Kamis, 11 Maret 2021

ADA FITNAH DI DALAM FITNAH


 

Pak Emanius adalah kepala sekolah SMK Fatamorgana. Sudah satu dekade ia memimpin sekolah itu. Ia mempunyai seorang asisten, namanya Atikus. Banyak orang bingung dengan peran Ibu Atikus ini. Dikatakan bendahara sekolah juga bukan, karena sekolah sudah punya dua orang bendahara. Tapi dia suka menyibukkan diri dengan urusan uang. Dikatakan sekretaris sekolah juga bukan, karena sekolah sudah punya sekretarisnya. Tapi, kalau mau tanya soal arsip-arsip sekolah atau hal-hal berkaitan dengan administrasi sekolah, orang selalu bertanya kepada dia. Sekalipun tidak jelas tugas dan perannya, setiap bulan ia menerima gaji.

Ibu Atikus benar-benar memiliki kuasa yang besar, bahkan lebih besar dari wakil kepala sekolah. Dia bisa saja mengatur guru-guru. Bahkan wakil kepala sekolah pun diaturnya. Dia benar-benar tangan kanan kepala sekolah. Karena itu, ke mana saja kepala sekolah pergi, dia pasti ikut. Entah sudah berapa kali dia ikut mendampingi kepala sekolah pergi ke luar kota, malah ke luar negeri juga. Sekalipun kepergian itu sama sekali tidak ada kaitan dengan tugasnya. Yah itu tadi, tugasnya memang tidak jelas. Tapi dia digaji.

Selama satu dekade memimpin sekolah itu, wakil kepala sekolah sudah berganti sebanyak empat kali. Jabatan wakil kepala sekolah keempat diduduki oleh Ibu Julia, yang terkenal sebagai orang yang disiplin dan sangat cerewet. Namun kalah juga di hadapan Ibu Atikus, karena dengan mudah dan seenaknya ia mengatur wakil kepala sekolah. Ibu Atikus selalu berkelit bahwa ini mandat kepala sekolah. Tentulah tak ada yang berani melawan pimpinan.

Ibu Julia adalah tipe orang yang agak perfeksionis. Ia selalu ingin memperbaiki ketidak-benaran. Orang yang ingin memperbaiki ketidak-benaran, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menemukan ketidak-benaran. Jika sudah mendapatkan ketidak-benaran, maka tugas selanjutnya adalah membuatnya menjadi benar. Inilah prinsip Ibu Julia. Setiap ada masalah, selalu ia menanganinya: mencari solusi dan menyelesaikannya. Dia tidak mau membiarkan waktu yang menyelesaikan masalah.

Karena itu, sejak kedatangannya di sekolah itu, ia memperhatikan kehidupan sekolah. Dia melihat ada begitu banyak ketidakberesan di sekolah, dimulai dari soal aturan-aturan, kebijakan-kebijakan hingga masalah keuangan sekolah. Awalnya ia menyampaikan masalah itu ke kepala sekolah, namun tidak ada reaksi. Maka dari itu, di setiap rapat atau pertemuan, ia menyuarakan ketidakberesan itu.

Rabu, 10 Maret 2021

SEBUAH INSPIRASI DARI METROMINI


 

Bagi warga kota Jakarta, tentu sudah tak asing dengan metromini, salah satu transportasi favorit ibukota. Sekalipun keadaan body bagian dalam babak belur, namun warga masih mengandalkannya, termasuk saya. Sudah menjadi kebiasaan saya, kalau bepergian arah Grogol, selalu menggunakan Metromini 91. Saya suka naik metromini ini karena larinya laju, bahkan terkesan ugal-ugalan.

Umumnya setiap metromini terdiri dari seorang sopir dan seorang kenek. Bisa dikatakan bahwa sopir merupakan kepalanya, sedangkan kenek adalah bawahannya. Karena itu, sering kita dengar sopir memarahi kenek bila ada kekeliruan; sesuatu yang tak mungkin ditemukan jika kenek marah kepada sopir. Namun, terkadang terlihat juga bahwa kenek itu menjadi rekan kerja sopir.

Tugas sopir hanyalah mengendarai metromini. Dia tidak dipusingkan dengan urusan lain. Tugas lain dia serahkan kepada rekannya. Sekalipun posisinya lebih tinggi dari keneknya, dia taat kepada kenek jika rekannya itu memintanya untuk berhenti saat ada penumpang turun atau naik. Karena fokus pada kemudi, maka kebanyakan metromini lari dengan laju di antara kepadatan jalanan raya ibukota. Bahkan ia berani menyelip-nyelip kendaraan lain.

Tugas utama kenek ada tiga jenis. Pertama, ia mencari penumpang di jalanan dengan cara berteriak-teriak menyebutkan tujuan metromini itu. Jika ada, segera ia memberitahu sopir (atasannya). Kedua, membantu menaikan dan menurunkan penumpang. Kenek yang lebih dahulu tahu penumpang hendak turun dimana; dan ia segera menyampaikannya kepada sopir (tidak disimpan sendiri). Ketiga, mengatur ongkos. Dia mendapat kepercayaan penuh dari sopir untuk meminta ongkos dari penumpang. Sopir tidak curiga kalau uang itu akan sedikit ditilep oleh rekannya.

Selasa, 09 Maret 2021

MEREKA-REKA ASAL VIRUS, SEBUAH TEORI


 

Ketika wabah corona merebak, bukan hanya ketakutan dan kecemasan yang muncul, melainkan juga pertanyaan dari mana virus corona (covid-19) itu berasal. Jawaban atas pertanyaan ini tentulah beragam, berdasarkan tingkatan manusia. Jika pertanyaan ini diajukan ke anak SD, mereka mungkin akan menjawab: “dari Wuhan”. Anak SMP mungkin akan menjawab: “dari kalelawar”, sedangkan jawaban anak SMA mungkin: “dari kebiasaan buruk manusia yang tak jaga kebersihan.”

Kaum agamawan tentu punya jawaban sendiri. Pasti ada yang mengatakan bahwa virus itu datang dari Tuhan. Hal ini didasarkan pada kata-kata Allah dalam kitab suci bahwa setiap bencana, musibah atau juga wabah terjadi atas kehendak atau izin Allah (QS 10: 107 dan QS 57: 22). Virus Covid-19 tidak akan muncul jika tidak diizinkan Allah. Dan kaum agamawan mengaitkan bencana ini dengan dosa manusia. Karena itu, tak heran bila ada tokoh agama yang mengajak umatnya untuk tidak takut akan wabah corona, karena umat hanya takut kepada Allah saja.

Bagi para ilmuwan tentulah semua jawaban di atas tidak sangat memuaskan. mereka tidak mau mencari kambing-hitam, dengan hanya menyalahkan orang Wuhan atau kalelawar atau bahkan Tuhan. Maka dari itu, para ilmuwan ini masih terus melakukan pencarian dan penelitian.

Pertanyaan ini sebenarnya bukan baru pertama kali muncul di saat adanya wabah corona. Sejak muncul berbagai penyakit menakutkan yang disebabkan virus, seperti HIV-AIDS, ebola, sars dan mers, pertanyaan dari mana datangnya virus sudah ada. Namun hingga kini tak ada jawaban yang cukup memuaskan. Untuk itulah, kami hendak berspekulasi.

Satu asumsi dasar yang pasti diterima umum adalah “dalam kehidupan manusia ada banyak bibit atau benih penyakit di sekitarnya. Ketika manusia berhasil mengelola bibit tersebut dengan baik dan benar, maka penyakit akan terhindari. Namun jika benih penyakit tidak ditangani dengan baik dan benar, maka muncullah aneka penyakit.” Jadi, harus disadari bahwa saat ini, kapan dan dimana saja kita berada, kita hidup bersama dengan bibit-bibit penyakit (kecuali kalau kita berada di daerah steril). Penanganan atau pengelolaan itu menyangkut internal dan eksternal. Internal adalah ketika manusia menjaga kesehatan dirinya dengan pola hidup dan pola makan yang baik dan benar sehingga membangkitkan ketahanan tubuhnya. Eksternal adalah ketika manusia menjaga kebersihan lingkungannya dengan baik dan benar.