙇𝙖𝙢𝙖𝙡𝙚𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙥𝙚𝙡𝙚𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙬𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙠𝙨𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙪𝙙𝙚𝙧𝙖 𝙡𝙪𝙖𝙨, 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙩𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙢𝙪𝙣𝙘𝙪𝙡𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙚𝙠𝙤𝙧 𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙪𝙨.
𝙃𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙞𝙩𝙪, 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙞𝙬𝙖𝙞 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙩𝙚𝙣𝙖𝙣 𝙨𝙞 𝙜𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙡𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜 𝙄𝙡𝙚 𝘽𝙤𝙡𝙚𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙠𝙪𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖𝙡 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙣𝙪𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙝𝙚𝙡𝙖𝙞 𝙨𝙖𝙧𝙪𝙣𝙜 𝘼𝙙𝙤𝙣𝙖𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣.
𝙃𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙛𝙖𝙨𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙩𝙖𝙣𝙞 𝙙𝙞 𝙊𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙎𝙤𝙡𝙤𝙧 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙖𝙢, 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙬𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙤𝙖.
𝘿𝙖𝙣 𝙃𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙞𝙩𝙪, 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙡𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙖𝙣 𝙨𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙖 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙄𝙡𝙚 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙢 𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙧𝙖𝙣𝙩𝙖𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙪𝙢𝙖𝙢 𝙨𝙮𝙖𝙞𝙧, “𝘽𝙖𝙡𝙚 𝙣𝙖𝙜𝙞, 𝙗𝙖𝙡𝙚 𝙣𝙖𝙜𝙞… 𝙎𝙞𝙣𝙮𝙤 𝙚, 𝙆𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙞 𝙉𝙖𝙚 𝘽𝙚𝙧𝙤 𝙚...”
Bapak Uskup Hans, 𝗻𝗼 𝗯𝗮𝗹𝗲 𝗻𝗮𝗴𝗶—pulang
kampung—𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗶𝘁𝘂 𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗺𝘂. Bale
Nagi - Pulang Kampung 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘁𝗶𝗱𝘂𝗿 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺𝗺𝘂 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂 𝘁𝗮𝗯𝗼𝗹𝗮 𝗯𝗮𝗹𝗲 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝘁𝗶𝗱𝘂𝗿, 𝘁𝗲𝗿𝗯𝗮𝗸𝗮𝗿 𝗿𝗶𝗻𝗱𝘂 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶. 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻.
Sudah terlampau lapang hatimu dan luas wawasanmu, untuk sekedar mau pulang
kampung, tinggal dan bekerja di tengah orang-orangmu sendiri sambil makan sayur
𝗱𝗮𝘂𝗻 𝗺𝗮𝗿𝘂𝗻𝗴𝗴𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗷𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴 𝘁𝗶𝘁𝗶.
No Bale Nagi, pulang kampung, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘂𝘀𝗸𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗲𝗱𝗶𝗮 𝗱𝗶𝗴𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵.
Sebab sudah 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗮𝗺𝗽𝗮𝘂 𝘁𝘂𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗱𝗶 𝘄𝗶𝗹𝗮𝘆𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶, kaya dijajaki para gembala dari berbagai
belahan bumi. Sebuah Gereja yang juga sadar bahwa ia telah menjadi 𝗕𝘂𝗻𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝘁𝘂𝘀 𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮-𝗽𝘂𝘁𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁.
𝗡𝗼 𝗯𝗮𝗹𝗲 𝗻𝗮𝗴𝗶
supaya bersama kami semua, torang semua, melangkah dalam rangkulan kasih 𝗧𝘂𝗮𝗻 𝗠𝗮,
mewartakan 𝗧𝘂𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗮, 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯, 𝘄𝗮𝗳𝗮𝘁, 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁 untuk
kita. Sebab Dialah satu-satunya Penyelamat: 𝗨𝗻𝘂𝘀 𝗖𝗵𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀.
𝗨𝗻𝘂𝗺 𝗖𝗼𝗿𝗽𝘂𝘀, 𝗨𝗻𝘂𝘀 𝗦𝗽𝗶𝗿𝗶𝘁𝘂𝘀, 𝗨𝗻𝗮 𝗦𝗽𝗲𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗺𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗨𝗻𝘂𝘀 𝗖𝗵𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀.
Kristuslah yang mempersatukan kita dalam satu tubuh, memberi kita Roh-Nya yang
mengampuni, dan membuka bagi kita pintu harapan.
𝗗𝗶𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝘁𝘂-𝘀𝗮𝘁𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗚𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗮𝗹𝗲𝗻𝗮𝗴𝗶—𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗕𝗮𝗽𝗮, 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲 𝗱𝗲𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵, 𝘀𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗹𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝘂𝗹 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯.
𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁𝗶.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar