Rabu, 04 November 2020

INSPIRASI KISAH KASIH IBU


"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga.

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak sambil berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku, ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."

Selasa, 03 November 2020

SEMUA AGAMA MENGAJARKAN KEBAIKAN

Dalam perdebatan soal agama di media sosial – kami menilainya lebih ke arah penghinaan – selalu saja muncul pernyataan seperti ini: “Semua agama mengajarkan kebaikan”. Dapatlah dipastikan bahwa pernyataan tersebut bertujuan untuk meredam perdebatan, yang memang sudah mengarah kepada saling hina antar pemeluk agama. Dengan demikian, pernyataan tersebut mempunyai nilai positif.
Akan tetapi, menjadi menarik jika pernyataan itu direnungkan dan dikritisi dengan lebih mendalam. Apabila dikritisi dan direnungkan dengan hati dan budi, maka akan ditemui bahwa ternyata pernyataan itu bukanlah pernyataan final. Ia tidak berakhir dengan titik tetapi koma. Artinya, memang tidak salah bila dikatakan bahwa semua agama di dunia ini mengajarkan kebaikan kepada umatnya, namun itu tidak sepenuhnya benar, karena masih ada agama yang juga mengajarkan ketidak-baikan atau kejahatan. Agama itu adalah agama islam.
Memang benar bahwa agama islam mengajarkan kebaikan, namun ia juga mengajarkan kejahatan (lawan dari kebaikan itu sendiri). Semua ajarannya itu ditujukan kepada para pemeluknya. Jadi, umat islam mempunyai kewajiban untuk melaksanakan apa yang sudah menjadi ajaran agamanya.
Benarkah islam mengajarkan ketidak-baikan atau kejahatan? Pertama-tama harus diketahui bahwa sumber utama ajaran islam adalah Al-Qur’an dan hadis. Al-Qur’an diyakini merupakan wahyu Allah SWT yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Sedangkan hadis merupakan ajaran berupa perkataan, perbuatan, sikap hidup, tingkah laku atau perilaku nabi Muhammad SAW. Dasar bahwa semua yang menyangkut kehidupan dan kepribadian nabi Muhammad dijadikan ajaran adalah karena Muhammad adalah teladan hidup yang agung.

Minggu, 01 November 2020

ISLAM DAN PANCASILA


Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Ia merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena itulah, darinya lahir produk-produk hukum negara. Setiap warga negara Indonesia wajib menerima dan menghayati nilai-nilai Pancasila. Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa selalu saja ada pihak-pihak yang berusaha untuk melenyapkan Pancasila dan berusaha menggantikan posisinya. Setidaknya ada 2 pihak yang memiliki niat tersebut, yaitu Partai Komunis Indonesia, yang hendak menggantikan Pancasila dengan ideologi komunisme, dan umat islam, yang mau menggantikan Pancasila dengan agama islam sebagai dasar negara.

Sekalipun demikian, banyak tokoh islam menyatakan bahwa agamanya paling pancasilais, atau nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan islam. Benarkah demikian?

Pancasila mempunyai 5 norma dasar, yang dikenal dengan istilah 5 sila. Sangat menarik para bapa bangsa menempatkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama. Dari sila inilah, sila-sila lain mengambil spiritnya. Sila pertama ini pertama-tama menempatkan warga Indonesia untuk percaya dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Akan tetapi, sikap percaya dan takwa kepada Tuhan ini harus ditampakkan kepada sesama manusia dalam sikap saling hormat, bekerja sama antar warga negara, yang berbeda agama, membina kerukunan hidup, toleransi, menghormati kebebasan menjalankan ibadah dan tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain. Apalah artinya bersikap positif kepada Tuhan sementara kepada sesama bersikap negatif?

Dengan demikian, kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa menuntut warga Indonesia untuk memuliakan Allah dengan mengangkat harkat martabat manusia. Dari sinilah warga Indonesia dapat mewujudkan norma-norma lain dari Pancasila. Orang yang percaya kepada Tuhan akan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, mengakui persamaan hak dan kewajiban asasi, mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira, tidak semena-mena terhadap orang lain (butir-butir sila kedua Pancasila). Dengan percaya kepada Tuhan, orang Indonesia harus mampu menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok, mengembangkan persatuan dan kerukunan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika (butir-butir sila ketiga Pancasila). Selain itu, yang percaya kepada Tuhan juga tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain, mengutamakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan demi kepentingan bersama dan berusaha untuk menerima dengan itikad baik dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan (butir-butir sila keempat Pancasila). Terakhir, orang yang percaya kepada Tuhan harus mengembangkan perbuatan luhur seperti sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak orang lain (butir-butir sila kelima Pancasila).

Bagaimana dengan islam? Pertama-tama iman kepada Tuhan yang Maha Esa perlu digugat. Memang selalu terdengar konsep tauhid sehingga umat islam menyatakan bahwa agamanya percaya pada Tuhan yang Maha Esa. Umumnya orang memahami “esa” itu “satu”. Nah sungguhkah Tuhannya islam itu satu? Telaah linguistik atas ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa Allah islam itu ada dua. Ambil contoh surah al-Baqarah: 33 – 34. Dalam 2 ayat yang saling berkaitan ini, Allah yang berfirman menggunakan 2 kata ganti, yaitu Dia (ay. 33) dan Kami (ay. 34). Dalam tata bahasa mana pun, kata “kami” adalah kata ganti orang ketiga jamak, lebih dari satu. Dalam kata “kami” bisa termasuk saya dan engkau, bisa juga saya, engkau dan dia, atau hanya saya dan dia. Jadi, dalam kutipan 2 ayat itu, kata Kami (ay. 34) mau menerangkan Allah yang berfirman dengan Allah lain yang disebutkan-Nya dalam ay. 33 dengan memakai kata ganti Dia. Sangatlah jelas bahwa kata “Kami” yang digunakan di sini benar-benar menggambarkan kejamakan, bukan memperhalus kata.

Dengan demikian, terdapat dilematik pemahaman keesaan Allah dalam islam. Di satu sisi islam menganut konsep “tiada Tuhan selain Allah”, yang biasa dikenal dengan istilah tauhid. Konsep ini ditegaskan juga dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dan konsep inilah yang dominan dihayati umat islam. Namun di sisi lain, jika Al-Qur’an, yang menjadi sumber dan pusat iman islam, dicermati secara kritis, Allah islam itu bukan satu melainkan dua. Jika memang benar dua, maka dapat dipastikan islam bertentangan dengan sila pertama Pancasila.