Rabu, 06 Mei 2020

SMS DARI MAMA


Hari ini, 6 Mei 2020, tepat pukul 10:59:56, sebuah pesan singkat (SMS) masuk di handphone-ku. Terbaca di layar “my mother”. Segera kubuka. Sebuah renungan mendalam dari mamaku. Inilah yang ditulisnya:

Kujalani hidup ini, banyak liku-liku. Kucoba, kurenungkan mengapakah harus terjadi begini?

Hari berlalu, bulan berlalu. Hati bertanya sampai kapankah ini berlalu?

Saya berpikir kembali hidup adalah sebuah perjuangan, maka hadapilah dengan tenang.

Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah.

Kadangkala  mama berpikir dengan tersenyum, betapa besar kuasa Allah dan cinta kasih-Nya tak berkesudahan; membuat hati ini tenang kembali.

Di saat suasana seperti ini, mama mendapat perlindungan dan pelayanan yang baik. Sungguh luar biasa.

Tak disangka ini memang benar-benar campur tangan Tuhan di dalam hidup saya. Ini benar-benar tak terlupakan dalam hidup mama.

Hidup itu adalah sebuah cinta, maka nikmatilah.

Nak, inilah yang harus selalu kita perjuangkan di dalam hidup ini. Maka itu, bersyukurlah selalu pada Tuhan; mohon berkat dan perlindungan-Nya.

Tuhan selalu bersama kita. Amin.
Dabo Singkep, 6 Mei 2020

Selasa, 05 Mei 2020

MEJA KERJA BERANTAKAN BISA MEMICU STRESS

Staples pernah melakukan survei terhadap 2.000 pekerja di Inggris. Survei tersebut hendak mengetahui kaitan antara kondisi ruang kerja (meja kerja) dengan timbulnya stress. Asumsi dasar survei ini adalah bahwa  kondisi psikis manusia dapat juga ditentukan oleh faktor eksternal. Dari penelitian yang dilakukan Staples itu terungkap bahwa hampir setengah dari seluruh jumlah pekerja di Inggris memiliki meja kerja yang berantakan. Sepertiganya memiliki meja kerja berisi makanan yang sudah setengah habis, sampah bungkusan makanan dan botol, serta hampir setengahnya meninggalkan cangkir dan piring kotor di meja kerja. Bahkan 1 dari 20 pekerja meninggalkan piring kotornya di meja selama 3 hari atau lebih. Hal ini memicu timbulnya masalah dengan rekan kerja, peringatan dari atasan, bahkan meningkatkan risiko stres.
Survei yang dibuat Staples ini mungkin hanya menyentuh ruang kerja yang berpendingin. Bisa dibayangkan bila survei juga menyentuh para pekerja yang bekerja di ruang yang tak memiliki alat pendingin ruangan. Sampah yang menumpuk bisa dalam wujud puntung rokok.
Staples memberikan gambaran tentang keadaan tempat kerja para responden. Rata-rata 19 lembar kertas tidak terpakai tergeletak di meja pekerja Inggris. Empatpuluh delapan persen pekerja bahkan kesulitan menemukan dokumen penting akibat mejanya tidak terorganisir dengan baik. Sementara 10 persen pekerja Inggris mengakui terakhir mereka merapikan meja kerja adalah sekitar 6 bulan yang lalu.
Meja kerja yang berantakan sebenarnya tidak luput dari perhatian atasan. Seperempat dari responden mengaku pernah menerima peringatan dari atasannya, bahkan 1 dari 10 pekerja menerima peringatan secara resmi.

Senin, 04 Mei 2020

MEMAHAMI PERSOALAN DEPRESI

Depresi merupakan salah satu jenis gangguan mental. Setiap orang berpeluang mengalaminya. Banyak dari kita kebingungan untuk membedakan antara depresi, stress dan kesedihan. Belum lagi membedakan beberapa jenis dari depresi, misalnya unipolar depression, biological depression, manic depression, seasonal affective disorder, dysthymia, dan lainnya. Ada begitu banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan tentang depresi. Sekarang saatnya kita mengetahui apa itu depresi, dengan tujuan memudahkan seseorang atau diri anda ketika mengalami depresi.
Umumnya depresi dipahami sebagai gangguan mood, yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Orang yang mengalami depresi akan merasa tidak berdaya dan kehilangan harapan, yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi sehingga mudah lelah dan berkurangnya aktivitas.
Apa yang menjadi penyebab munculnya depresi pada seseorang? Setidaknya ada 3 faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Ketiga faktor itu adalah: faktor biologi, faktor genetik dan faktor psiko sosial.
Faktor Biologi
Dalam penelitian bio-psikologi, norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmitter yang paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood. Beberapa peneliti juga menemukan bahwa gangguan mood melibatkan patologik dan sistem limbiks serta ganglia basalis dan hypothalamus.
Faktor Genetik
Data genetik menyatakan bahwa faktor yang signifikan dalam perkembangan gangguan mood adalah genetik. Pada penelitian anak kembar terhadap gangguan depresi berat, pada anak kembar monozigot adalah 50%, sedangkan dizigot 10 – 25%.